Rabu, 21 April 2021

#SingleOnSite - Episode 10 Overrated

    Tak sabar, gadis itu mulai berselancar di setiap folder dalam diska lepas yang diberikan Jendra. Tirai jendela ia buka dengan setengah tenaga kaki, dan posisi jemarinya sudah lincah menelanjangi setiap materi yang nyaris tak ia mengerti. Sekar menggaruk-garuk kepala, mengacak-acak rambut, gelisah memutar badan ke kiri dan ke kanan, otaknya berlarian namun tak mampu menemukan tujuan, ia frustasi.
    Beranjak ke kamar mandi, menyikat gigi, membasuh wajah, mengoleskan sedikit pelembab bibir, lalu menyemprotkan body mist vanilla andalannya, Sekar dengan percaya diri keluar kamar. 
    "Mau kemana?" Jube yang masih duduk di lobby langsung menjagal pergerakan Sekar.
    "Ke gedung sebelah."
    "Ngapain?"
    "Datengin Jendra."
    "Ikut."
    "Ngapain ikut?"
    "Pengen aja."
    "Oh." Sekar tidak keberatan, pun tidak jua mengiyakan, gadis itu hanya berlalu tanpa peduli permintaan Jube. Namun Jube tak ambil pusing, ia tetap mengekori Sekar.
    Dari balik pintu, Acay muncul.
    "Kenapa?" Hanya itu yang keluar dari mulut Acay secara spontan, Sekar menunjuk dengan mulut ke arah kepala berambut lebat di belakang Acay, Jendra sudah siap di sana. Acay menggeser posisinya, lalu mundur teratur dan membiarkan Jendra menghadapi gadis itu. Mereka berbincang dengan suara yang bahkan sulit didengar oleh seekor semut, kecil sekali. Berkali-kali Jendra menoleh ke arah Acay yang duduk di kasurnya, lalu melanjutkan obrolannya dengan Sekar yang seolah-olah adalah rahasia. 
    "Bang*at" batin Acay, siapapun akan merasa sedang menjadi bahan gunjing jika melihat tindak-tanduk dua orang yang berdiri di depan pintu itu.
    Melihat keadaan itu, Jube urung lanjut mengekori Sekar. Ia berhenti tepat sebelum melewati koridor kamar Jendra. Ia tak mendekat, namun menguping. Suara samar-samar yang mengunjungi telinganya semaksimal mungkin ia perangkap dalam memori, ia terdorong rasa penasaran yang entah mengapa.
    Hampir melewati menit kelima belas, barulah Sekar beranjak dari depan pintu itu. Ia kembalikan diska lepas yang diberikan Jendra, melangkah dengan penuh percaya diri meninggalkan lelaki itu.
    Jube berpura-pura fokus pada ponselnya, matanya menatap layar tanpa berkedip, namun pikirannya sedang berkutat pada rencana Sekar dan Jendra yang ia dengar samar-samar.

***

    Tiba di kamar, seharusnya Sekar langsung bersiap. Beberapa saat lagi Jendra sudah tentu akan menggedor pintu atau memberi kode via telpon. Namun, Sekar masih mondar-mandir dengan menggigit jari sembari tampak berpikir keras. Hingga 10 menit kemudian.
    "HP kutinggal ya be, tolong kalau Hanur telpon bilang aku tidur atau cari alasan lain yang lebih masuk akal." Sekar langsung menyerahkan ponselnya dan bergegas bersiap. Keganjilan yang dirasakan Jube ialah saat Sekar sudah keluar dari kamar mandi dan mengenakan seragam kerja lengkap lalu pamit keluar kamar dengan terburu-buru. Kepala Jube dipenuhi teka-teki.
    Langsung berlari menuju tempat parkir, bersembunyi di sela-sela deretan mobil yang terparkir agar tak terlihat, Sekar mengintip kalau-kalau ada seseorang yang ia takuti akan lewat. Lama gadis itu bertingkah seperti mata-mata, namun yang ditunggu tak kunjung tiba. 
    "Kunci mobil?"
    "Di laci."
    "Nggak ada."
    "Di meja."
    "Nggak ada juga."
    "Di kamar Taji kali."
    "Cay."
    "Yang pake terakhir kan kamu." Acay tampak lebih serius.
    Kunci mobil belum ditemukan, tetapi waktu tak bisa menunggu. Jendra langsung menuju kantin menemui Latif, koki sekaligus juru beragam kunci serep. Dengan sedikit bahasa manis, lelaki kemayu di depannya itu sigap menyodorkan apa yang Jendra mau. Tentunya dengan iming-iming hadiah kecil. Jendra meninggalkan Latif yang tak lupa melambai-lambaikan tangan manja ke arahnya. 
    "Ampuni dosa hamba Tuhan." Jendra bergidik.
    Lampu dim yang menyala sekaligus suara kunci pintu mobil terbuka mengagetkan Sekar. Ia sekonyong-konyong masuk ke dalam mobil tanpa aba-aba.
    "Takut sama siapa sih?"
    "Hushhh."
    Jendra hanya tersenyum lalu melajukan kemudinya setelah membunyikan klakson dua kali.

***

    "Jangan nekat kalau ragu-ragu." Obrolan canggung itu dimulai Jendra dengan terpaksa, ia turut resah melihat perempuan disampingnya sibuk menggoyang-goyangkan kaki, menggigit-gigit kuku, melarikan pandangan ke depan dan ke kiri, otaknya jelas sekali tidak berada di mobil ini.
    "Apa kita balik aja?" Jendra mendadak menginjak rem.
    "Eee jangan-jangan."
    "Mikirin apa sih?"
    "Pak Beno overrated nggak sih ke aku? Kok aku ngerasa dia terlalu berharap banyak ya."
    "Gila ya, overthinking tengah hari bolong."
    "Nggak dosa kan ya?"
    "Kamu mau tahu isi otak Pak Beno?"
    "Gimana caranya?"
    Ditemani suara sayup-sayup merdu dokter Marygold dari radio, mobil itu melaju kencang.

***

    Keberatan? Cemburu? Risih? Acay mencari-cari kata yang tepat untuk mewakili apa yang ia rasakan sekarang. "Dasar player, siapa aja asal cewek pasti diembat." Merutuk dalam hati, kesal bukan main, dan anehnya itu muncul begitu saja untuk lelaki yang sudah ia kenal cukup lama, dan untuk perempuan yang secara keseluruhan bahkan hanya ia tahu namanya. Jendra dan Sekar, dua orang yang mengacaukan hari liburnya.
    Tak lama perasaan itu menempel dalam dadanya, ia buang seketika. Kesadaran akan rasa ilfil pada perempuan itu ia tumbuhkan kembali pelan-pelan. Mengingat bagaimana Sekar bertingkah sok cantik, mengingat bagaimana perempuan itu tergesa-gesa mengejar bus, mengingat bagaimana posisinya akan digantikan, mengingat bagaimana Sekar menangis, mengingat bagaimana Sekar menjadi sasaran empuk mulut manis Jendra membuat Acay berhasil mengembangkan perasaan "ogah banget" dengan Sekar. Ya, berhasil walau sepertinya tidaklah sepenuhnya.

***

    Di kamar berbeda, Jube banyak berpikir. Ia sukar membuang perasaan curiganya pada kawannya itu. "Diam-diam apa dia mulai bergerilya sama beberapa orang? Hanur, siapa lagi ini? Dan kenapa dia harus takut?" Batin Jube yang menimbang-nimbang ponsel Sekar di tangannya.
    Jube pun menyelami berbagai kemungkinan-kemungkinan yang membuat otaknya penuh. Ia kesal sendiri ketika berpikir bahwa Sekar kini lebih tertutup kepadanya. Pergerakan yang sulit ditebak, sikap tenang yang justru membuat Jube sebagai sahabatnya geram bukan kepalang.

***

    Bukannya ke Tambang, Jendra justru menghentikan mobilnya di Main Office. Lalu ia pun tak menuju kubikal tempat ia biasa bekerja ketika mengunjungi Main Office, namun justru menarik Sekar untuk ke ruangan Pak Beno. Kunci ruangan yang memang dengan sengaja diberikan Pak Beno pada Jendra sebagai orang kepercayaan, kali ini disalahgunakan. Bukan kali ini, lebih tepatnya seringkali.
    "Mau ngapain sih?" Sekar belum jauh dari perasaan gelisahnya.
    "Sini." Jendra menarik Sekar untuk duduk di depan layar komputer Pak Beno. Pak Beno memang dikenal unik, dia selalu keberatan jika harus bekerja menggunakan laptop, karena itulah ia masih nyaman menggunakan PC jadul yang ketika dipasangi teknologi terkini sudah pasti keok. Namun, kejadulan inilah yang membuat Jendra dengan mudah mengakses isi kepala Pak Beno.
    Surel-surel rahasia perusahaan hingga surel pribadi, jadwal promosi, syarat promosi, soal-soal test promosi, syarat khusus naik jabatan, tagihan telpon, tagihan kartu kredit, tunggakan cicilan rumah, file-file rahasia, hingga isi pesan whatsapp yang selalu aktif di whatsapp web mudah sekali Jendra dapatkan. Bahkan nilai gaji Pak Beno beserta bonusnya Jendra sudah hapal di luar kepala.
    "Dasar kriminal." Sekar langsung beranjak hendak menjauhi kursi setan itu. Jendra mencegahnya.
    "Kita cari yang kamu mau tahu." Jendra langsung mengarahkan layar pada surel Pak Beno. Dalam kolom pencarian ia menulis nama Dewi Sekar Taji. Langsung muncul beberapa hasil yang isinya membuat Sekar melongo.
    "Taji akan berkembang di sini, dan alasan Mbak Ghea kurang masuk akal buat saya." Beno Silangit - Geology Dept. Head.
    "Jika penggantinya adalah orang buangan, saya rasa anda yang kurang bijak." Ghea Rantung - Finance Dept. Head.
    "Kalau Mbak Ghea menolak Mas Aksar, maka Mbak Taji akan kami pindahkan ke tim geology tanpa pengganti." Al-Ayyubi - Human Capital Head Indonesia.
    Kali ini Jendra dan Sekar saling pandang, mereka berbagi telepati, memikirkan hal serupa, ketidaknyamanan, ketakutan Sekar akan harapan yang tinggi dari seorang Beno seolah menjadikannya ditukar cuma-cuma oleh Ghea. Ia bukan menggantikan Acay, dan itu adalah masalah.


To be continue...

L.M.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts