Sabtu, 06 Februari 2021

#SingleOnSite - Episode 6 Gunjing

    Bias, hampir selalu terjadi pada cerita yang dibawa seseorang. Entah apakah murni kesalahan si pencerita ataukah pendengar yang kurang pandai mengartikannya. Namun boleh jadi, cerita yang selalu mengalami perubahan isi disengaja dari satu mulut ke mulut lainnnya lagi. Sayangnya, potensi bias yang tinggi itu didukung oleh cepatnya cerita itu merata. Jika harus diukur, mungkin hanya kecepatan cahaya yang bisa menandinginya.
    Di kantor sedang gaduh. Sekar yang baru turun dari Bus harus disuguhi udara sesak yang penuh dengan kalimat demi kalimat. Satu topik hangat sepertinya sedang ramai menjadi perbincangan, bahkan Sekar merasa tertolong karena surelnya kemarin tertutupi oleh berita lain.
    "Eh Taji, sini." Setengah berbisik Desti memanggil Sekar untuk mendekat. Di kerumunan itu sudah ada beberapa orang yang bersatu-padu membicarakan satu hal. 
    "Aku sih nggak heran, kan dia memang gitu."
    "Tapi ya masa sama punya orang sih."
    "Urat malunya sudah putus itu."
    "Ceweknya sih kalau menurutku yang nggak waras."
    "Sama aja dua-duanya."
    "Eh katanya malah ini sudah pertemuan ke sekian."
    "Jadi bukan pertama kali?"
    "Bukan, sudah sering."
    "Wah parah, nggak takut apa ya?"
    "Takut penyakit? Hahaha."
    Sekar masih belum paham siapa yang tengah menjadi bahan. Tak ada satu pun nama yang bisa ia tebak menjadi kandidat.
    "Dia juga pernah lo kepergok Pak Chan."
    "Hah dimana?" 
    "Eh siapa sih?" Sekar akhirnya menginterupsi dengan berharap agar dapat penjelasan.
    Desti berbisik di telinga Sekar. Kawan-kawan lain langsung menyambar dengan cerita versi mereka masing-masing. Berkali-kali Sekar mencerna cerita yang ada, ia gugup memikirkan satu hal, apa jangan-jangan itu adalah orang yang ia pikirkan? Namun, benaknya yang lain berkata bukan. Pertentangan antara intuisi dan logikanya terus mengganggu sepanjang hari, hingga ia lupa bahwa ada hal penting lain yang harus ia hadapi hari ini, Pak Beno.
    Cuaca cerah dan udara panas, penyejuk udara bekerja keras mendinginkan ruangan sekaligus kepala Sekar. 
    "Nggak usah tegang neng."
    "Boleh dianulir pak email kemarin?" Tangan Sekar bergetar, ia ragu-ragu pada dirinya sendiri.
    "Lo kenapa?" Pak Beno tak bisa menyembunyikan ekspresinya yang tengah tersenyum entah memikirkan apa.
    "Takut?" Sekar menggeleng.
    "Males?" Sekar lagi-lagi menggeleng.
    "Betah jadi clerk seumur hidup?" Sekar terdiam.
    "Setidaknya kamu harus pikirkan masa depanmu."
    "Saya khawatir nggak mampu pak." Sekar mengepalkan kedua tangannya, suaranya mengecil.
    "Gampang, kamu cuma perlu belajar sama ahlinya." Pak Beno lalu mempersilakan lelaki yang mengenakan tanda pengenal bertuliskan "Aksar Vimana" untuk masuk, lelaki yang sepertinya sudah beberapa waktu menunggu di luar. Ketika Acay masuk ke dalam ruangan dan mengambil kursi di sampingnya, Sekar hanya tertunduk, semakin ragu ia jika harus memiliki mentor sekaku Acay. Tetapi, sudah amat terlambat untuk menarik langkah.

***

    "Ciyee ciyee. Ada yang pindah divisi nih." Pak Kalbi menyambut Sekar yang baru saja tiba di deretan kubikal. Hampir semua tim dari bagian kuangan ada di sana, memberikan semangat pada Sekar dan tidak sedikit yang menyindir dengan kalimat-kalimat sarkas. Sekar merasa terganggu, namun bukankah seharusnya keadaan ini sudah ia timbang sejak kemarin? Sekar langsung menyambar potongan mangga muda, nanas, dan juga ramania yang ada di atas nampan. 
    Di sana juga ada Ghea, atasan Sekar yang bahkan tak bicara apapun. Perempuan termuda di divisi Sekar ini memang terus bersikap dingin dan jarang bicara. Dan di balik sikapnya itu, Ghea selalu berpikir dan melangkah jauh dibanding orang lain. Ia berusaha sebisa mungkin tampak biasa-biasa saja, walaupun kepalanya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan, apa dia bisa? Beratus-ratus kali Ghea berpikir bahwa Sekar akan sulit berada di bagian itu jika ia tidak membenahi diri terlebih dahulu. Rapor Sekar selama di divisi keuangan memang dianggap Ghea merah dan sebenarnya ini adalah kesempatan Ghea membuang anak buahnya itu. Namun, entah mengapa ia tidak senang saat Pak Beno memberi kabar ingin mengambil Sekar.
    "Mbak Taji, setelah ini ke ruangan saya ya." Wajah Ghea serius, Sekar menanggapinya jauh lebih serius. 
    "Iya mbak." Kawan-kawan yang lain terdiam, saling tatap, seolah memikirkan hal yang sama. 

***

    "Kamu udah gila ya? Apa lagi ini?" Acay menyodorkan sebuah obrolan di grup Whatsapp kepada Jendra. Jendra tertawa terbahak-bahak melihat isi obrolan tersebut. 
    "Parah ya pikiran orang-orang di sini. Tapi seru juga sih." Jendra memang terbiasa masuk ke dalam pusaran kabar burung, dan sejelek apapun namanya menjadi bahan pergunjingan, ia akan menghadapinya dengan santai.
    "Tapi ini bener?" Acay bertanya serius.
    "Jangan bilang kamu percaya juga." Jendra menjitak kepala dan mencengkeram leher Acay dengan kuat. Acay kewalahan dan tak berhasil meloloskan diri.
    "Iya iya, aku percaya kamu." Acay memukul-mukul lengan Jendra tanda menyerah."
    "Tapi kalaupun bener nggak apa-apa juga sih, doi cantik."
    "Dasar sinting." Acay melengos. Di saat yang sama setelah Acay berbalik, Birdel melintas di depannya. Perempuan itu melenggang menuju toilet, wajahnya tegak, seolah tak tahu apa-apa tentang gosip yang menimpanya.
    "Del, tunggu." Jendra pun dengan santai memanggil perempuan itu. Perempuan bersuami itulah yang santer dikabarkan tertangkap basah menghabiskan waktu dengan Jendra di luar jam kerja. Birdel menoleh, namun tak lama ia kembali membuang muka. Jendra tetap menghampiri ibu dari 3 anak itu. Tak terkira berapa pasang mata yang memperhatikan mereka dan hampir semuanya larut dalam prasangkanya masing-masing. Tak bisa dibayangkan pula bahan gunjing setelah kejadian ini tentunya akan bertambah. Acay kesal, sebagai kawan ia menyesali tingkah Jendra yang sulit sekali menahan diri dan menjaga sikap. 
    "Jend." Acay mencoba mengingatkan.
    "Ssttt, mau kasih asupan dulu ke tukang-tukang ghibah." Jendra berbisik.
    Birdel tampak menangkap maksud Jendra itu dan mencoba berimprovisasi dalam pertunjukkan dadakan yang disaksikan banyak pasang mata secara diam-diam.
    "Sayang, dari tadi kemana aja?" Birdel berbicara manja.
    "Aku kan kirim pesan tadi tapi nggak dibalas." Jendra berpura-pura kesal.
    "Maaf ya sayang, kerjaanku banyak." Birdel seolah menyesal.
    "Nggak apa-apa sayang." Lalu keduanya tertawa keras bersamaan. 
    "Pengen muntah aku Jend, siapa sih yang anjing banget bikin gosip murahan gitu?" Birdel kali ini sengaja menaikkan volume suaranya.
    "Biasalah, cewek yang naksir aku tapi nggak kesampaian." Jendra melirik ke sekeliling, berharap orang yang ia maksud ada di sana.
    "Makanya terima aja, daripada bikin pusing." Birdel pun sama, ia juga turut melirik ke sekeliling.
    "Mulutnya sampah sih, jadi aku nggak minat. Beda sama kamu, sudah cantik, baik, keibuan, sukses, pinter lagi." Jendra kali ini tampak berlebihan, Birdel bukannya senang malah justru risih mendengar pujian itu. Siapapun yang mendengarnya termasuk Acay pun mulai merasa mual dibuatnya.
    Beberapa orang di kubikal bangkit berdiri dan keluar ruangan, beberapa lagi memasang earphone, ada pula yang berpura-pura mengangkat telpon, selain merasa terganggu orang-orang itu juga ingin menunjukkan bahwa mereka tak tahu-menahu tentang gosip itu. Jendra dan Birdel kompak memberi pelajaran kepada seseorang, seseorang yang memiliki kemampuan mengubah cerita yang tak terkalahkan.


To be continue...

L.M>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts