Mengikutimu - Mencari Yang Pertama
Mengikutimu - Asuransi Yang Hilang
Jika Kita Tidak Berpisah
Jika Kita Tidak Berpisah
Kekasih Semalam #1
Gili Trawangan.
"Eh, sorry mbak." Nampan berisi sebotol wine dan gelas kosong terjatuh tepat di depanku. Pecahan gelas nyaris terpental mengenai wajahku. Sesosok lelaki berkulit cokelat kemerahan sunburn bersigap menghampiriku dengan khawatir. Waiters langsung membersihkan pecahan gelas, sementara si lelaki berkulit gelap tadi menyentuh pundakku dari samping dan berbisik "Are you okay, mbak?" Aku spontan menoleh ke arahnya, fokusku langsung tertuju pada hidung yang sangat mirip perosotan itu. Alisnya tebal, bibirnya sedikit membuka hingga terlihat barisan gigi yang rapi disana.
"Mbak, kamu nggak papa?" tanyanya lagi kali ini sedikit menggerakkan tangannya di bahuku. "Hah, iya nggak papa kok mas." Aku mengalihkan pandanganku, semoga pengamatanku pada wajah si mas-mas tadi tidaklah kentara.
Dia berbalik ke mejanya, mengambil sebotol bir lalu kembali ke mejaku. "Boleh join?"tanyanya sambil memposisikan kursi yang belum kujawab iya tetapi sudah ia duduki. "Nggak minum?" tanyanya. "Belum dateng." Jawabku diiringi sedikit senyum. "Bir?" Tanyanya lagi. "Jus cukup." Jawabku lagi. "No alcohol?" tambahnya. "Lagi nggak pengen." Aku sembari menggeleng. Ia tersenyum lalu meminum bir yang ada di gelasnya.
Waiters datang membawa segelas orange juice pesananku, lalu menyalakan lilin di atas meja. Posisi kami tepat menghadap ke laut. Hingga angin pantai menyapu lilin perlahan namun tidak mematikan. Mataharipun perlahan tenggelam. Langit oranye, ombak, turis-turis, kusaksikan perpisahan antara laut dan jingga nan romantis itu. Aku mengabadikan momen itu dalam camera handphoneku. Aku sangat suka suasana ini. Berkali-kali kuarahkan cameraku pada objek yang tetap cantik diambil dari sudut manapun itu, hingga aku tak menyadari, lelaki asing di sampingku juga sibuk mengambil fotoku. Ketika aku tersadar, aku melihat ke arahnya, ia tertawa melihatku yang sedikit risih.
"Mau lihat hasilnya?" Tanyanya.
"Pasti cantik kan?" Aku percaya diri.
Ia tertawa sambil menyodorkan cameranya. Tampak wajahku dari samping yang senyum-senyum sambil mengambil gambar, aku terlihat manis di foto itu.
"Oh iya mbak, aku belum tau namamu."
"Belum tau nama tapi udah pede ya langsung duduk aja." Aku sedikit menyindir dan tertawa kecil..
"Kasihan kamu sendirian." Jawabnya cepat.
"Aku nggak bilang butuh temen." Aku menimpali lagi.
"Tapi kenyataannya butuh kan?" Intonasi bicaranya nakal. Aku tertawa karena kehabisan kata-kata untuk menyangkal.
"Jadmiko." Ia menyebutkan namanya namun dengan suara lirih dan sama sekali tidak menoleh ke arahku. Hening sejenak.
"Kamu juga dong sebutin nama." Sambil mendorong pelan bahuku dengan sok akrab.
"La emang kamu tanya?" Aku tertawa.
"Idealnya aja sih, kalau ada yang ngajak kenalan ya sebutin nama lah." Ekspresinya terlihat gemas.
"Oh, jadi ceritanya pengen kenalan nih." Suaraku mengejek.
"Jangan-jangan sebenernya kamu yang butuh temen." Sambungku lagi.
"Tauk ah." Ekspresinya kesal, aku tertawa keras. Tak ada kecanggungan lagi, seakan kami sudah lama saling mengenal.
"Dinar, Ristamaya Dinar Dewi." Akupun menyebutkan namaku. Dia tersenyum.
"Nah gitu dong, pertama kai kesini?" Tanyanya.
"Yup, dan nggak mengecewakan." Jawabku.
Langit yang mulai gelap, suasana romantis yang masih tersisa dari lilin yang tak kunjung padam, obrolqn hangat dengan lelaki menarik yang baru dikenal, membuat jari-jemariku sulit ditahan ingin menuliskan sesuatu. Kuraih ponsel, kubuka aplikasi keepnotes, lalu kutulis beberapa bait.
Entah bagaimana malam ini riuh
Suaramu lekat kuingat utuh
Sedikit, namun begitu rumit
Rindu saja, seperti ingin menyapa
Pesanmu seperti gigil dan saat ini aku begitu sakit
Berulang, kukenang, kupaksa otakku beku
Karena ternyata, aku hanya tahu namaku.
To be continue...
Kacau
Bumi seperti sedang berlomba dengan planet lain, ia berputar lebih cepat setiap harinya hingga waktu dikuasai kesempatan yang sudah terlewat, atau penyesalan yang sulit diperbaiki.
“Berisik.” Suara parau setengah berteriak, diikuti suara
benturan ponsel yang mendarat di dinding lalu terkapar di lantai tak berdaya.
Mataku masih terpejam lalu tiba-tiba aku tersadar akan apa yang baru saja
kulakukan. Sial. Kupungut ponselku yang masih kokoh, ia tetap tegar
mengeluarkan bunyi alarm yang menggangguku tetapi anehnya membuatku lega.
Alhamdulillah, anggaran untuk beli ponsel baru belum ada bahkan hingga setahun
ke depan. Setidaknya aku harus merawat ponsel ini agar tetap bisa kugunakan
untuk menerima telepon atau membuka whatsapp. Dengan penuh upaya aku berjalan melewati
baju-baju berserakan dan bungkus sisa makanan yang belum kubuang, menyalakan
lampu LED 10 watt yang dalam sekejap mengubah kamarku yang suram tampak terang
benderang. Dengan langkah gontai aku berjalan menuju kamar mandi, merasakan air
dingin menyentuh tubuhku jengkal demi jengkal, lalu konser pun dimulai.
Neoyeossdamyeon eotteol geot gata
Ireon michin naldeuri ne haruga doemyeon marya
Neodo namankeum honja buseojyeo bondamyeon alge doelkka
Gaseumi teojil deut
Nal gadeuk chaeun tongjeunggwa
Eolmana neoreul wonhago issneunji
Naega neoramyeon geunyang nal saranghal tende
Suara-suara merasa merdu dan lantang dipantulkan oleh
dinding keramik kamar mandi yang jika ia bisa bicara pasti akan protes setengah
mati karena nada-nada sumbang yang setiap hari ia dengar. Belum lagi lirik yang
tidak begitu jelas menambah rumah berantakan itu seketika terasa semakin kacau.
Itulah gambaran kehidupan pagi butaku, paska aku
ditinggalkan.
Pola dan Ritme
Menjadi Penulis - Catatan
3
Seolah, melarikan diri adalah pilihan satu-satunya. Lalu dengan itu Taji berharap ia berhasil keluar dari bayang-bayang pertemuan menyebalkannya tempo hari dengan seseorang. Orang yang sayangnya sulit ia benci walaupun ia punya banyak alasan melakukannya. Jogja, lagi-lagi menjadi pilihannya kali kesekian. Bukan untuk menikmati kotanya yang nyaman, bukan pula berniat offroad di gunung merapi, atau menjejaki satu persatu keindahan di pantai selatan. Bukan. Kali ini Taji punya misi lain.
Tiba di Bandara Adi Sutjipto pukul 11 siang, Taji disambut para supir taksi dan travel yang menawarkan jasa. Perempuan dengan kacamata hitam dan rambut tergerai sebahu itu memilih mampir di sebuah kedai kopi di kanan pintu keluar dan menunggu waktu yang tepat untuk beranjak agar pas dengan jam check-in nya di hotel. Memesan segelas latte dan sebuah sandwich, Taji menikmati waktu itu dengan perasaan tak keruan. Di satu waktu hatinya menghangat tentram dan penuh semangat, di waktu yang lain ia merasa kesepian dan bertanya-tanya apakah yang ia lakukan sudah tepat atau tidak, tak jarang kedua perasaan bertolakbelakang itu menyerangnya bersamaan hingga ia ingin berteriak dengan lantang. Taji menunduk, menumpuk kedua lengannya di atas kepala, kebingungan menahan perasaan yang ingin tumpah ruah namun tak mungkin ia lepaskan di keramaian.
"Mbak Taji?" Suara seorang lelaki berbarengan dengan sentuhan di pundak sebelah kirinya memaksa Taji menegakkan kepala.
"Iya."
"Hanur mbak. Ingat?"
"Suboffice?"
"Iya mbak. Pulang kampung?"
"Nggak, cuma liburan."
"Sendiri?" Hanur mengedarkan pandangannya.
"Iya, mau nemenin?" Taji berniat bercanda.
"Boleh mbak, saya juga nggak sibuk." Taji tertawa mendengar jawaban itu lalu menjelaskan kegiatannya di Jogja.
"Nggak mas, kayaknya kegiatanku bakal padat, karena ada workshop nulis."
"Oh ya? Di daerah mana?"
"Taman Budaya."
"Oh iya, kabarin aja kalau mbaknya perlu ojek atau tour guide. Saya available selama disini."
"Makasih mas." Taji tersenyum sungkan. Beberapa saat setelah mengobrol, akhirnya Hanur pamit.
Berbincang dengan Hanur tanpa sadar membuat Taji sedikit lupa dengan keresahannya beberapa saat sebelumnya. Ia lebih tenang, saat ia sadari perasaannya itu Taji tersenyum. Ternyata lelaki yang sepertinya beberapa tahun lebih muda itu cukup asik mejadi teman mengobrol.
Menyeret koper, Taji bergegas menuju salah satu hotel di kawasan Taman Budaya yang sudah ia pesan 2 hari sebelumnya. Hotel populer dengan review terbaik sengaja ia pilih, agar ia benar-benar merasa sedang berlibur.
***
Suara sirine mobil patroli beradu dengan suara mas-mas penjaja kerupuk yang mengetuk setiap kaca jendela mobil. Vimana yang terjebak tepat di belakang mobil sport single cabin berwarna putih tengah melamun dengan kaki kanan menahan keseimbangan motor honda tua tahun 1988 yang ia beli murah dari kawan yang mutasi. Lamunan usang tentang orang yang membuang-buang uang dengan memakai mobil mahal di pelosok, sangat tidak efektif, batinnya. Setelah lampu hijau menyala, Vimana lanjut mengelilingi kota melewati jalan-jalan tikus dan disaat itulah waktu bagi Vimana untuk berpikir.
Daripada kuliah S2, Vimana lebih ingin menikah. Sepulang bekerja disambut perempuan cantik berhijab yang menggendong anaknya, hidangan makan malam yang sudah tersedia, kopi hitam dan kudapan yang menemaninya merenungkan malam, hari minggu menyenangkan yang diisi jalan-jalan kecil di pendopo sambil melihat-lihat orang-orang mengantre makanan dan olahraga. Tidak lupa, ia tengah bermain dengan anak lelaki kecil nan lucu di atas rumput hijau di bawah pohon ketapang. Itu masa esok yang lebih ia inginkan, menjadi biasa-biasa saja. Tetapi, lamunan sederhana itu kembali rusak dengan suara Warsi yang terngiang-ngiang di kepalanya. Suara-suara bermode template yang kata perkata ia hapal setengah mati. Anehnya, sekalipun terganggu Vimana tetap rindu. Ia kangen Jogja.
Sebelum melanjutkan pikirannya, Vimana yang kini tengah berhenti tepat di bawah pohon beringin di depan masjid besar merogoh sakunya yang bergetar. Jendra.
"Opo jend?"
"Dimana kau lay?"
"Semedi."
"Jadi tidak?"
"Apanya?"
"Sudah pikun kau? Marrygold."
"Beneran jadi?"
"Cepat sudah."
"15 menit."
Vimana tanpa pikir panjang melajukan motornya. Pikirannya sudah tidak normal, hatinya berbunga-bunga, perutnya mulas berdebar, sesekali ia merinding membayangkan momen yang beberapa menit lagi akan terjadi. Bertemu dr Marrygold, idolanya.
Kurang dari 15 menit, motor tua itu berhasil menempuh 13 KM. Di parkiran, Jendra sudah rapi menunggu Vimana.
"Ayok."
"Ganti baju dulu lah." Jendra melirik celana pendek butut berbahan jeans berwarna hitam yang dikenakan Vimana. Memang ia masih terlihat tampan, tapi bertemu idola setelah sekian lama buat Jendra penampilan itu tidak cukup. Setidaknya harus lebih rapi.
"Ga harus pakai kemeja kan?"
"Tuk se do." Jendra ketus.
Vimana berlari ke kamar dan kembali tak lama setelah itu dengan setelan yang jauh lebih lumayan walaupun alas kakinya masih berupa sandal jepit. Jendra pasrah.
Suara dr Marrygold sudah mengudara di acara kesayangan mereka. Khusus hari minggu, jam siarnya memang berubah menjadi siang hari. Khidmat Vimana mendengarkan kata demi kata sembari membayang wajah seperti apa yang sebentar lagi ia lihat. Ia kesulitan mengatur nafas, jantungnya berdetak kencang sampai ia merasa Jendra bisa mendengarnya. Vimana gelisah, tapi senang, tapi ragu, tapi ah langsung ia singkirkan jauh-jauh kecemasan tidak berdasar yang timbul tenggelam di kepalanya.
"Vim, kalau bu dokter jomblo gimana? Takis nggak?"
"Sinting."
"Kan andai-andai, kau dengar suaranya saja sudah macam cacing lapar."
"Bayangin sebelum tidur didongengin."
"Dasar halu."
"Kamu yang mulai."
"Tak bisa kali kau kupancing ya."
Vimana malah senyum-senyum menghayalkan entah apa. Iseng Jendra mengganti saluran radio ke usb. Terdengar mengalun suara intro dari lagu Killing is my bussiness... and bussiness is good. Jendra dan Vimana bergerak serentak dalam lagu jedag-jedug yang liriknya mereka tak dengar jelas namun mereka sepakat lagu itu punya magis tersendiri. Megadeth, satu-satunya kesamaan kedua pemuda itu.
***
"Wajib mampir lo ya."
"Siap bu."
Belum sempat Taji meluruskan pinggang setelah lelah menempuh perjalanan dan baru selesai membersihkan diri, ia menerima panggilan video dari Warsi. Fasilitator yang akan mengisi workshopnya selama di Jogja. Beberapa kali bertemu dalam workshop menulis di Bali dan Bandung sekaligus menjadi penggemar ulung karya-karya Warsi, Taji beruntung bisa menjadi dekat. Warsi memperlakukannya seperti kawan, bukan penggemar. Dan sudah tentu, saat melihat nama Taji ada di daftar peserta, Warsi bersemangat menyambut gadis itu sebagai tuan rumah. Menghabiskan malam membahas cerita Taji yang tak ada habisnya, kisah cinta ala remaja yang selalu digambarkan Taji super menyakitkan, namun bagi Warsi yang hidup lebih dari setengah abad semua itu hanyalah secuil dari problematika yang tak ada apa-apanya dibanding apa yang akan dihadapi di kehidupan selanjutnya. Keinginan Taji yang tak pernah berujung, ia bangun terus setiap keinginan demi keinginan, ia belajar terus-menerus, Taji yang penuh dengan energi, dan Warsi merasa ada dirinya dalam diri Taji, perempuan muda yang terus belajar sesuatu seolah ia akan hidup selamanya.
"Andai dia adalah putriku."
To be continue..
Fairytale - Kevin Hugo Lyrics
The rain is falling, and I keep on thinking 'bout you
Everytime I fall a sleep, I'm still dreamin over you
The words you said that day makes me feel so small
It haunts me everyday and I just couldn't stay
I want to run away from this fairytale
Loving you is magic, loving you is tragic
Why'd you never learn?
If you said that you hurt me
You said that you're sorry
You want to love someone I can't be
I want to run away from this fairytale
Loving you is magic, loving you is tragic
I want to run away from this fairytale
Loving you is magic, loving you is tragic
I want to run away from this fairytale
Loving you is reality, but loving me is your fiction
L.M.
Punggung - LM
Lelaki diibaratkan sebagai tulang punggung, sedang perempuan menjadi tulang rusuknya. Ketika keduanya bertemu, saat itulah disebut jodoh. Lalu bagaimana ceritanya ketika lelaki dan perempuan ini bertemu sebagai sesama tulang punggung? Bahkan kutub yang sama saja saling tolak-menolak, apalagi manusia?
-2016
Hanya Mencintai Sekali - Catatan
"Pada beberapa sahabat aku memang pernah berkata, bahwa dalam hidup kita hanya pernah mencintai sekali, kepada hanya satu orang, dan itulah yang paling jujur. Jika lebih dari itu, maka itu hanyalah sebuah kompromi."
Beberapa hari terakhir, kalimat di atas langsung punya sanggahan. Keyakinan selama bertahun-tahun itu bergeser, pandangan baru muncul.
"Benar dalam hidup kita hanya mencintai sekali, tetapi bukankah kita bisa hidup berkali-kali?"
Mematikan diri kita yang lama beserta kenangannya, dan menghidupkan diri kita yang baru beserta (belum ditemukan kata yang tepat untuk melengkapi kalimat ini).
07.09.2021
Tuhan Tidak Bernego - Catatan
2
Pagi-pagi sekali saat fajar belum berani lahir, halimun belum hilang sempurna, dan dingin masih merangkul kuat. Taji sudah menjejaki jalanan menuju halte bus terdekat. Ia memperhitungkan langkah kaki, jarak, dan waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai di halte. Setelah itu ia menghitung dengan waktu yang tersisa sembari melihat jam di tangan kirinya, saat mengingat-ingat jadwal keberangkatan bus, ia panik dan sedikit berlari agar tidak tertinggal. Safety shoes, helmet, vest, dan ransel berisi travel toiletries & buku catatan cukup membuatnya merasa kewalahan ketika berlari. Tetapi, untuk mencapai sesuatu, memang harus berusaha sekeras demikian bukan?
Di pagi yang tenang itu, Taji sudah harus berkejaran dengan waktu. Tidak ada kompromi. Jika waktu sedang terhimpit, yang lapang pun seketika berubah menjadi sempit. Bus dengan nomor lambung 118 berhenti tepat di depan halte, ia masih berlari di belakang bus sambil melambai-lambaikan tangan berharap driver bisa melihat dari spion. Lampu sein kanan sudah terlihat, bus tampak sudah ingin segera meninggalkan halte sesaat setelah penumpang terakhir menutup pintu. Taji hampir menyerah, tapi tekadnya mencegah. Sebelum benar-benar kalah, baginya pantang untuk berserah. Sembari berlari dengan tenaga yang tersisa, dalam benak gadis itu membacakan mantra-mantra yang ia yakini mampu membuat detik seakan berhenti. Hening, hingga sepersekian detik kemudian di belakangnya melajulah beberapa mobil yang dengan kecepatan lumayan tinggi menguasai jalan, mereka datang seperti arak-arakan yang sedang melaju kencang.
Dengan mantra-mantra dalam otaknya, Taji merasakan betapa mobil-mobil yang melaju itu sedang menjadi superhero yang membantunya membekukan waktu sejenak, waktu bagi bus 118 yang sepertinya belum memiliki kesempatan untuk merebut barang sedikit badan jalan, dan disanalah semangat untuk mengejarnya berhasil.
Terengah-engah gadis itu membuka pintu bagian belakang bus, mengatur nafas perlahan, meletakkan atribut-atribut yang memungkinkan untuk di lepas, lalu duduk di salah satu seat kosong di sebelah kanan. Beberapa rekan seperti sudah terbiasa dengan pemandangan itu, dan beberapa yang lain masih mengoceh mengomentari ia yang hampir setiap hari terlambat.
"Begadang terus." Seru Pak Kalbi dengan nada menyindir. Taji memilih memejamkan mata setelah memasang seat belt lalu bersiap untuk tidur. Kegemarannya yang sudah banyak orang tau adalah tidur saat perjalanan. Di bus, di mobil, di becak, di angkot, di pesawat, di kapal, di delman, di bajaj, di kereta, bahkan di motor pun ia selalu merasa mengantuk. Sesuatu yang beberapa orang menyayangkannya, karena ia akan melewatkan banyak hal. Tetapi, begitulah Taji. Baginya, bus pagi memang waktu yang sempurna untuk tidur. Merasakan keheningan pagi yang didominasi suara-suara para pekerja yang sudah berjuang mengalahkan ayam. Rasanya tidur adalah reward terbaik untuk diri sendiri yang sudah berhasil bangun pagi.
Di sudut lain namun pada bus yang sama, ada Vimana yang memperhatikan kehadiran Taji. Isi kepalanya lagi-lagi menemukan ketidaksukaannya pada gadis itu.
"Dasar pemalas." Batinnya. Namun aroma floral kemudian berubah menjadi tonka bean lalu tercium seperti aroma vanilla, berubah-ubah menyeruak dari tubuh gadis itu, menguasai seisi bus, menghanyutkan Vimana menjauh dari fokusnya. Aroma ini tidaklah asing, mengingatkan ia pada sesuatu di masa lampau, tapi bahkan ia tak ingat persis kenangan apa itu.
Namun, konsentrasi Vimana untuk mengingat-ingat apa yang indentik dengan aroma ini terganggu oleh Jendra. Lelaki berisik ini sudah membuat gaduh suasana di bus, ia membangunkan Taji dan meghujani gadis itu dengan ragam pertanyaan.
"Apa sih Jend?" Taji yang sudah setengah tertidur kesal dengan Jendra yang duduk di belakangnya. Lelaki itu menepuk-nepuk bahu Taji, juga terus mengoceh tak kenal sungkan.
"Kenalin lah, nanti kamu juga kukenalin ke temanku."
"Nggak pokoknya."
"Ayolah, please."
"Nggak bisa Jend." Taji kurang nyaman mengatakan bahwa sahabatnya, Jube, sudah menikah.
"Jangan-jangan kamu masih cemburu ya aku pengen kenal temanmu."
"Jangan ngadi-ngadi ya." Taji langsung melotot, hilang kantuknya seketika. Kesal sekali ia dengan Jendra yang beberapa bulan sebelumnya memang sempat mendekatinya. Melihat reaksi Taji, Jendra tertawa terbahak-bahak. Di kursi belakang, Vimana hanya geleng-geleng kepala, heran melihat perilaku temannya.
Di antara banyak wanita yang Jendra dekati, mungkin Taji salah satu yang tersulit. Sikapnya yang selalu jutek dan terkesan jijik dengan Jendra membuat Jendra semakin senang menggoda gadis itu, dijadikan lelucon, dan ekspresi Taji ketika marah baginya adalah moodbooster. Oleh karena itu, sekalipun Jendra bertekad untuk berhenti menggoda gadis-gadis, niatnya mengurangi kegemaran membual sana-sini, dan menghindari polah tingkah ala cowok flamboyan lainnya. Jendra tak bisa berhenti melakukan itu pada Taji. Taji adalah pengecualian.
1
Malam kian menjadi-jadi, ia kini tak segan menautkan sepi setiap kali gelap berganti. Suara adzan maghrib menjadi pengingat, bahwa bisa saja di sini kita mati sendiri dalam kesepian dan tak ada yang bersedih. Betapa menyebalkan kehidupan masa muda yang begitu tua ini. Tua yang selalu didengung-dengungkan oleh orang lain. Sementara, di usia 28 tahun ia masih merasa muda. Ia masih percaya pada mimpi-mimpinya, percaya pada apa yang ia ingin lakukan di masa depan, warisan yang ingin ia tinggalkan sebelum mati, mimpi-mimpi besar yang membuatnya tak pernah merasa menua. Ya, ia adalah perempuan muda hebat, setidaknya bagi dirinya sendiri.
Keluar dari jeratan kota kecil, menjelajahi dunia dengan berani, hidup dalam gemerlap hebat menjadi diri sendiri, mimpinya yang orang lain tak akan mungkin paham. Tapi ia paham, ia tidak boleh memaksakan diri menjadi orang lain hanya karena lingkungan menginginkannya.
"Kapan cuti nak?"
"Masih lama bu."
"Bawa calon sekalian ya."
"Nanti kutelpon lagi ya bu, Assalamualaikum."
Topik membosankan yang menghantui hari-hari Taji, didengarnya dari berbagai manusia dalam hidupnya. Dari keluarga hingga orang setengah asing, dari yang dekat hingga yang bukan kerabat, semua tak tahu malu membahas yang satu itu, JODOH.
Taji seperti orang linglung, ia mondar-mandir kamar mandi lalu ke tempat tidur, dari tempat tidur ia duduk di kursi tempat ia bekerja, dari kursi ia berdiri membuka jendela, ia tutup lagi jendela lalu berbaring di tempat tidur, begitu terus-menerus hingga labuhan akhirnya adalah kamar mandi. Di depan cermin lama ia melihat dirinya sendiri. Bintik-bintik hitam di wajah, sedikit keriput dan lingkaran hitam di sekitar mata, komedo yang berkembang biak, pori-pori yang kian membesar, warna kulit wajah yang tidak merata, bibir yang pecah-pecah, tak lupa semua itu dilengkapi jerawat yang timbul tenggelam di beberapa titik. Taji merasa jelek.
Masih 60 menit menuju pukul 22.00 WITA, artinya ia masih punya waktu berjalan-jalan keluar kamar mencari udara segar, memulihkan isi kepala yang sudah krisis menuju ketidakwarasan. Mengenakan piyama tidur, jaket denim oversized, dan sandal jepit berwarna mint andalan. Sengaja, ia tinggalkan ponsel di kamarnya.
Dua pohon ketapang tinggi menjulang di depan gedung, di balik daun-daunnya menyembul cahaya bulan malu-malu, bulan separuh. Taji duduk di salah satu kursi di sudut taman, menaruh banyak rasa sepi, kerinduan yang entah pada siapa, dan hidup membosankan yang segera ingin ia akhiri. Ia menangis.
Beberapa menit kemudian, Taji menegakkan kepalanya, menoleh ke belakang, mengingat-ingat waktu yang tak pernah mau menunggu, waktu yang tak bisa diulang, waktu yang terus mengejarnya, usianya kian banyak, tetapi keinginannya belum terealisasi satu pun. Kali ini tangisnya mereda, kalau hanya ia ratapi bahkan mungkin hingga usia 50 tahun ia tak akan jadi apa-apa. Ia berdiri, kembali ke kamar, berpikir untuk tidur nyenyak dan keesokan harinya bangun dengan tenaga berlipat.
Aksar Vimana.
Diteror sang ibu untuk lanjut kuliah S2, mulai dari program beasiswa hingga ibunya dengan tangan terbuka ingin bertanggung jawab penuh akan biayanya. Atau jika itu sulit, Warsi selalu mengarahkan Vimana untuk mengeksplor bakatnya yang lain, banyak belajar, mengikuti pelatihan, workshop, seminar, banyak mencari pengalaman, relasi, apapun itu asalkan hal-hal positif. Keinginannya satu, anak tunggalnya itu jadi seseorang yang luar biasa atau minimal tidak jadi karyawan biasa.
"Vim, ibu pengen kamu growth, punya value, berpikir lebih kritis, ambisius, visioner, bla bla bla." Kata-kata Warsi yang membuat Vimana tidak nyaman. Ia memang hanya ingin hidup biasa-biasa saja. Tetapi, Vimana tak pernah menemukan alasan paling masuk akal untuk pilihannya itu. Alhasil, ia hanya terus menjadi bulan-bulanan sang ibu yang memang ia akui, ibunya luar biasa hebat.
Langit-langit kamar memantulkan cahaya dari LED oil diffuser berwarna gold dan aroma jasmine merebak menyempurnakannya. Vimana fokus menatap langit-langit, ia ingin berpikir tetapi otaknya sulit berpikir, ia ingin mendalami tuntutan sang ibu tetapi sulit masuk ke dunia itu. Entah mengapa ia tak bisa menjadi ambisius, itu tak mungkin, itu tak perlu, hidup bukan tentang itu kan? Seribu kali pun ia pikirkan, Vimana tetaplah menyerah dengan pikirannya. Dalam otaknya terlalu kuat tertanam apa yang ia yakini, dan sang ibu seharusnya tak boleh mengusik itu. Tak ada keraguan sedikitpun, Vimana akan tetap pada prinsipnya, hidup biasa-biasa saja.
Jendra Apriadharma.
Di usia hampir 35 tahun lelaki satu ini memang tampak masih bocah. Sikapnya yang terlalu ramah, supel, flamboyan, dan dikelilingi perempuan-perempuan membuatnya dilabeli playboy oleh orang sekitar. Tetapi, Jendra tak pernah risih, justru cenderung bangga. Seringkali ia katakan bahwa perempuan adalah godaan terbesar yang tak mungkin bisa ia lawan. Perempuan seperti candu, makin ia hindari, ia akan semakin sakau.
Dan, kesenangan itu sayangnya tidak bertahan lama, ada satu titik dimana ia mulai stress akan hidupnya. Ia ingin sendirian, ingin banyak merenung, ingin menghabiskan energinya untuk dirinya sendiri, tak melulu menyenangkan orang lain.
Di dalam kamar, Jendra membuka jendela, menyulut sebatang rokok, menyeruput kopi dingin yang sudah dibiarkannya sedari tadi. Ia juga mematikan paket data ponselnya, berharap tak ada yang mengganggu. Otaknya ia biarkan tak memikirkan apapun, tetapi mana ada manusia yang pikirannya kosong? Ia berharap ada alkohol di depannya, meminum hingga ia tak sadar, tapi di gedung ini jelas tidak mungkin.
"Mas, kalau mau ngerokok jangan di kamar." Teriakkan penjaga mess dari luar gedung mengagetkan Jendra, ia refleks menutup jendela dan membuang puntung rokoknya. Saking terburu-burunya Jendra menjatuhkan gelas kopi di depannya. Pecahan gelas keramik menyebar di lantai kamar.
"Sial." Batinnya.
Chaniago.
Ekonomi, ekonomi, ekonomi. Permasalahan yang tak pernah pergi dari rumah tangganya yang lebih dari 20 tahun itu. Andai bisa mengulang waktu, Chan ingin sekali menjadi lelaki muda yang banyak belajar financial, ia ingin punya tabungan cukup sebelum menikah, ia ingin punya usaha, ia ingin menghasilkan banyak uang, agar ketika anak-anaknya sudah mulai hadir ke dunia ia tidak pusing perihal popok, susu, biaya sekolah, biaya kuliah, cicilan rumah, cicilan mobil, biaya kos anak, biaya pulsa, kuota internet, dan lain-lain. Ia lelah hampir sepanjang 20 tahun selalu membahas uang uang uang dengan sang istri, Norma. Mengapa semua selalu serba kurang? Padahal jika dibandingkan awal menikah, gajinya saat ini jauh bertambah.
JKTB - Episode 1 Kriteria Yang Hilang
Jealousy Jealousy - Olivia Rodrigo Lirik Terjemahan
I kinda wanna throw my phone across the room
Ingin ku melempar ponsel ke sudut ruangan
With paper-white teeth and perfect bodies
Wish I didn't care
But it feels like that weight is on my back
And I can't let it go
I think, I think too much
'Bout kids who don't know me
I'm so sick of myself
I'd rather be, rather be
Anyone, anyone else
But jealousy, jealousy
Started followin' me (he-he-he, he-he)
Started followin' me (he-he-he, he-he)
And I'm happy for them, but then again, I'm not
Just cool vintage clothes and vacation photos
I can't stand it, oh, God, I sound crazy
I know it's true
But I can't help gettin' caught up in it all
I think, I think too much
'Bout kids who don't know me
I'm so sick of myself
I'd rather be, rather be
Anyone, anyone else
But jealousy, jealousy
In your daddy's nice car, yeah, you're livin' the life
Got a pretty face, pretty boyfriend, too
I wanna be you so bad, and I don't even know you
All I see is what I should be
Happier, prettier, jealousy, jealousy
All I see is what I should be
I'm losin' it, all I get's, jealousy, jealousy
I think, I think too much
'Bout kids who don't know me
I'm so sick of myself
I'd rather be, rather be
Anyone, anyone else
But jealousy, jealousy
Started followin' me (he-he-he, he-he)
Started followin' me (he-he-he, he-he)
Ada apa di Pantai Timang Yogyakarta? - Travel Recommendation
Apa yang ada di pikiran kalian ketika mendengar atau melihat nama Yogyakarta? Sebagian besar mungkin akan terbayang Malioboro, Tugu KM 0, angkringan, Borobudur (walaupun letaknya di Kab. Magelang), Gunung Merapi, kehidupan Keraton Kesultanan, bahkan yang mungkin terlintas justru kampus-kampus dari yang kecil hingga yang besar, negeri maupun swasta, ternama dan biasa saja, yang berkualitas baik dan mengokohkan Yogyakarta sebagai Kota Pelajar.
Namun jangan lupa, Yogyakarta punya daya tarik lain yang tidak kalah dari itu. Pantai misalnya. Jika kita berselancar di internet akan mudah sekali menemukan rekomendasi pantai-pantai cantik di Yogyakarta. Namun, yang kali ini akan saya bahas adalah Pantai Timang.
Saya dapat kesempatan berkunjung ke Timang sekitar awal Maret 2019 lalu. Sudah lama? Iya. Tetapi sampai hari ini jika ada yang bertanya Pantai yang paling saya sukai di Selatan Jawa, maka Timang lah jawabannya (No debat).
Dengan 3 kawan yang lain kami menuju Timang mengendarai motor. Sebenarnya sebelum menuju Timang kami sempat singgah ke beberapa pantai lain yang searah, namun dari semuanya memang tetap Timang yang paling mencuri hati saya.
Pantai cantik yang menjadikan jembatan tali antar tebing batu sebagai ikonnya ini dipadati pengunjung kala itu. Dengan jalur masuk ke tempat wisata yang cukup terjal dan sulit diakses. Metode transportasi yang bisa digunakan ada beberapa, yaitu :
1. Menggunakan Jeep IDR 200K (Bisa untuk 4 orang)
2. Ojek motor IDR 50K/orang
3. Motor Pribadi (Bukan Matic)
Setelah memasuki area pantai, juga ada beberapa pilihan tarif masuk, yaitu :
1. Spot Foto Saja IDR 30K
2. Jembatan Gantung IDR 100K (Free guide)
3. Gondola IDR 150K (Free Guide)
Jadi, sekalipun bepergian sendiri tidak masalah. Karena di sana akan dibantu oleh guide profesional yang juga merangkap sebagai photographer.
Merasakan Sakitnya Tergantikan Bersama Olivia Rodrigo. Review Song on "SOUR" Album 2021 - Olivia Rodrigo.
Olivia Rodrigo, aktris, penyanyi dan penulis lagu asal Amerika Serikat ini akhirnya merelease album debutnya yang bertajuk "SOUR" pada 21 Mei 2021 lalu. Olivia yang lahir pada 20 February 2003 ini berhasil membuat pendengar terhipnotis dengan lirik-lirik mengandung bawang yang dikemas dalam musik yang epic. Terbukti, hingga pekan ini SOUR menempati posisi pertama dalam Billboard Chart 200 terhitung berdasarkan Track Equivalent Album (TEA) dan Streaming Equivalent Album (SEA). Sekilas, beberapa lagu yang terdengar akan mengingatkan kita pada penyanyi pendahulunya Taylor Swift, jenis musik, style, hingga notasi di bagian-bagian tertentu mirip, tetapi akan berbeda setelah didengarkan berulang-ulang.
Drivers license, menjadi single pertama yang direlease pada January 2021. Lagu ini menjadikan Olivia semakin dikenal masyarakat secara global. Single debut yang merajai tangga lagu di berbagai negara dan music video yang ditonton lebih dari 100 juta kali hanya dalam waktu 29 hari dan hingga hari ini sudah mencapai 242 juta views. Selain arransemen musik yang luar biasa, lirik yang diangkat dari kisah nyata ini tak luput menyedot perhatian. Drama antara Olivia Rodrigo, Joshua Basset, dan Sabrina Carpenter seolah menjadikan lagu ini lebih menarik. Clue yang tergambar jelas dalam lirik demi lirik, patah hati yang amat terasa karena tergantikan hanya dalam waktu 2 pekan, dan yang menggantikan adalah perempuan yang selalu membuat ia cemburu & insecure. Ya, jauh sebelum album ini release bahkan jauh sebelum lagu ini ditulis, dalam sebuah sesi wawancara Olivia pernah mengatakan bahwa "Her Crush" adalah Sabrina Carpenter. Terbayang betapa menyedihkan bukan? Belum lagi penggambaran dalam music video yang dilakukan saat menyetir, lengkap sudah lagu ini membawa orang-orang pada dimensi patah hati yang luar biasa.
Belum usai pendengar dibuat bergalau, Olivia kembali muncul dengan single keduanya berjudul Deja Vu. Lagu ini sempat membuat beberapa penggemar khawatir, karena tentu tidak akan sebooming Drivers License. Tetapi, dengan perpaduan musik midtempo psychedelic pop, pop rock, and art pop lagu ini pun berhasil menempati top chart billboard dan streamingnya di berbagai digital platform juga tidak kalah dengan single sebelumnya. Deja Vu juga masih menceritakan kisah patah hatinya, namun kali ini Olivia seolah meneror sang mantan dengan lirik-lirik menyindir dan cerdas. Dituliskan bahwa apa yang dilakukan sang mantan dengan kekasih barunya semua hanyalah "pengulangan" dan dengan yakin kekasihnya akan tetap mengingatnya sekalipun tengah bersama orang lain. Itulah mengapa ia mengangkat Deja Vu sebagai judulnya.
Lanjut dengan single ketiga yang release seminggu sebelum album, Good 4 U membuat kita merasakan hal lain. Musik up beat dan ketukan bass dan drum yang sangat enak diikuti juga masih menggambarkan patah hati. Namun, dalam lagu ini tertulis bahwa ia lebih ikhlas walaupun kekasihnya move on dengan mudah. Lagu ini sangat cocok menjadi penghibur dan pembangkit mood, oleh karena itu tidak salah jika hanya dalam kurun waktu 28 hari music videonya sudah mencapai 100 juta views, lebih cepat jika dibanding Drivers License.
Sour Tracks :
1. Brutal, dalam lagu yang dikemas dalam musik pop-punk, alt-rock, dan grunge yang di dalamnya juga terdapat element indie rock dan punk ini menceritakan tentang kebencian terhadap pemikiran orang lain bahwa masa remaja adalah masa terbaik. Dalam lagu ini justru menceritakan stress dan depresi masa-masa remaja yang berat.
2. Traitor, dalam lagu pop ballad ini semakin jelas terlihat bagaimana Olivia merasa dihianati. Walaupun kekasihnya tidak selingkuh, tetapi baginya waktu 2 minggu tidaklah masuk akal untuk mendapatkan penggantinya. Lagu ini menjadi salah satu lagu favorite dalam album ini, karena menempati posisi ke-4 dengan streaming terbanyak di Spotify setelah 3 lagu utama (Drivers License, Deja Vu, Good 4 U).
3. Drivers License
4. 1 Step Forward, 3 Steps Back, dalam lagu ini Olivia menuliskan bagaimana ia sulit melupakan. Ia masih merasa mantan kekasihnya memegang kendali penuh dalam hidupnya. Dan itu ia anggap sebuah kegagalan, karena setiap kali ia maju selangkah, maka ia akan mundur 3 langkah.
5. Deja Vu
6. Good 4 U
7. Enough For You, dalam lagu yang dikemas dengan musik akustik ini Olivia menceritakan bagaimana ia tidak percaya diri. Ia merasa belum cukup menarik jika dibandingkan perempuan-perempuan yang pernah bersama kekasihnya dan ia pun merasa itulah alasan mengapa ia kemudian ditinggalkan. Ia juga menuliskan bagaimana usahanya untuk terlihat cantik walaupun pada akhirnya tetap tidak mendapat pujian. (Fix, mantannya menyebalkan).
8. Happier, lagu ini mungkin menjadi lagu dengan lirik tersedih. Lagu ini menggambarkan keadaan seseorang sebulan paska putus, dan bagaimana ia membayangkan bahwa perempuan yang menjadi penggantinya memang jauh lebih baik dibanding dirinya. Ia berdoa semoga mantan kekasihnya itu bahagia, namun jangan sampai lebih bahagia jika dibanding ketika bersamanya. Menurut beberapa orang, lirik dalam chorus di lagu ini sangat realistis. I hope you're happy, but don't be happier. Itulah penggalan lirik yang kini dicover di berbagai media dan hingga viral di tiktok. Lagu ini menjadi single dengan streaming terbanyak ke-5 di Spotify.
9. Jealousy Jealousy, seperti judulnya lagu ini juga menceritakan tentang rasa iri atau cemburu seseorang. Mungkin ini akan relate bagi perempuan-perempuan yang gemar membandingkan dirinya dengan perempuan-perempuan "sempurna" yang bersliweran di Instagram.
10. Favourite Crime, dalam lagu ini dituliskan bagaimana ia menghamba dan melakukan apapun agar bisa mendapatkan seseorang, bahkan ketika melakukan kejahatan sekalipun. Lagu ini menempati posisi ke 6 stream terbanyak di Spotify.
11. Hope Ur Ok, mungkin di lagu terakhir dalam album ini sedikit berbeda dengan lagu lainnya. Hope Ur Ok menceritakan seorang lelaki dan seorang perempuan dalam kisah yang berbeda. Lagu ini seolah dituliskan untuk menyemangati orang lain, mengharapkan orang lain bahagia, dan secara tidak langsung membuat kita lebih bersyukur.
Secara keseluruhan SOUR album memang dibuat persis seperti namanya. Memiliki materi lagu yang sangat personal dan emotional. Album ini juga mengingatkan kita bahwa patah hati tidak sepenuhnya buruk jika diatasi dengan cara yang positif, seperti dituangkan lewat karya misalnya. Sebagai pendengar musik, mungkin ini akan menjadi salah satu album favorite sepanjang masa.
#SingleOnSite - Episode 12 Maling
Brutal - Olivia Rodrigo Lirik Terjemahan
I'm so insecure, I think
And I'm so caught up in the news
Of who likes me, and who hates you
And I'm so tired that I might
Quit my job, start a new life
And they'd all be so disappointed
'Cause who am I, if not exploited
And I'm so sick of seventeen
Where's my fucking teenage dream?
If someone tells me one more time
"Enjoy your youth", I'm gonna cry
And I don't stick up for myself
I'm anxious and nothing can help
And I wish I'd done this before
And I wish people liked me more
All I did was try my best
This the kinda thanks I get?
Unrelentlessly upset (Uh, oh)
They say these are the golden years
But I wish I could disappear
Ego crush is so severe
God, it's brutal out here
I feel like no one wants me
And I hate the way I'm perceived
I only have two real friends
And lately, I'm a nervous wreck
'Cause I love people I don't like
And I hate every song I write
And I'm not cool, and I'm not smart
And I can't even parallel park
All I did was try my best
This the kinda thanks I get?
But I wish I could disappear
Ego crush is so severe
God, it's brutal out here
(Just having a really good time)
Got a broken ego, broken heart
And God, I don't even know where to start
-
Bisnis sedang tidak mudah, harga batu bara sedang tidak sabil. Imbasnya? Jam kerja dipangkas dan 75% karyawan dipulangkan lebih awal. Lania ...
-
Udara panas Samarinda dilawan oleh semangkuk pisang ijo dan seporsi coto plus iga bakar di sebuah warung makan. Sepanjang turun dari a...
-
Baru sebulan terakhir Riza merasakan ia dan Lania penuh kecocokkan. Banyak bertemu, banyak mengobrol, pergi kemanapun berdua, di kantor pun ...

