Sabtu, 09 Oktober 2021

Menjadi Penulis - Catatan

Jika dirunut, kapan kali pertama menjadi penulis disebut sebagai cita-cita? SD? SMP? SMK? Atau setelah dewasa?

Sejak kecil aku memang terbiasa membaca, dan bacaan yang kala itu yang hampir tak pernah terlewat setiap halamannya ialah Majalah Bobo. Itu adalah majalah dengan materi bacaan terbaik pertama yang kukenal, tentunya selain pelajaran sekolah. 
Di kelas 5 SD aku punya wali kelas bernama Khairil Anwar, seperti namanya, Pak Iril-panggilan yang sering kami pakai memang seperti seorang "Khairil Anwar". Bukan hanya kesamaan nama, tetapi beliau mengagumi sosok itu dan gemar menulis pula. Semua itu aku sadari saat mulai mengenal beliau cukup dekat karena aku adalah murid ranking pertama di kelas. Pernah suatu waktu, aku diminta membawakan sebuah sambutan untuk siswa yang ditinggalkan di acara perpisahan. Dan sebelum tampil, beliau meminjamkan sebuah buku catatan, cukup usang karena ditulis di tahun yang bahkan aku belum lahir. Buku itu berisi catatan-catatan kecil, puisi, cerita, banyak hal yang dikemas dalam kalimat-kalimat manis yang sangat amat jarang kudengar. Salah satu karya terbaik dalam buku catatan itu yang masih kuingat hingga sekarang ialah "Surat Untuk Yuni".

Kepada Yuni di Peristirahatan.
Betapa beratnya hidupku yang terasa panjang ini tanpa kehadiranmu.

Panjang surat itu dituliskan, surat patah hati pertama yang kubaca namun tak merasa sesak. Membaca tulisan itu hatiku menghangat. Lalu, dengan semangatnya aku menuliskan hal-hal serupa di buku diaryku. Setelah itu aku bertekad ingin membuat tulisan-tulisan indah, walaupun aku belum mengalami cinta-cinta seperti kawan-kawan sekelasku yang lain.

Sedari kecil, orang tuaku selalu mendorongku untuk tampil. Dari yang kuingat, pertama kali aku bernyanyi di panggung besar, menyanyikan lagu dangdut di malam 17 an, dengan iming-iming uang 10 ribu rupiah. Dari sana aku yang berusia 8 tahun jadi banci tampil. Bernyanyi dimanapun ada kesempatan dan menyelipkan sedikit cita-cita ingin menjadi penyanyi.

Di masa SD aku pun pernah ingin menjadi Pengacara, karena kupikir itu pekerjaan yang keren. Penuh percaya diri, cerdas, hapal pasal-pasal yang kala itu kuanggap sebagai hal istimewa. Ditambah, aku melihat Bang Poltak Rohut Sitompul yang kala itu bermain dalam sinetron Gerhana. Jadilah menjadi pengacara adalah hal yang berani aku katakan sebagai cita-cita, karena jika menjadi penyanyi atau penulis rasanya aku takut akan menjadi bahan bully di kelas.

Beranjak SMP aku bersekolah di salah satu sekolah yang punya perpustakaan bagus, saat itu cukup lengkap isinya termasuk novel-novel bagus. Aku yang sebelumnya gemar membaca cerpen, cerita bersambung, maupun dongeng di Majalah Bobo mulai menjadi jalan lain untuk menuntaskan kecanduan membacaku. Jalan ninja saat itu adalah membaca novel.

Layar terkembang, kasih tak sampai, cantik itu luka, tenggelamnya kapal van der wijk, dan lain-lain menjadi titik awal aku menyukai novel. Dan disaat itulah tumbuh keinginan menjadi penulis yang lebih kuat. Aku mulai belajar menulis adegan, dimulai dari percakapan sehari-hari teman sekelasku, termasuk memperhatikan pergerakan mereka. Aku yakin di masa depan aku sukses menjadi penulis, setidaknya kenaifan masa SMP ku seperti itulah.

Aku sempat mengalami krisis ketika kelas 3 SMP hingga transisiku menuju SMK, krisis yang tak bisa kutuliskan. Hanya saja saat itu semua menyedihkan, bahkan pilihan untuk tidak lanjut sekolah pernah ingin aku tempuh. Tetapi, ibukku selalu memaksa untuk aku sekolah. Oke, jadilah SMK jurusan Teknik Mekanik Otomotif menjadi pilihanku. Cukup aneh bagiku yang secara akademis lebih menonjol pada bahasa dan seni tetapi mempelajari ilmu pasti. Di SMK, pola pikirku mengenai cita-cita direset. Aku menjadi lebih realistis dan mulai paham apa yang akan terjadi di hidupku dalam waktu dekat, setelah lulus. Ya, pada akhirnya bekerja di tambang menjadi cita-citaku saat itu, cita-cita jangka pendek, dengan ekspektasi gaji UMR atau sekedar agar bisa menyambung hidup. 

Singkatnya, aku langsung bekerja hingga sekarang terhitung 10 tahun sudah. Tetapi, keinginan menjadi pengacara, penulis, penyanyi, tidak pernah hilang dari kepala. Aku menempuh kuliah S1 ilmu hukum selama 4 tahun, aku menulis setiap hari bahkan mengikuti seminar-seminar dan workshop menulis lalu menyelesaikan naskah dan mengirimkannya ke publisher walaupun belum berhasil, aku sempat belajar vokal di sekolah musik, semua itu sulit kuhilangkan dalam benakku. Bahkan kini, aku mulai mempelajari hal menyenangkan lain yaitu presenting.

Tetapi, dari semua hal aku tetap ingin menjadi penulis. Aku ingin membuat karya. Aku ingin hidup selamanya. :)



L.M.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts