Rabu, 06 Oktober 2021

3

Seolah, melarikan diri adalah pilihan satu-satunya. Lalu dengan itu Taji berharap ia berhasil keluar dari bayang-bayang pertemuan menyebalkannya tempo hari dengan seseorang. Orang yang sayangnya sulit ia benci walaupun ia punya banyak alasan melakukannya. Jogja, lagi-lagi menjadi pilihannya kali kesekian. Bukan untuk menikmati kotanya yang nyaman, bukan pula berniat offroad di gunung merapi, atau menjejaki satu persatu keindahan di pantai selatan. Bukan. Kali ini Taji punya misi lain.

Tiba di Bandara Adi Sutjipto pukul 11 siang, Taji disambut para supir taksi dan travel yang menawarkan jasa. Perempuan dengan kacamata hitam dan rambut tergerai sebahu itu memilih mampir di sebuah kedai kopi di kanan pintu keluar dan menunggu waktu yang tepat untuk beranjak agar pas dengan jam check-in nya di hotel. Memesan segelas latte dan sebuah sandwich, Taji menikmati waktu itu dengan perasaan tak keruan. Di satu waktu hatinya menghangat tentram dan penuh semangat, di waktu yang lain ia merasa kesepian dan bertanya-tanya apakah yang ia lakukan sudah tepat atau tidak, tak jarang kedua perasaan bertolakbelakang itu menyerangnya bersamaan hingga ia ingin berteriak dengan lantang. Taji menunduk, menumpuk kedua lengannya di atas kepala, kebingungan menahan perasaan yang ingin tumpah ruah namun tak mungkin ia lepaskan di keramaian.

"Mbak Taji?" Suara seorang lelaki berbarengan dengan sentuhan di pundak sebelah kirinya memaksa Taji menegakkan kepala. 

"Iya." 

"Hanur mbak. Ingat?"

"Suboffice?"

"Iya mbak. Pulang kampung?"

"Nggak, cuma liburan."

"Sendiri?" Hanur mengedarkan pandangannya.

"Iya, mau nemenin?" Taji berniat bercanda.

"Boleh mbak, saya juga nggak sibuk." Taji tertawa mendengar jawaban itu lalu menjelaskan kegiatannya di Jogja.

"Nggak mas, kayaknya kegiatanku bakal padat, karena ada workshop nulis."

"Oh ya? Di daerah mana?"

"Taman Budaya."

"Oh iya, kabarin aja kalau mbaknya perlu ojek atau tour guide. Saya available selama disini."

"Makasih mas." Taji tersenyum sungkan. Beberapa saat setelah mengobrol, akhirnya Hanur pamit.

Berbincang dengan Hanur tanpa sadar membuat Taji sedikit lupa dengan keresahannya beberapa saat sebelumnya. Ia lebih tenang, saat ia sadari perasaannya itu Taji tersenyum. Ternyata lelaki yang sepertinya beberapa tahun lebih muda itu cukup asik mejadi teman mengobrol.

Menyeret koper, Taji bergegas menuju salah satu hotel di kawasan Taman Budaya yang sudah ia pesan 2 hari sebelumnya. Hotel populer dengan review terbaik sengaja ia pilih, agar ia benar-benar merasa sedang berlibur. 


***



Suara sirine mobil patroli beradu dengan suara mas-mas penjaja kerupuk yang mengetuk setiap kaca jendela mobil. Vimana yang terjebak tepat di belakang mobil sport single cabin berwarna putih tengah melamun dengan kaki kanan menahan keseimbangan motor honda tua tahun 1988 yang ia beli murah dari kawan yang mutasi. Lamunan usang tentang orang yang membuang-buang uang dengan memakai mobil mahal di pelosok, sangat tidak efektif, batinnya. Setelah lampu hijau menyala, Vimana lanjut mengelilingi kota melewati jalan-jalan tikus dan disaat itulah waktu bagi Vimana untuk berpikir.

Daripada kuliah S2, Vimana lebih ingin menikah. Sepulang bekerja disambut perempuan cantik berhijab yang menggendong anaknya, hidangan makan malam yang sudah tersedia, kopi hitam dan kudapan yang menemaninya merenungkan malam, hari minggu menyenangkan yang diisi jalan-jalan kecil di pendopo sambil melihat-lihat orang-orang mengantre makanan dan olahraga. Tidak lupa, ia tengah bermain dengan anak lelaki kecil nan lucu di atas rumput hijau di bawah pohon ketapang. Itu masa esok yang lebih ia inginkan, menjadi biasa-biasa saja. Tetapi, lamunan sederhana itu kembali rusak dengan suara Warsi yang terngiang-ngiang di kepalanya. Suara-suara bermode template yang kata perkata ia hapal setengah mati. Anehnya, sekalipun terganggu Vimana tetap rindu. Ia kangen Jogja.

Sebelum melanjutkan pikirannya, Vimana yang kini tengah berhenti tepat di bawah pohon beringin di depan masjid besar merogoh sakunya yang bergetar. Jendra.

"Opo jend?"

"Dimana kau lay?"

"Semedi."

"Jadi tidak?"

"Apanya?"

"Sudah pikun kau? Marrygold."

"Beneran jadi?"

"Cepat sudah."

"15 menit."

Vimana tanpa pikir panjang melajukan motornya. Pikirannya sudah tidak normal, hatinya berbunga-bunga, perutnya mulas berdebar, sesekali ia merinding membayangkan momen yang beberapa menit lagi akan terjadi. Bertemu dr Marrygold, idolanya.

Kurang dari 15 menit, motor tua itu berhasil menempuh 13 KM. Di parkiran, Jendra sudah rapi menunggu Vimana. 

"Ayok."

"Ganti baju dulu lah." Jendra melirik celana pendek butut berbahan jeans berwarna hitam yang dikenakan Vimana. Memang ia masih terlihat tampan, tapi bertemu idola setelah sekian lama buat Jendra penampilan itu tidak cukup. Setidaknya harus lebih rapi.

"Ga harus pakai kemeja kan?"

"Tuk se do." Jendra ketus. 

Vimana berlari ke kamar dan kembali tak lama setelah itu dengan setelan yang jauh lebih lumayan walaupun alas kakinya masih berupa sandal jepit. Jendra pasrah.

Suara dr Marrygold sudah mengudara di acara kesayangan mereka. Khusus hari minggu, jam siarnya memang berubah menjadi siang hari. Khidmat Vimana mendengarkan kata demi kata sembari membayang wajah seperti apa yang sebentar lagi ia lihat. Ia kesulitan mengatur nafas, jantungnya berdetak kencang sampai ia merasa Jendra bisa mendengarnya. Vimana gelisah, tapi senang, tapi ragu, tapi ah langsung ia singkirkan jauh-jauh kecemasan tidak berdasar yang timbul tenggelam di kepalanya.

"Vim, kalau bu dokter jomblo gimana? Takis nggak?"

"Sinting."

"Kan andai-andai, kau dengar suaranya saja sudah macam cacing lapar."

"Bayangin sebelum tidur didongengin."

"Dasar halu."

"Kamu yang mulai."

"Tak bisa kali kau kupancing ya."

Vimana malah senyum-senyum menghayalkan entah apa. Iseng Jendra mengganti saluran radio ke usb. Terdengar mengalun suara intro dari lagu Killing is my bussiness... and bussiness is good. Jendra dan Vimana bergerak serentak dalam lagu jedag-jedug yang liriknya mereka tak dengar jelas namun mereka sepakat lagu itu punya magis tersendiri. Megadeth, satu-satunya kesamaan kedua pemuda itu.


***


"Wajib mampir lo ya."

"Siap bu."

Belum sempat Taji meluruskan pinggang setelah lelah menempuh perjalanan dan baru selesai membersihkan diri, ia menerima panggilan video dari Warsi. Fasilitator yang akan mengisi workshopnya selama di Jogja. Beberapa kali bertemu dalam workshop menulis di Bali dan Bandung sekaligus menjadi penggemar ulung karya-karya Warsi, Taji beruntung bisa menjadi dekat. Warsi memperlakukannya seperti kawan, bukan penggemar. Dan sudah tentu, saat melihat nama Taji ada di daftar peserta, Warsi bersemangat menyambut gadis itu sebagai tuan rumah. Menghabiskan malam membahas cerita Taji yang tak ada habisnya, kisah cinta ala remaja yang selalu digambarkan Taji super menyakitkan, namun bagi Warsi yang hidup lebih dari setengah abad semua itu hanyalah secuil dari problematika yang tak ada apa-apanya dibanding apa yang akan dihadapi di kehidupan selanjutnya. Keinginan Taji yang tak pernah berujung, ia bangun terus setiap keinginan demi keinginan, ia belajar terus-menerus, Taji yang penuh dengan energi, dan Warsi merasa ada dirinya dalam diri Taji, perempuan muda yang terus belajar sesuatu seolah ia akan hidup selamanya.

"Andai dia adalah putriku."


To be continue..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts