Senin, 07 Maret 2022

Bab 5 - Dusta

 Udara panas Samarinda dilawan oleh semangkuk pisang  ijo dan seporsi coto plus iga bakar di sebuah warung makan. Sepanjang turun dari angkot, Riza enggan melepaskan genggamannya dari tangan Lania. Satu hal yang paling disukai Lania adalah ini, sentuhan. Lania merasa ketika kekasihnya melakukan itu di tempat umum menandakan ada sebuah deklarasi bahwa perempuan ini adalah milikku dan bagi Lania itu penting.

“Suka?” Riza mendapati Lania senyum-senyum sendiri saat Riza semakin kuat memegang tangannya. Lania mengangguk merespons itu.

“Sesuka itu sama aku?” Lania kembali mengangguk. Satu hal yang Riza sukai dari Lania, kejujurannya. Sedari awal mengenal gadis itu, Riza sudah disuguhi hal-hal tak terduga termasuk sikap Lania yang tak segan menunjukkan rasa suka dan bahagianya ketika bersama Riza.

“Aku nggak pernah kenal perempuan seceria kamu.” Itu yang meluncur dari mulut Riza kala itu.

 

*

 

Tiba di sebuah hotel, Lania dan Riza memutuskan memesan satu kamar sebelum Riza beranjak ke rumah omnya di kawasan Pasar Impres Baqa.

“Nanti kamu ikut ya.” Lania patuh.

Keduanya kembali menyusuri jalanan Samatinda menggunakan angkot hingga tiba di kediaman Om Ubed.

“Kapan sampai?”

“Barusan om.”

“Ini siapa?”

“Teman.”

“Disini tinggal dimana?”

“Di rumah keluarganya om.” Lania dan Riza saling pandang setelah Riza menjawab itu. Dalam pandangan itu ditemukan sandi-sandi kode yang menyiratkan mereka harus konpak dalam menjawab dan beberapa jawaban diantaranya adalah bohong.

“Keluarganya daerah mana?” Om Ubed menatap tajam pada Lania seolah menunggu jawaban itu langsung dari gadis itu.

“Loa janan om.” Cuma itu daerah yang Lania tahu tentang Samarinda, dan dengan spontan meluncur begitu saja dari mulutnya walaupun tetap dengan terbata-bata.

Tante Levi, istri dari Om Ubed mempersilakan mereka minum teh hangat dan menikmati kudapan berupa kacang atom buatannya sendiri. Dari tempat itulah awal mula muncul kebiasaan, Lania memakan bagian luar kacang atom, sedang Riza bagian kacangnya. Sebuah kolaborasi yang saling menguntungkan.

 

**

 

“Saudara di Loa Janan itu siapamu?” Om Ubed ternyata belum usai dengan pertanyaan-pertanyaannyya.

“Sepupu om.”

“Kerja dimana?”

“Di tambang om.”

“Suda lama disini?” Dan masih banyak lagi pertanyaan demi pertanyaan yang memaksa Lania berbohong lagi, berbohong lagi.

 

**

 

“Dia HRD loh di kantornya.”

“Serius?”

“Ya, paling nggak kebohongan tadi kentara.”

“Sinting ya kamu. Kenapa harus bohong sih.”

Riza mengangkat pundak, wajahnya tak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun.

 

*

 

Kabar kedatangan Riza dan Lania di Samarinda tersiar cepat hingga sampai ke telinga Bertha, entah darimana asalnya. Yang jelas kedatangan Riza dengan perempuan lain sebelum mereka benar-benar berpisah membawa awan hitam bahkah petir bagi Bertha.

“Nggak bisa banget ya kamu tunggu sebentar lagi?”

“Kenapa harus kamu pamer-pamerin di depan keluargamu?”

“Agustus itu nggak lama.”

Berkali-kali Bertha mencba menghubungi Riza, namun tak jua ia mendapat jawaban. Ketika kekesalah membuncah, keluarlah kalimat-kalimat tidak perlu yang bertujuan menyakiti hati Riza.

“Aku nyesel transferin kamu uang, aku pikir niatmu pergi untuk keluargamu, tapi malah sama cewek lain. Kamu seniat itu ya mau langsung move on?”

Tak jua pesan itu mendapat tanggapan, sementara Bertha menangis sejadi-jadinya. Ada ego yang terlukai, ego harusnya ia yang move on terlebih dahulu, karena ia yang lebih siap dengan perpisahan inj.

 

*

 

Saat sudah kelelahan menangis, Bertha tertidur dengan mata sembab. Ia tiba-tiba terbangun dengan nada pesan yang memang sengaja ia setting cukup nyaring. Pesan dari Riza.

“Nggak kok, dia cuma mau bareng aja kesini. Bukan siapa-siapa.

Dusta yang sedikit menenangkan Bertha.



To be cont...

Sabtu, 05 Maret 2022

Bab 4 - Lagu Kita

  

Berbahagia, bisa jadi hanyalah kata. 

Semu, tak nyata. Begitulah kita.

Walau aku rindu, kau belumlah milikku, utuh.

Tinggal menunggu waktu, selamanya kita mengucap setia.

Mungkinkah?

 

Lirik lagu yang ditulis dengan penuh keraguan itu disambut Badawi dengan notasi-notasi indah. Dua orang dimabuk cinta itu akhirnya membuat sesuatu. Badawi berkali-kali menjelaskan apa saja yang ia inginkan dari karya berdua ini, namun Lania yang tak begitu paham musik ini tetap sulit memahami walupun ia tetap kekeuh ingin menyanyikan sendiri lagu itu.

“Aku nggak yakin hasilnya akan sesuai harapan yang.”

“Nggak apa-apa, ini kan untuk disimpan sendiri ay.”

Jadilah lagu itu dirampungkan dengan rekaman seadanya yang hanya satu kali take, dan hasilnya sudah pasti jauh dari ekspektasi.

 

*

 

Selepas isya, Lania bertemu Badawi dan rekan-rekan band lainnya di depan loby hotel. Ini mungkin akan jadi malam terakhir sebelum Lania memutuskan berhenti bernyanyi di pub itu dan ingin fokus dengan profesinya sebagai pekerja kantoran.. Malam itu ia mengenakan blazer broken white dan rambut yang dibiarkan tergerai keriting. Lania berencana untuk membawakan lagu mereka untuk kali pertama di panggung, sekaligus mungkin menjadi kali terakhir. Badawi memulai dengan memainkan intro, lalu Lania dengan khidmat menunggu masuk ke bait pertama. Baru di bait awal Lania sudah langsung digeruduk perasaan galau dan berat hati akan meninggalkan Badawi. Badawi yang tak kentara merasakan perasaan serupa justru tampil maksimal memainkan harmoni di tengah-tengah lagu. Suara mereka menyatu dalam lagu kita yang menjadi tanda akan hubungan indah keduanya. Tak peduli pengunjung suka atau tidak, Lania dan Badawi hanya berusaha membawakan lagu itu dengan penuh perasaan. Malam sedih itu dihabiskan Lania berdua dengan Badawi di atas rooftop di kost Lania hingga subuh. Ditemani sebotol wine dan beberapa bungkus kuaci dengan perisa greentea. Mereka banyak berbincang, berpegangan tangan, saling menguji beragam kemungkinan saat mereka berpisah nanti dan Badawi selalu meyakinkan hubungan mereka akan baik-baik saja.

 

*

 

Tinggal menghitung hari sebelum Lania meninggalkan kota itu, ia dengan yakin ingin mengukir banyak kenangan bersama Badawi yang dipacarinya sekitar 8 bulan itu. Lelaki yang usianya 3 tahun lebih muda.

Lebih sering bertemu di studio, berjalan-jalan sore, merayakan ulang tahun Badawi yang dihadiri lengkap rekan-rekan pemusik, membelikan cake berukuran jumbo, surprise di dalam studio, lalu membuat dokumentasi foto ala-ala ABG jatuh cinta yang lebih serupa prawedding membuat keduanya dilabeli pasangan beda usia namun sangat cocok. Dan bagi Lania, Badawi memang tipe idealnya, baik secara fisik maupun hal lain terutama tentang musik. 

 

*

 

Mengukur jalanan Simpang Empat, Pasar Minggu, Plajau, Pelabuhan. Mencari pecel pincuk, nasi goreng rajungan, bihun Acil Anggi, es teler, Lania dan Badawi berbincang sepanjang jalan tentang banyak hal. Masa-masa indah yang memang tidak selamanya. 2 minggu LDR, dengan mudah Badawi menganulir setiap ucapan manisnya tempo hari, ia dengan yakin meminta putus entah karena alasan apa, karena semua menjadi tidak masuk akal dan sulit diterima Lania. Parahnya, kata putus itu terucap setelah Badawi berjanji dengan yakin akan mengunjungi Lania di bulan berikutnya. Bullshit.

 

Lagu kita yang penuh keraguan pada akhirnya terbukti sangat layak diragukan. Selamanya? Terlalu muluk jika keduanya mengharapkan itu, karena jarak sekian Kilometer saja sudah sangat cukup menjadi alasan padahal masalah di kehidupan tentu akan lebih berat dari itu. Lania membenci Badawi, terkhusus malam itu dan bisa jadi akan terus berlanjut hingga malam-malam sesudahnya.

 


to be cont...

Bab 3 - Rumor

  

Karyawan baru, pasangan  baru, bahan baru, rumor baru, semangat baru.

Seisi Cempaka Office kini tengah ramai dengan konspirasi bolosnya 2 karyawan yang diduga tengah pergi berdua. Pembawa kabar pertama adalah Oka, dan yang lainnya adalah Slamet atasan Lania. Oka dan Slamet antusias memimpin sebuah rapat ghibah yang dihelat di meja kantin sepanjang coffee break. Dijamu seceret kopi dan sepiring kacang kulit, meja itu menjadi menarik bagi siapapun yang melintas. Agendanya jelas, Lania dan Riza. Beberapa dari mereka pada akhirnya bertaruh.

“100 ribu pertama mereka nggak pacaran. Aku kenal Lania cukup lama soalnya.” Dharma, teman  lama Lania sejak di Bontang.

“100 ribu kedua mereka pergi berdua tapi nggak pacaran. Karena memang setau aku Riza punya pacar.” Kailani, orang yang cukup dekat dengan Riza.

“200 ribu mereka pacaran tapi bakal putus kurang dari 3 bulan.” Slamet bersemangat.

“Jahat lu met.” Tigor mesam-mesem dengan taruhan Slamet.

“Aku yakin Riza nggak mungkin serius. Dan Lania juga kayaknya agak nggak beres nggak sih?” Slamet menambahkan.

“500 ribu mereka pacaran tapi akan backstreet beberapa saat dan akan cukup langgeng.” Oka dengan cukup yakin.

Disusul taruhan-taruhan dari orang-orang lainnya yang juga tak kalah antusias dengan setiap kemungkinan-kemungkinan yang ditulis detail di catatan milik Oka. Mereka bubar ketika bel tanda coffee break berakhir berbunyi.

 

*

Dharma dan Tigor masih belum puas dengan hasil rapat ghibah plus pertaruhan tadi karena ditutup sebelum beberapa hal ia rasa clear.

“Gor, ngerasa aneh nggak sih?”

“Aneh gimana?”

“Lania, kalau sampai beneran dia sama Riza parah sih. Kamu ngerti kan maksudku?” Dharma yang cukup lama mengenal Lania masih belum terima dengan kemungkinan itu. Tigor mengangguk.

“Tipe Lania itu kan biasanya yang alim, baik, kalem.”

“Maksudmu Rumi?”

“Ya setipe Rumi. Sedangkan Riza?” Dharma melihat ke arah Tigor, mereka seolah berada di pemikiran yang sama.

“Ya kan?” 

“Iya juga sih.” Tigor setuju dengan isi kepala Dharma yang bahkan tak perlu ia ungkapkan dengan kata-kata.

 

*

Di sisi lain di dalam office, beberapa ibu-ibu sedang berkumpul di depan sebuah meja yang di atasnya bercokol sebuah nampan berisi buah-buahan dan sambal rujak. Sulit dihindari, itu situasi paling menarik ghibah lain yang tentu saja versi ibu-ibu.

“Korban selanjutnya nggak sih?” Emma dengan antusias.

“Setelah gagal dapetin elu kan?” Jeni menyahut sembari mengunyah mangga muda di mulutnya.

“Kamu sempat juga ma?” Dinda bertanya kaget.

“Dipepet terus, sampai jijik sendiri.” Emma memperlihatkan ekspresi geli.

“Sama aku juga gitu.” Dinda menambahkan. Jeni dan Emma kompak melihat ke arah Dinda.

“Iya, beneran. Ngechat gombal-gombal dan sekalian saja kuberitahu Mas Pane.”

“Gila ya, padahal Mas Pane kan bosnya.” Jeni menggeleng-geleng.

“Nah itu dia. Memang agak sakit sih kayaknya.” Nona yang ada disana pun spontan mengalihkan ingatannya beberapa waktu silam saat Riza juga merayunya dengan modus serupa. Beruntungnya saat itu ia gesit memberitahu Dharma dan langsung dibentengi kekasihnya itu dengan berbagai macam petuah-petuah dan nasihat yang akhirnya membuat Dinda tak perlu membuang banyak tenaga meladeni sikap sok kecakepannya Riza.

“Aku jamin Lania bakal ditinggal kok.”

“Iya, paling juga Riza Cuma coba-coba.”

“Lania bilang dia punya pacar kok. Memang sama-sama aneh sih kayaknya.”

“Ya cocok sudah.” Yang satu main-main, yang satu pun sama. 

“Biarin lah, nanti juga kena batunya si Riza kalau terus-terusan coba-coba jadi player amatiran.”

“Setuju.”


to be cont...

Bab 2 - Perjodohan

Berlari dari kenyataan, menarik kembali sebuah keputusan, kembali pada masa paling indah sekaligus menyengsarakan, apa mungkin? Bahkan pilihan menjadi sengsara pun masih tak tampak menakutkan dibanding pernikahan ini.

 

Malam itu satu malam penuh Bertha tak bisa menghubungi Riza. Kekasih yang sebentar lagi akan menjadi mantan itu seharusnya memang masih dalam genggamannya. Mereka belum putus bahkan ketika pernikahannya dengan Dave, lelaki pilihan orang tuanya itu tinggal menghitung hari. Bertha seperti tidak pernah rela melepaskan Riza yang sudah lebih dari 4 tahun menemaninya.

“Halo mas, Riza ada di kamarnya nggak? Soalnya kutelpon nggak bisa.” Bertha memberanikan diri menghubungi Oka, teman kost Riza yang jadi satu-satunya orang yang Bertha kenal. Lama perempuan itu menunggu balasan Oka, namun yang ia dapat jawaban yang tak sesuai harapannya. Ia merasa seperti dilupakan, padahal seharusnya ia yang melakukan itu lebih dahulu. Khawatir, hanyalah alasan yang paling mungkin ia pakai dibanding alasan curiga dan yang lainnya. Bertha gelisah sepanjang malam hingga beberapa hari kemudian, Riza benar-benar menghilang padahal sebelum itu Riza memintanya untuk mentransfer sejumlah uang.

Lamaran, foto prawedding, mengurus berkas ke KUA, persiapan gedung, katering, dekor, MUA, dokumentasi, seragam keluarga, tak mampu menyita pikiran Bertha seberat saat ia memikirkan Riza. Perasaan mereka berdua memang terlalu dalam, terlalu jauh, dan seharusnya, setidaknya bagi Bertha, tak mampu dipisahkan siapapun. Sayangnya, keadaan berkata berbeda.

 

Dalam kegelisahan, Bertha yang dalam hatinya pun diliputi rasa marah mulai mencoba mengalihkan pikirannya ke hal lain. Hal yang tetap membawanya pada ingatan tentang Riza, namun setidaknya tidak perlu memaksanya untuk terus menunggu kabar lelaki itu dengan putus asa. Bertha memusatkan emosinya dalam kepala, menatanya sedemikian rupa, dan mulai membuka folder “Personal” dalam laptopnya.

 

*

 

LDR, sebuah konsep hubungan yang sulit meyakinkan siapapun termasuk keluarga Bertha. 

“Cari yang lain saja.”

“Yang pasti-pasti saja.”

“Yang serius saja.”

Saja-saja lainnya yang membuat Bertha tersudut dan akhirnya mengiyakan saat ia harus diperkenalkan dengan Dave. Yang memang tidak begitu dengan paksaan, logika-logika sederhana yang jika dipikirkan ulang tidaklah salah. Riza tak mungkin bisa serius, sedangkan usia Bertha sudah menuju 25 tahun, usia yang dalam keluarga Bertha dinilai sangat terlambat jika belum menikah.

Pertemuan pertamanya dengan Dave ditemani Fitri, kakak ipar Bertha yang mengenal Dave saat berbisnis di Johor. Jadilah, ketika Dave datang ke Pekanbaru, Fitri mengatur segala macam hal agar keduanya bisa berkenalan. Sebuah restaurant di sebuah hotel di pusat kota Pekanbaru menjadi pilihan Fitri. 

Dengan cowl neck dress berwarna army dan rambut lurus yang dibiarkan tergerai, Bertha berjalan penuh percaya diri dengan stiletto berwarna hitam ditemani Fitri yang hanya mengantarkannya hingga loby hotel.

Saat melenggang menuju meja, Bertha sudah terfokus pada lelaki berjenggot tipis yang mengenakan tailored suit berwarna grey dan rambut tersisir rapi di sudut ruangan. Setelah berjarak sekitar 5 meter, lelaki itu berdiri dan melambaikan tangan pada Bertha.

“Hai.” Keduanya bersalaman dan Dave mempersilakan Bertha duduk. Malam itu menjadi malam yang membuat Bertha berpikir, mungkin perjodohan ini tidaklah terlalu buruk. Setelah malam itu, Bertha mulai membuka diri pada Dave dan seolah tidak pernah keberatan jika mereka melangkah ke hubungan yang lebih serius. Pikiran yang semakin menuju hari H, semakin ingin ia anulir. Bertha benci keputusannya.

 

*

 

 

Bab 1 - Wanita Paling Bahagia

Saat sedih bukanlah sedih, amarah bukanlah amarah, benci tak berarti benci, dan bahagia menjadi selamanya. Bagitulah saat bersamamu.

 

Membelah jalanan yang dikelilingi hutan Gunung Rambutan, Lania dan Riza tak hentinya berbagi dekap, cerita, dan jokes receh yang mempertemukan tawa keduanya di udara. Bolos dan menempuh perjalanan jauh berdua, setelah jadian kurang dari seminggu memang hal paling berani yang dilakukan Lania.

Udara malam yang dingin ditambah AC bus membuat keduanya tak berhenti terus saling mendekap. Saat tengah malam, Lania mengeluh kakinya kedinginan, dan Riza dengan sigap menggamit gulungan sepasang kaos kaki perempuan berwarna putih dengan aksen pink di bagian tungkai yang membuat Lania sedikit bertanya-tanya.

“Punya siapa?”

“Punyaku. Salah beli.”

“Oh.” Lania senyum mengangguk enggan membahasnya lagi, walaupun ia tak begitu percaya jawaban itu. Lania membiarkan Riza memasangkan kaos kaki itu. Ia memperhatikan wajah Riza yang hanya terlihat samar-samar lewat pantulan cahaya lampu jalanan yang menjadi sangat redup sampai ke dalam bus. Lelaki itu tampak sulit tidak membuatnya bahagia. Lania tak hentinya memasang wajah sumringah dan penuh cinta.

Banyak mengobrol membuat keduanya sukar menghindari topik-topik sensitif. Mantan pacar, masa lalu, alasan gagal, kadar perasaan, masih sayang dan tidak, keluarga, aib, dan lain-lain. Semua dengan leluasa mereka bahas tanpa batasan apapun dan tetap merasa nyaman. 

Namun, satu hal yang akhirnya membuat mood Lania berubah.

“Aku pergi kali ini pinjam uang Bertha.” Lania terdiam, ia kesal bukan main karena setahu dia Bertha adalah mantan kekasih Riza. Namun, hanya sesaat kalimat itu merusak suasana, dalam sekejap Lania bisa kembali membangun suasana seperti awal dan berusaha tidak lagi membahas itu dan menikmati perjalanan hingga tertidur.

“Kacang, Akua, Mijon. Kacang, Akua, Mijon.” Lania terbangun saat mendengar dan merasakan seseorang meletakkan sebungkus kacang dan minuman kemasan di kursinya. Ia mencari-cari dimana Riza namun tak kunjung menemukan tanda-tanda dimana lelaki itu. Sekeliling sudah ramai dengan orang-orang yang silih berganti masuk ke dalam bus berjualan segala macam makanan. Dari kacang-kacangan hingga nasi bungkus, dari minuman kemasan hingga es plastikan. Di luar bus juga tak kalah ramai, para penumpang bus mulai berhamburan turun dan tersebar di toilet, warung, mushola, dan beberapa bersantai di depan deretan bus sekedar untuk mengobrol atau merokok. Lania memutuskan turun dari bus dan mencari Riza.

Masih dengan kesadaran yang belum begitu sempurna Lania meninggalkan bus berharap tidak begitu sulit menemukan yang ia cari. Benar saja, dari kejauhan tampak lelaki dengan tubuh tinggi tengah memecah kerumunan. Pada dini hari Riza masih menjadi seseorang yang menarik di mata Lania, dengan kaos berwarna putih bergambar Nirvana, celana denim dengan sobekan di bagian lutut, sneakers berwarna navy, dan wajah yang tampak lebih cerah dibanding manusia-manusia lain yang Lania lihat saat itu membuat Lania tak sanggup menahan senyum dan perasaan berdebar yang sulit ia kendalikan. Jatuh cinta.

“Mau kemana?” Suaranya yang terdengar sedikit serak karena udara malam, senyum simpul yang tersungging, dan telapak tangannya yang dengan cepat mendarat di kepala Lania, membuat gadis itu tak punya persiapan untuk menghadapi kondisi itu. Jantungnya nyaris copot, hatinya menghangat sekaligus berdebar, perutnya melilit, dan respons terhadap semua itu jelas menjadi di luar pikirannya. Lania tak canggung memeluk Riza yang ada di depannya. Bukan baginya, mungkin bagi tubuhnya reaksi itulah yang paling natural terjadi saat itu. Riza pun membalas pelukan itu dengan dekap yang sama. Tak ada dingin, tak ada orang lain, waktu sedang dibekukan oleh wanita paling bahagia di muka bumi. Lania.

 

*

 

Belajar dari pengalaman dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. LDR? No way. Lania memusatkan pikirannya pada keyakinan kekasihnya berikutnya tidak boleh jauh, kalau bisa sedekat mungkin. Dan, ya tidak sulit. Dalam hitungan hari ia sudah tahu akan mengarahkan jebakan itu kemana, dan terhitung hanya butuh waktu kurang dari 2 minggu ia mendapatkan orang itu. Sebuah proses yang tak bisa diprediksi siapapun, kilat, dan tentu saja mengundang banyak pertanyaan disana-sini. Lania? Ia sudah terbiasa dengan itu. Ia terbiasa tanpa pikir panjang memutuskan berpacaran dengan orang lain, dan biasanya tanpa pikir panjang pula ketika ingin putus. Baginya hubungan setidakpenting itu.

“Break? Memang dia pikir aku apa? Aku mau tunggu dia? Taik lah.” Lania kesal dengan bahasa kiasan yang digunakan Badawi saat meminta putus, semua diperhalus mungkin dengan tujuan agar tidak terlalu menyakiti walaupun pada akhirnya lebih menyakitkan bagi Lania.

“Kalau kita jodoh pasti balik kok.”

“Ogah.”

“Aku masih perlu bantuan uang kuliah orang tuaku, jadi mau nggak mau aku harus nurut.”

“Alasan.”

“Padahal liburan kali ini aku rencana kesana.”

“Halah lamis.”

“Mereka nggak setuju karena kamu kerja di pub.”

“Kamu sendiri kerja disana bangsat.”

“Mereka pengen calonku PNS.”

Kalimat itu yang menghentikan segala macam perdebatan dalam batin Lania. Oh okay, PNS? Jelas itu bukan dia. Kalimat itu yang pada akhirnya memukul mundur Lania dan memaksanya menjadi lebih terima dengan alasan-alasan tidak masuk akal yang sebelum-sebelumnya ia dengar dari Badawi. Wajar, Badawi anak salah seorang kepala dinas di Tanah Bumbu, ayahnya tentu ingin yang terbaik untuk anaknya. Sedang Lania? Hanya lulusan SMA yang karena faktor hoki bisa bekerja kantoran. Sangat jauh dari tipe ideal bapak-bapak yang merasa berhak mengatur penuh hidup anaknya termasuk soal jodoh. Sialan.

Memilih Riza menjadi angin segar di tengah-tengah hubungan Riza yang sebenarnya juga baru saja berakhir dengan Bertha. Lania enggan bertanya lebih banyak, ia memilih tidak terlalu peduli dengan masa lalu Riza. Yang terpenting adalah saat ini. Karena ia juga enggan jika diwajibkan menceritakan dengan rinci bagaimana hubungannya sebelumnya. Hubungan yang tak pernah bertahan lama, hubungan yang selalu gagal dengan berbagai macam cara, hubungan yang bahkan beberapa malu ia akui. Setidaknya, Badawi adalah mantan terbaik yang pernah Lania miliki. Lupakan para pecundang-pecundang tengik yang pernah memacari Lania, yang cuma demi sepasang sepatu futsal ori import, atau persetan dengan brondong yang hanya mencari Lania saat ia putus dengan pacarnya, atau bodo amat dengan lelaki alim yang bersikap baik pada Lania hanya untuk kemudian meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Acungan jari tengah untuk mereka semua. Lania mengutuk kehidupan cinta super bodoh itu, walaupun ia lupa beberapa orang lain yang justru ia perlakukan tidak adil. Lania lupa ia pun seringkali berlaku tak adil, PHP, memutuskan sepihak, ghosting, mencari-cari masalah agar putus, selingkuh, apalagi? Banyak. Lania memang tidak semalaikat itu, ia cukup kejam untuk perihal hubungan. Jadi, tidaklah salah jika ia diperlakukan hal sama.

 

**

 

Label wanita paling bahagia, lagi-lagi ia sematkan ketika memulai hubungan di satu dua minggu pertama. Kita lihat bagaimana selanjutnya.



to be cont...

 

Rabu, 09 Februari 2022

Hidup Yang Tidak Selalu Adil

Kapan aku bisa menuliskan rinci setiap keping hal yang terjadi dalam hidup? Aku masih belum berani telanjang tentang diriku, masa kecil, masa lalu, trauma, perasaan kecewa terhadap hidup, hubungan yang tak pernah berhasil, impian yang belum terwujud, semua masih kuceritakan dengan sembunyi-sembunyi dan kusimpan dalam kepalaku dengan rapat. Mengingatnya saja aku ogah, apalagi sampai pada level menertawakannya, belum, aku belum ada di sana.
Beberapa hal kecil saat ini bisa memicu tangis yang tersedu-sedu, sesederhana fasilitas yang saat ini dengan mudah dirasakan orang lain yang dulu aku berdarah-darah mendapatkannya. Lagi-lagi, hidup tak selalu adil.
Aku ingin melepas setiap keping ini dengan gamblang, terbuka, semoga orang-orang yang ada di dalam cerita tidaklah keberatan.


#Soon - LM

Sabtu, 05 Februari 2022

Bertemu

"Air paling jernih pun bisa jadi berjelaga kalau diendapkan segitu lama."
"Begitu pun kita?"
"Kita cuma perlu ngaduk biar mereka kembali satu, right?"
"Mereka satu dari awal."
"Bullshit."
"Belajar dengerin orang lain."
"Oh orang lain? Bukannya kita satu?"
"Kamu cari-cari jelaga yang sebenarnya nggak pernah ada."
"Kamu lupa orang bisa berubah karena waktu."


Di otak Keswari yang berisik, ia menemukan frekuensi bincang yang disana ada dia dan Kane. Bincang yang tak pernah terjadi di antara mereka, tetapi selalu ia bayangkan. Kepala mereka berdua mungkin saja menyimpan unek-unek itu dengan rapi, melepaskannya nanti saat bertemu.

"Sepenting itu ternyata kemungkinan kita kembali ketemu?" 

Rabu, 26 Januari 2022

Namamu

Dari aku yang mampu melihat senyummu di punggungku.

Satu dua angin membawa namamu ke telingaku, terdengar namun tak membuatku bergetar, kamu muda itu yang kutahu.
Purnama ke 60 hadir sudah, namun namamu belumlah punah, satu dua angin masih belum bosan hadir, menyampaikan namamu lewat senyum dan salam-salam yang ditolak alam pikir.
Kini kuberanikan diri mengundang satu dua angin, kuizinkan mereka membawa namamu, kembali semua terasa biasa saja sampai. . .

Jumat, 31 Desember 2021

Mengikutimu - Mengarsipkan Perasaan

Dear Diary, hari ini 7 december 2021.

Sudah hari ketiga aku memfollow IG orang itu. Beberapa hal terpaksa harus kusimpulkan.

Ia orang yg agamis, ia berpikiran rumit, ia seringkali ragu-ragu, terlihat dari sorotan dan postingannya tentang doa, lalu juga kebiasaanya memposting story lalu menghapusnya beberapa saat kemudian. Ia gemar naik motor, gemar pergi ke tempat-tempat cantik, 1 2 point itu cukup membuatku terkesan.

Ada beberapa hal yang membuatku berpikir ia pastilah orang yg tidak selalu mulus dalam hubungan. Tetapi ia juga orang yang mudah mengenal orang lain, mudah berteman, terlihat dari following dan kolom komentar di postingannya yang tampak selalu ramai. 

Mungkin ekspektasiku tidak serta-merta benar, tetapi bisa jadi benar, kalaupun tidak aku ingin mengarsipkan perasaan hari ini. Perasaan jatuh cinta pada pendengaran pertama. Apakah dia sudah menyadari bahwa di dunia ini ada makhluk bernama "aku"?

Sebuah tulisan yang ketika Vayana membaca ulang beberapa menit kemudian ia merasa geli sendiri.

"Jijik sekali kamu Vay. Jangan sampai ada yang baca tulisan ini." Rapat-rapat ia simpan buku tebal bergaya etnik bersampul kulit itu ke dalam lemari, ia tumpuk dengan box hair dryer, catok, dry box kamera, dan perintilan-perintilan lain agar tidak kentara.

**

Menghadapi pekan sibuk, annual stock take dan closing pembukuan segala macam hal membuat Vayana kelelahan. Disaat semacam ini biasanya ada seseorang tempat ia meluapkan keluh kesah. Orang yang sebenarnya juga tampak tidak nyaman menerima setiap aduan.

"Iya, jangan ngeluh terus ah."

"Yang semangat dong."

"Ishhh, lemah."

"Sedikit-sedikit sakit, tapi sukanya telat makan, nggak pernah olahraga."

Kalimat-kalimat yang terngiang-ngiang di kepala terus coba ia hapus. 

"Sial, kenapa rasanya jadi menyebalkan."

Tetapi pikirannya yang lain mendadak punya ide. Iya ingin mengarsipkan perasaan ini kakau-kalau bisa ia jadikan senjata untuk membuat sesuatu. Pelan-pelan Vayana menulis bait demi bait tulisan untuk menggambarkan hal-hal menyesakkan yang saat ini ia rasakan.

Desak

Ingin kutinggalkan semua hidupku di sini

Pergi jauh ke tempat baru

Agar lepas beban

Lepas semua desakan


Menikah bukan tujuanku kini

Bolehkah kupikirkan nanti

Aku hanya ingin , menyembuhkan diri

Tanpa pelarian lagi


Kalimat yang jika diamati ulang lebih mirip lirik lagu itu menjadi perantara perasaan Vayana, sekalipun tak semua bisa ia wakilkan dengan itu. Vayana berusaha mengorek-mengorek perasaan mengganjalnya namun tak banyak kata bisa ia keluarkan. "Ah, setiap kali coba diingat, malah lebih sering lupa." Muncullah sebuah gagasan baru setelah keluar satu kalimat majemuk yang tak sengaja terlontar itu.

"Iya ya, semakin diingat, semakin lupa. Semakin dilupakan, semakin ingat. Sepertinya perasaan tersiksa itu memang lahir dari penolakkan kita terhadap arah angin, kita terlalu sering melawan, sehingga lelah sendiri kan?" Vayana bergumam, namun jelas sekali itu meluncur dengan lancar dari mulutnya.

"Sang filsuf bersabda." Suara Freya di depan pintu meracau dan merusak konsentrasi Vayana.

"Keluar nggak?" Vayana berteriak dan melotot ke arah adiknya itu sambil melempari bantal guling dan lainnya.

"Ampun, ampun." Freya berlari keluar dan masih terus mengejek.

"Diaaaaaam." Mama mulai frustasi melihat kedua anaknya yang ribut hampir setiap hari.


To be cont...

Mengikutimu - Kemustahilan yang Disemogakan

"Kriboooooooo." Gedoran pintu dan teriakan tak membuat Freya tergerak. Pagi itu seperti biasa Vayana harus pergi bekerja, dan sudah mendekati waktu berangkat ojek andalannya belum juga keliar kamar.
"Bangun woy." Vayana berusaha membuka gagang pintu walaupun tak mungkin berhasil karena terkunci dari dalam. Ia melakukan agar tingkat berisiknya lebih terdengar.
"Ok, motor kubawa." Vayana menyerah, ia langsung meraih kunci cadangan dan helm lalu bergegas keluar.
"Tunggu kak." Tiba-tiba di belakangnya barulah Freya berteriak.
"Lelet, aku berangkat sendiri aja." Vayana kesal.
"Aku mau bawa motornya nanti siang." Freya langsung keluar dengan celana pendek dan kaos Bali yang sudah lecek, serta muka bantal dan rambut awut-awutan. Gadis itu siap menganyar Vayana menuju halte.
"Mana maskermu?"
"Nggak usah ah."
"Ya terserah, kalau positif jangan ajak-ajak."
"Idih amit-amit." Freya melajukan motornya melewati rumah-rumah yang masih sunyi senyap. Hanya ada beberapa pekerja yang melintas berjalan kaki, bersepeda,maupun dengan motor. Dengan kondisi seperti itu, bertemu gebetan adalah hal yang sangat tidaklah mungkin. Tapi saat menurunkan Vayana di halte, tiba-tiba Freya melihat sosok yang dari semalam membuatnya sulit tidur. Spontan ia memalingkan muka, memutar arah, dan menarik gas dengan kencang. Vayana bingung melihat adiknya yang terburu-buru bahkan ban motornya nyaris slip.
Dengan jantung yang seperti mau copot, dengan tubuh yang gemetar, dengan penglihatan yang masih belum bekerja sepenuhnya, dengan pakaian yang cukup membuat angin masuk tanpa aba-aba, dengan perut yang mual, dengan berbagai hal-hal minus di pagi buta Freya hampir saja muntah disaat yang sama.
"Shit."
Sampai akhirnya Freya sadar akan sesuatu. Ia langsung membuka instagram second accountnya dan menemukan Rashif masih berada di Bandung 6 jam yang lalu.
"Jadi yang aku lihat tadi? Bangsat." Freya mulai halu.

**

"Kenapa Fre?" Di depan pintu mama menyambut Freya yang masih tampak tidak stabil.
"Ma, bawa aku ke psikolog dong."
"Kenapa emangnya?"
"Kayaknya aku mulai halu deh ma, masa aku lihat Kak Rashif barusan, padahal dia sekarang lagi di Bandung."
"Rashif? Idolamu?"
"Iya." Mama langsung merespon dengan wajah ilfil dan bergegas kembali masuk ke rumah.
Freya menghamburkan diri di atas sofabed di depan Teve, lalu berteriak-teriak tak jelas. Dari pembatas dapur dan ruang keluarga mama melempar wajah anaknya itu dengan serbet.
"Diem woy, masih pagi."
"Kalau agak siangan boleh berisik nggak ma?"
"Gustiiiiii, ada nggak hukumnya anak yang suka ngejek orang tua." Kali ini gantian mama yang berteriak. Freya langsung terpingkal-pingkal melihat tingkah ibunya. 

**

"Kemana? Nggak sarapan dulu?"
"Nanti aja, ntar ngantrinya panjang lagi."
"Mau kemana emang?"
"Nyalon ma, biar pas nanti sekolah tatap muka aku udah keliatan cantik."
"Idih, semacam punya duit aja."
"Banyak lah. Aku pergi dulu ya." Dengan rambut keriting tergerai, Freya pergi ke rumah sahabatnya, Jasmine. Berbekal masker wajah, masker rambut, lulur, sampai lemon dan baking soda Freya berencana bermain salon-salonan dengan Jasmine. Tidak lupa dibarengi nonton video-video BTS.
"Kalau sampai awal tahun aku belum ditembak gimana ya?" Mulailah topik cinta-cinta ala Jasmine dan Freya dimulai.
"Ya tembak aja duluan."
"Anjir, ogah." Jasmine merespon sedemikian, tetapi dengan raut wajah senyum-senyum malu-malu kucing. Seperti tidak sinkron antara ucapan dan perbuatan.
"Ya nggak papa, daripada penasaran." Freya si pakar cinta yang jomblo seumur hidup sok-sokan memberi nasihat.
"Takutnya kita jadi renggang." Jasmine menghela nafas dalam.
"Lebih takut kalau dia nggak tau." Freya sok meyakinkan.
"Lah, kamu sendiri gimana sama Kak Rashif?"
"Nggak gimana-gimana."
"Berani nembak duluan?"
"Berani lah, tapi nanti saat pelurunya sudah bisa tepat sasaran."
"Pret ah." Jasmine tahu betul Freya hanya asal bicara. Sahabatnya itu sudah seringkali naksir seseorang dan selalu berakhir gagal. Rashif mungkin akan jadi target gagal yang kesekian.
"Pokoknya kalau aku sudah cantik, terus aku juara kelas, tampil lomba pidato, dan info tentang Kak Rashif lengkap terpenuhi,  dia bakal kutembak." Freya senyum-senyum sendiri membayangkan saat itu tiba.
"Kok kayaknya itu mustahil ya?"
"Heee dasar, didukung kek." 
"Haha iya iya."


To be cont...

Mengikutimu - Jatuh Cinta Pada Pendengaran Pertama

Mengiyakan ajakan Aira dan Syarif untuk keluar rumah adalah hal yang tepat. Malam itu dengan negosiasi alot akhirnya mereka bertiga yakin turun ke jalan-jalan dan mampir ke Pekan Raya Tabalong.
"Ini crowded pertama selama covid nggak sih?" Setengah berteriak Vayana mengajak Syarif mengobrol dalam kerumunan. Di belakangnya Aira mengekori dengan menautkan tangan ke lengan kanan Vayana dan berusaha memecah manusia yang berdesakkan di antara mereka.
"Delta Omicron, lupa semua kayaknya." Aira sedikit menarik lengannya. 
"Kayaknya kesana agak lowong deh." Syarif memimpin di depan sebagai pomecah kerumunan lalu mengajak mereka ke suatu tempat. Benar saja, lebih lega karena stand-stand yang ada di sekitar area itu tidak terlalu penuh.
"Eh, kok jadi pengen gulali ya." Vayana nyeletuk.
"Nggak usah aneh-aneh deh." Aira sinis.
"Itu ada yang deket." Tanpa permisi Vayana melangkah ke paman-paman penjual gulali di deretan stand kuliner tak jauh dari tempat mereka berdiri. Secara otomatis Syarif dan Aira mengikuti di belakangnya.
"Setelah mengeluarkan selembar uang Rp 10000, Vayana dengan girang membawa sebungkus gulali berwarna biru kuning pink itu. Lucu, batinnya. Tetapi kesenangan itu seketika rusak ketika melihat salah satu bocah membawa sebuah gulali dengan motif Mickey Mouse yang super lucu.
"Yah, salah tempat kan? Tuh lebih kece Vay." Goda Aira.
"Iya eh, kita cari yang kayak gitu yuk." Vayana merengek.
"Udah ini aja juga sama kok, dimakan dulu yang ada, baru mikir beli lagi." Syarif ngomel, Vayana patuh.
Mereka bertiga kembali menyisir stand-stand kuliner yang ada, banyak pilihan, tetapi Vayana justru tertuju pada minuman pastic cup yang biasanya mengandung pemanis buatan.
"Vay, yakin beli disini?" Aira sangsi.
"Yakin aja." Sambil menyeruput es sirsak.
"Fix, ni bocah nggak pintar milih." Aira dan Syarif geleng-geleng. Ketiganya masih di tempat itu sampai pertunjukkan tradisional suku dayak yang mereka tonton berakhir.

**

"Terlalu cepet nggak sih kalau kita pulang sekarang?" Sebuah kalimat pancingan untuk lanjut ke lokasi berikutnya.
"Kita lanjut kemana?" 
"Gimana kalau ke kedai kopi yang di jalan Nurdin Saleh." Usul Syarif.
"Recommended nggak?"
"Lumayan, kopinya enak kok."
"Ya udah, ayok."
Ponsel mereka yang kehilangan signal karena kerumunan akhirnya mulai diberondong notifikasi. Pesan-pesan masuk namun Vayana tetap yakin tidak akan membukanya saat itu.
Tiba di sebuah cafe bergaya outdoor di pinggiran kota dan cukup jauh dari keramaian, Vayana memesan segelas coffee brown sugar, sedang yang lainnya memesan mocktail, mereka memilih duduk di salah satu meja kaca bundar. Tak banyak pengunjung kala itu, hanya terisi 3 meja. Yang satu sepasang muda-mudi, yang satu lagi rombongan 4 orang pemuda yang jaraknya tidak jauh.
Dengan jarak itu Vayana merasa sedang dalam radar seseorang. Kharismanya teramat kuat, bahkan tanpa Vayana melihat wajahnya. Di sela-sela obrolan, terdengar suara yang entah mengapa menarik perhatiannya. Sengaja Vayana mencuri dengar, lelaki itu membahas motor, musik, fashion, dengan bahasa yang jelas sekaligus tertata, suaranya pun tak kuasa memancing debar, merdu sekali. Ditaksir, usia lelaki itu jauh lebih muda.
Bermain UNO seolah menjadi alasan saja, karena fokus gadis itu bukan disana. Volume suara ia kendalikan sedemikian rupa agar tak begitu kentara getar yang muncul akibat perasaan tiba-tiba itu. Vayana melirik meja sebelah, namun tak ia dapati wajah lelaki itu, ia hanya menangkap rambut gondrong pada lelaki berkaus putih dan berkulit tampak bersih, Vayana yakin lelaki itulah pemilik suara itu. 
Kegugupan tak berdasar itu semakin tak berhasil ia atasi, untungnya baik Aira mau Syarif tak cukup peka untuk menyadari keadaan itu.

**

Sepulangnya dari tempat itu Vayana langsung mengecek dimana kira2 ia bisa tahu siapa lelaki itu. Dan, instagram pemilik cafe lah sumbernya. Tampak repost story di akun official cafe, dan sudut itu tepat datang dari tempat lelaki itu duduk. Akun bernama Taka underscore 5 kali.

Vayana membuka profil lelaki itu dan benar saja ialah orangnya, terlihat dari siluet rambut gondrong yang mudah dikenali. Dalam akun itu terdapat 11 postingan dan berdasarkan kemampuan menguntitnya, Vayana yakin "dia single". 

**

Esok harinya Vayana memberanikan diri untuk memfollow terlebih dahulu, dan dalam waktu beberapa menit ia mendapat followback. Gadis itu tidak berani jika harus mengirim pesan atau menyapa terlebih dahulu, tetapi ia hanya ingin lelaki bernama Taka itu tahu bahwa ada orang sepertinya di bumi, ia hadir, ia ada, dan boleh jika ingin dipertimbangkan apakah Vayana bisa menjadi teman atau tidak.  Setidaknya, itulah isi kepala gadis itu. Walaupun itu terlalu jauh.

Saat ini, setiap kali Vayana membuka IG dan melihat profil lelaki asing tu, hatinya menghangat, jiwanya penuh gejolak, tak menentu, penuh semangat, dan banyak doa terselip diantara itu. Ia ingin mengenalnya, semoga Tuhan mengizinkan. Aamiin.


To be cont...

Mengikutimu - Mencari Yang Pertama

Akhirnya, moment manis yang ditunggu sebagian besar ABG datang di kehidupan Freya. Sweet seventeen, punya KTP, punya SIM, dihitung sebagai dewasa, dan hal-hal menyenangkan lainnya dibayangkan Freya dengan senyum-senyum sendirian di kamar. 
"Fre, makan." Dari luar kamar terdengar suara mama. 
"Iya." Dengan langkah cepat Freya menghampiri meja makan yang sudah siap dengan aneka menu itu.
"Wih, sambel pete. Tumben ma."
"Buat ABG." Mama senyum-senyum.
"Aku juga ABG ma." Vayana tak mau kalah.
"ABG tua ya kak." Freya melirik.
"Berani ya?" Kakaknya tak terima.
"Selamat ulang tahun nak." Mama mengeluarkan sebuah kue dari dalam kulkas.
"Nyanyiin dong ma." Minta Freya.
"Dikasih kue aja udah sukur." Vayana kesal.
"Ih sirik aja." 
"Happy bithday to you." Mama mengikuti kemauan anak bungsunya itu untuk bernyanyi. Meja makan terasa hangat sebelum mereka tiba pada topik sensitif.
"Vay, kapan pacarmu kesini?"
"Sudah putus ma."
"Lagi?" Vayana mengangguk.
"Kakak emang nggak serius ma." Freya nimbrung.
"Anak kecil diam." Mama melotot.
"Kenapa lagi sih Vay?"
"Biasa lah, nggak cocok."
"Masalahnya ada di kamu kan?"
"Mungkin."
"Makanya kamu berbenah lah, sampai kapan mau sendiri terus."
"Sampai ketemu yang cocok."
"Itu terus, sampai berbusa mama ngasih nasihat." Vayana nyengir, tak banyak yang menyadari bahwa hari itu keadaan hatinya sedang tidak baik, tetapi ia enggan bercerita kepada siapapun, takut malah dia kena semprot.
"Ma, berarti aku sudah boleh punya pacar kan?" Freya tiba-tiba membuka topik aneh.
"Siapa yang ngelarang?" Mama menyahut santai.
"Aku naksir kakak kelas ma, anak futsal, ganteng, juara pidato, ketua rohis, perfect." Dengan santai Freya menceritakan itu pada mamanya.
"Iya terserah kamu." Lagi-lagi mama menanggapinya dengan santai, atau lebih kepada tidak terlalu tertarik.
Dalam obrolan itu, Vayana justru sedikit risih mendengar adiknya yang tanpa tedeng aling-aling bisa cerita segamblang itu dengan ibunya, sementara dia selama ini hanya berani bercerita jika ditanya itupun ia jawab secukupnya, tak mungkin ia bisa cerita sesantai itu. Dan buat apa?
Vayana buru-buru menyelesaikan hidangan di depannya dan kembali ke kamar. Ditinggalkannya ibu dan adiknya yang masih asik membahas cerita-cerita asmara ala ABG yang menggelitik telinganya. 

**

Masih di meja makan, Freya asik membuka-buka profil seseorang. Menggunakan second account ABG itu melakukan rutinitasnya menguntit. Mulai dari mengecek feed, story, reels, IGTV, sampai ia menghitung jumlah following dan followers apakah ada yang berubah atau tidak, lalu ia dengan telaten membuka kolom komentar dan melihat siapa saja yang membubuhkan like pada setiap postingan, dari sana barulah satu demi satu profil ia buka berharap menemukan informasi tambahan tentang Rashif, gebetannya.
Misinya kali ini harus punya pacar, agar ia bisa membebaskan diri dari predikat jomblo dari lahir.

To be cont...

Mengikutimu - Asuransi Yang Hilang

Anehnya, perasaan biasa-biasa saja itu tetap melahirkan sedih dan kecewa ketika harus kandas. Naif, ketika Vayana selalu berpikir bahwa ini adalah labuhan akhir, dia adalah orang yang tepat, sampai tua akan dihabiskan dengan orang ini, bla bla bla, khayalan yang sudah dirancang sedemikian rupa harus direlakan dalam sekali bincang. Bukan tanpa sebab, melainkan ini sudah menjadi topik utama selama setahun terakhir.
"Kalau kamu serius, ayo sekarang. Kalau kamu nggak siap, terus kapan? Aku nggak bisa terus-terusan nunggu." Kalimat demi kalimat yang membuat suasana bincang malam itu mencekam, topik macam apa ini?
"Aku serius, tapi jangan sekarang." Vayana ingat persis ia masih kesulitan memberikan alasannya.
"Ingat umur kita sudah berapa?" Suara tegas dan keras keluar kali pertama dari lelaki itu.
"Aku nggak mau kita nikah karena pertimbangan umur." Vayana kesal.
"Dan orang tuaku juga ingin segera." Tambah lelaki itu.
"Apalagi itu? desakkan society? No sayang, aku nggak bisa kalau alasannya cuma itu. Aku pengen kita melangkah karena kita memang benar-benar siap bukan karena orang lain. Dan sekarang kurasa belum." Vayana dengan logikanya yang sulit diterima.
"Kurang lama gimana lagi kita pacaran? Seharusnya yang nuntut masalah ini perempuan." Suaranya terus meninggi diikuti suara bantingan pintu dari balik telepon.
"Please, kasih aku waktu sedikit lagi. Sabar."

**

Tak perlu banyak menunggu, pembicaraan itu berakhir dengan putusan mutlak mereka harus berpisah. Vayana yang merasa perasaannya terhadap kekasihnya itu biasa-biasa saja ternyata tetap bersedih. Ia menghabiskan berjam-jam hanya untuk menangis dan menyesali entah apa. Karena dipaksa bagaimanapun ia belumlah siap, dengan alasan yang tetap sulit ia terjemahkan. 
Beberapa bulan lalu saat hubungan ini berjalan lebih dari setahun, Vayana ingat sekali ia berpikir hubungan ini bukan sesuatu yang terlampau penting, tetapi alasan mengapa ia bersedih masih menjadi rahasia hingga bengkak di matanya kini terlihat kentara.
"Apa tanpa aku sadari perasaanku memang berubah jadi sayang? Rasanya nggak."
"Apa sekarang aku mulai berharap? Nggak juga."
"Terus apa Vay?" Pertanyaan demi pertanyaan hingga kemungkinan-kemungkinan menggelayuti kepala Vayana dan akhirnya ia menemukan jawaban.
"Dia adalah seseorang yang menjamin aku bisa menikah saat aku bosan dengan kesendirian dan kesepian, sementara di usia 28 tahun ini aku sudah terlalu sibuk untuk mengenal dan mencintai orang yang baru. Tetapi asuransi itu seketika hilang, tanpa ancang-ancang." 


To be cont...

Sabtu, 27 November 2021

Jika Kita Tidak Berpisah

Setiap hari kubuka mata, kulakukan semua dengan sepenuh hati, kuabaikan lelah, kucurahkan segala macam tenaga untuk sesuatu yang kusadari tak memiliki ujung, hanya untuk memastikan, aku masih berguna dalam hidup. Kubiarkan aku bersedih sesekali, lalu lanjut lagi berlelah-lelah demi entah apa. Yang kutahu, tujuanku hanya hidup sendirian di masa depan, karena duniaku sudah berakhir 5 tahun lalu. Tidak ada yang mengerti sulitnya hidup dalam sesal dan ketidaktahuan. Aku hanya dipaksa baik-baik saja lalu melanjutkan hidup sesuai ekspektasi orang sekitar.  LM

Rabu, 17 November 2021

Jika Kita Tidak Berpisah

Tidak banyak perbendaharaan kata yang kumiliki, sekeras apapun aku berusaha mengingat, sebanyak apapun buku yang kubaca, sesering apapun aku menonton film, mendengarkan lagu, mengamati orang lain, mengarsipkan perasaan, tidak banyak. Aku selalu kesulitan membuka kalimat pertama, memulai bercerita, apalagi menyelesaikannya. Tetapi, jika setiap kata itu identik tentangmu semua terasa mudah. Itulah kenapa kumulai cerita ini.

#JikaKitaTidakBerpisah

Kamis, 11 November 2021

Kekasih Semalam #1

 Gili Trawangan.


"Eh, sorry mbak." Nampan berisi sebotol wine dan gelas kosong terjatuh tepat di depanku. Pecahan gelas nyaris terpental mengenai wajahku. Sesosok lelaki berkulit cokelat kemerahan sunburn bersigap menghampiriku dengan khawatir. Waiters langsung membersihkan pecahan gelas, sementara si lelaki berkulit gelap tadi menyentuh pundakku dari samping dan berbisik "Are you okay, mbak?" Aku spontan menoleh ke arahnya, fokusku langsung tertuju pada hidung yang sangat mirip perosotan itu. Alisnya tebal, bibirnya sedikit membuka hingga terlihat barisan gigi yang rapi disana.

"Mbak, kamu nggak papa?" tanyanya lagi kali ini sedikit menggerakkan tangannya di bahuku. "Hah, iya nggak papa kok mas." Aku mengalihkan pandanganku, semoga pengamatanku pada wajah si mas-mas tadi tidaklah kentara. 

Dia berbalik ke mejanya, mengambil sebotol bir lalu kembali ke mejaku. "Boleh join?"tanyanya sambil memposisikan kursi yang belum kujawab iya tetapi sudah ia duduki. "Nggak minum?" tanyanya. "Belum dateng." Jawabku diiringi sedikit senyum. "Bir?" Tanyanya lagi. "Jus cukup." Jawabku lagi. "No alcohol?" tambahnya. "Lagi nggak pengen." Aku sembari menggeleng. Ia tersenyum lalu meminum bir yang ada di gelasnya. 

Waiters datang membawa segelas orange juice pesananku, lalu menyalakan lilin di atas meja. Posisi kami tepat menghadap ke laut. Hingga angin pantai menyapu lilin perlahan namun tidak mematikan. Mataharipun perlahan tenggelam. Langit oranye, ombak, turis-turis, kusaksikan perpisahan antara laut dan jingga nan romantis itu. Aku mengabadikan momen itu dalam camera handphoneku. Aku sangat suka suasana ini. Berkali-kali kuarahkan cameraku pada objek yang tetap cantik diambil dari sudut manapun itu, hingga aku tak menyadari, lelaki asing di sampingku juga sibuk mengambil fotoku. Ketika aku tersadar, aku melihat ke arahnya, ia tertawa melihatku yang sedikit risih.

"Mau lihat hasilnya?" Tanyanya.

"Pasti cantik kan?" Aku percaya diri.

Ia tertawa sambil menyodorkan cameranya. Tampak wajahku dari samping yang senyum-senyum sambil mengambil gambar, aku terlihat manis di foto itu.

"Oh iya mbak, aku belum tau namamu."

"Belum tau nama tapi udah pede ya langsung duduk aja." Aku sedikit menyindir dan tertawa kecil..

"Kasihan kamu sendirian." Jawabnya cepat.

"Aku nggak bilang butuh temen." Aku menimpali lagi.

"Tapi kenyataannya butuh kan?" Intonasi bicaranya nakal. Aku tertawa karena kehabisan kata-kata untuk menyangkal.

"Jadmiko." Ia menyebutkan namanya namun dengan suara lirih dan sama sekali tidak menoleh ke arahku. Hening sejenak.

"Kamu juga dong sebutin nama." Sambil mendorong pelan bahuku dengan sok akrab.

"La emang kamu tanya?" Aku tertawa.

"Idealnya aja sih, kalau ada yang ngajak kenalan ya sebutin nama lah." Ekspresinya terlihat gemas.

"Oh, jadi ceritanya pengen kenalan nih." Suaraku mengejek.

"Jangan-jangan sebenernya kamu yang butuh temen." Sambungku lagi.

"Tauk ah." Ekspresinya kesal, aku tertawa keras. Tak ada kecanggungan lagi, seakan kami sudah lama saling mengenal.

"Dinar, Ristamaya Dinar Dewi." Akupun menyebutkan namaku. Dia tersenyum.

"Nah gitu dong, pertama kai kesini?" Tanyanya.

"Yup, dan nggak mengecewakan." Jawabku.

Langit yang mulai gelap, suasana romantis yang masih tersisa dari lilin yang tak kunjung padam, obrolqn hangat dengan lelaki menarik yang baru dikenal, membuat jari-jemariku sulit ditahan ingin menuliskan sesuatu. Kuraih ponsel, kubuka aplikasi keepnotes, lalu kutulis beberapa bait.


Entah bagaimana malam ini riuh

Suaramu lekat kuingat utuh

Sedikit, namun begitu rumit

Rindu saja, seperti ingin menyapa

Pesanmu seperti gigil dan saat ini aku begitu sakit

Berulang, kukenang, kupaksa otakku beku

Karena ternyata, aku hanya tahu namaku.



To be continue...

Selasa, 19 Oktober 2021

Kacau

Bumi seperti sedang berlomba dengan planet lain, ia berputar lebih cepat setiap harinya hingga waktu dikuasai kesempatan yang sudah terlewat, atau penyesalan yang sulit diperbaiki.

“Berisik.” Suara parau setengah berteriak, diikuti suara benturan ponsel yang mendarat di dinding lalu terkapar di lantai tak berdaya. Mataku masih terpejam lalu tiba-tiba aku tersadar akan apa yang baru saja kulakukan. Sial. Kupungut ponselku yang masih kokoh, ia tetap tegar mengeluarkan bunyi alarm yang menggangguku tetapi anehnya membuatku lega. Alhamdulillah, anggaran untuk beli ponsel baru belum ada bahkan hingga setahun ke depan. Setidaknya aku harus merawat ponsel ini agar tetap bisa kugunakan untuk menerima telepon atau membuka whatsapp. Dengan penuh upaya aku berjalan melewati baju-baju berserakan dan bungkus sisa makanan yang belum kubuang, menyalakan lampu LED 10 watt yang dalam sekejap mengubah kamarku yang suram tampak terang benderang. Dengan langkah gontai aku berjalan menuju kamar mandi, merasakan air dingin menyentuh tubuhku jengkal demi jengkal, lalu konser pun dimulai.

Neoyeossdamyeon eotteol geot gata

Ireon michin naldeuri ne haruga doemyeon marya

Neodo namankeum honja buseojyeo bondamyeon alge doelkka

Gaseumi teojil deut

Nal gadeuk chaeun tongjeunggwa

Eolmana neoreul wonhago issneunji

Naega neoramyeon geunyang nal saranghal tende

 

Suara-suara merasa merdu dan lantang dipantulkan oleh dinding keramik kamar mandi yang jika ia bisa bicara pasti akan protes setengah mati karena nada-nada sumbang yang setiap hari ia dengar. Belum lagi lirik yang tidak begitu jelas menambah rumah berantakan itu seketika terasa semakin kacau.

 Tergesa-gesa memilih kombinasi pakaian yang akan dikenakan, kaos kaki berwarna krem yang bagian bawahnya hitam dan bagian jempolnya terpisah memang kubeli secara masal, niatnya agar aku tidak perlu pusing memilih warna, tetapi itulah sumber masalah. Yang kutemukan hanyalah yang sebelah kanan, yang kiri entah dimana bersembunyi. Kubongkar isi laci lemari khusus untuk drama pencarian kaos kaki sebelah kiri yang hilang, tetapi nihil hingga waktu sudah mepet sekali dengan jam jemputan bus. Aku berlari ke pintu keluar memaksakan kaos kaki terpasang di kaki yang bukan peruntukannya, mencari sepatu yang terparkir tidak teratur di depan pintu, meraih helm dan jaket, lalu bergegas melajukan scoopy berwarna krem ke tempat dimana aku menunggu bus dan memarkir motor.

 

 

 

Itulah gambaran kehidupan pagi butaku, paska aku ditinggalkan.

 

 

 

 

Sabtu, 16 Oktober 2021

Pola dan Ritme

Gagasan membentuk pola, kebiasaan membentuk ritme. Saat keduanya sempuirna maka sulit hanyalah jalan setapak, bukan jalan buntu.

Sabtu, 09 Oktober 2021

Menjadi Penulis - Catatan

Jika dirunut, kapan kali pertama menjadi penulis disebut sebagai cita-cita? SD? SMP? SMK? Atau setelah dewasa?

Sejak kecil aku memang terbiasa membaca, dan bacaan yang kala itu yang hampir tak pernah terlewat setiap halamannya ialah Majalah Bobo. Itu adalah majalah dengan materi bacaan terbaik pertama yang kukenal, tentunya selain pelajaran sekolah. 
Di kelas 5 SD aku punya wali kelas bernama Khairil Anwar, seperti namanya, Pak Iril-panggilan yang sering kami pakai memang seperti seorang "Khairil Anwar". Bukan hanya kesamaan nama, tetapi beliau mengagumi sosok itu dan gemar menulis pula. Semua itu aku sadari saat mulai mengenal beliau cukup dekat karena aku adalah murid ranking pertama di kelas. Pernah suatu waktu, aku diminta membawakan sebuah sambutan untuk siswa yang ditinggalkan di acara perpisahan. Dan sebelum tampil, beliau meminjamkan sebuah buku catatan, cukup usang karena ditulis di tahun yang bahkan aku belum lahir. Buku itu berisi catatan-catatan kecil, puisi, cerita, banyak hal yang dikemas dalam kalimat-kalimat manis yang sangat amat jarang kudengar. Salah satu karya terbaik dalam buku catatan itu yang masih kuingat hingga sekarang ialah "Surat Untuk Yuni".

Kepada Yuni di Peristirahatan.
Betapa beratnya hidupku yang terasa panjang ini tanpa kehadiranmu.

Panjang surat itu dituliskan, surat patah hati pertama yang kubaca namun tak merasa sesak. Membaca tulisan itu hatiku menghangat. Lalu, dengan semangatnya aku menuliskan hal-hal serupa di buku diaryku. Setelah itu aku bertekad ingin membuat tulisan-tulisan indah, walaupun aku belum mengalami cinta-cinta seperti kawan-kawan sekelasku yang lain.

Sedari kecil, orang tuaku selalu mendorongku untuk tampil. Dari yang kuingat, pertama kali aku bernyanyi di panggung besar, menyanyikan lagu dangdut di malam 17 an, dengan iming-iming uang 10 ribu rupiah. Dari sana aku yang berusia 8 tahun jadi banci tampil. Bernyanyi dimanapun ada kesempatan dan menyelipkan sedikit cita-cita ingin menjadi penyanyi.

Di masa SD aku pun pernah ingin menjadi Pengacara, karena kupikir itu pekerjaan yang keren. Penuh percaya diri, cerdas, hapal pasal-pasal yang kala itu kuanggap sebagai hal istimewa. Ditambah, aku melihat Bang Poltak Rohut Sitompul yang kala itu bermain dalam sinetron Gerhana. Jadilah menjadi pengacara adalah hal yang berani aku katakan sebagai cita-cita, karena jika menjadi penyanyi atau penulis rasanya aku takut akan menjadi bahan bully di kelas.

Beranjak SMP aku bersekolah di salah satu sekolah yang punya perpustakaan bagus, saat itu cukup lengkap isinya termasuk novel-novel bagus. Aku yang sebelumnya gemar membaca cerpen, cerita bersambung, maupun dongeng di Majalah Bobo mulai menjadi jalan lain untuk menuntaskan kecanduan membacaku. Jalan ninja saat itu adalah membaca novel.

Layar terkembang, kasih tak sampai, cantik itu luka, tenggelamnya kapal van der wijk, dan lain-lain menjadi titik awal aku menyukai novel. Dan disaat itulah tumbuh keinginan menjadi penulis yang lebih kuat. Aku mulai belajar menulis adegan, dimulai dari percakapan sehari-hari teman sekelasku, termasuk memperhatikan pergerakan mereka. Aku yakin di masa depan aku sukses menjadi penulis, setidaknya kenaifan masa SMP ku seperti itulah.

Aku sempat mengalami krisis ketika kelas 3 SMP hingga transisiku menuju SMK, krisis yang tak bisa kutuliskan. Hanya saja saat itu semua menyedihkan, bahkan pilihan untuk tidak lanjut sekolah pernah ingin aku tempuh. Tetapi, ibukku selalu memaksa untuk aku sekolah. Oke, jadilah SMK jurusan Teknik Mekanik Otomotif menjadi pilihanku. Cukup aneh bagiku yang secara akademis lebih menonjol pada bahasa dan seni tetapi mempelajari ilmu pasti. Di SMK, pola pikirku mengenai cita-cita direset. Aku menjadi lebih realistis dan mulai paham apa yang akan terjadi di hidupku dalam waktu dekat, setelah lulus. Ya, pada akhirnya bekerja di tambang menjadi cita-citaku saat itu, cita-cita jangka pendek, dengan ekspektasi gaji UMR atau sekedar agar bisa menyambung hidup. 

Singkatnya, aku langsung bekerja hingga sekarang terhitung 10 tahun sudah. Tetapi, keinginan menjadi pengacara, penulis, penyanyi, tidak pernah hilang dari kepala. Aku menempuh kuliah S1 ilmu hukum selama 4 tahun, aku menulis setiap hari bahkan mengikuti seminar-seminar dan workshop menulis lalu menyelesaikan naskah dan mengirimkannya ke publisher walaupun belum berhasil, aku sempat belajar vokal di sekolah musik, semua itu sulit kuhilangkan dalam benakku. Bahkan kini, aku mulai mempelajari hal menyenangkan lain yaitu presenting.

Tetapi, dari semua hal aku tetap ingin menjadi penulis. Aku ingin membuat karya. Aku ingin hidup selamanya. :)



L.M.

Rabu, 06 Oktober 2021

3

Seolah, melarikan diri adalah pilihan satu-satunya. Lalu dengan itu Taji berharap ia berhasil keluar dari bayang-bayang pertemuan menyebalkannya tempo hari dengan seseorang. Orang yang sayangnya sulit ia benci walaupun ia punya banyak alasan melakukannya. Jogja, lagi-lagi menjadi pilihannya kali kesekian. Bukan untuk menikmati kotanya yang nyaman, bukan pula berniat offroad di gunung merapi, atau menjejaki satu persatu keindahan di pantai selatan. Bukan. Kali ini Taji punya misi lain.

Tiba di Bandara Adi Sutjipto pukul 11 siang, Taji disambut para supir taksi dan travel yang menawarkan jasa. Perempuan dengan kacamata hitam dan rambut tergerai sebahu itu memilih mampir di sebuah kedai kopi di kanan pintu keluar dan menunggu waktu yang tepat untuk beranjak agar pas dengan jam check-in nya di hotel. Memesan segelas latte dan sebuah sandwich, Taji menikmati waktu itu dengan perasaan tak keruan. Di satu waktu hatinya menghangat tentram dan penuh semangat, di waktu yang lain ia merasa kesepian dan bertanya-tanya apakah yang ia lakukan sudah tepat atau tidak, tak jarang kedua perasaan bertolakbelakang itu menyerangnya bersamaan hingga ia ingin berteriak dengan lantang. Taji menunduk, menumpuk kedua lengannya di atas kepala, kebingungan menahan perasaan yang ingin tumpah ruah namun tak mungkin ia lepaskan di keramaian.

"Mbak Taji?" Suara seorang lelaki berbarengan dengan sentuhan di pundak sebelah kirinya memaksa Taji menegakkan kepala. 

"Iya." 

"Hanur mbak. Ingat?"

"Suboffice?"

"Iya mbak. Pulang kampung?"

"Nggak, cuma liburan."

"Sendiri?" Hanur mengedarkan pandangannya.

"Iya, mau nemenin?" Taji berniat bercanda.

"Boleh mbak, saya juga nggak sibuk." Taji tertawa mendengar jawaban itu lalu menjelaskan kegiatannya di Jogja.

"Nggak mas, kayaknya kegiatanku bakal padat, karena ada workshop nulis."

"Oh ya? Di daerah mana?"

"Taman Budaya."

"Oh iya, kabarin aja kalau mbaknya perlu ojek atau tour guide. Saya available selama disini."

"Makasih mas." Taji tersenyum sungkan. Beberapa saat setelah mengobrol, akhirnya Hanur pamit.

Berbincang dengan Hanur tanpa sadar membuat Taji sedikit lupa dengan keresahannya beberapa saat sebelumnya. Ia lebih tenang, saat ia sadari perasaannya itu Taji tersenyum. Ternyata lelaki yang sepertinya beberapa tahun lebih muda itu cukup asik mejadi teman mengobrol.

Menyeret koper, Taji bergegas menuju salah satu hotel di kawasan Taman Budaya yang sudah ia pesan 2 hari sebelumnya. Hotel populer dengan review terbaik sengaja ia pilih, agar ia benar-benar merasa sedang berlibur. 


***



Suara sirine mobil patroli beradu dengan suara mas-mas penjaja kerupuk yang mengetuk setiap kaca jendela mobil. Vimana yang terjebak tepat di belakang mobil sport single cabin berwarna putih tengah melamun dengan kaki kanan menahan keseimbangan motor honda tua tahun 1988 yang ia beli murah dari kawan yang mutasi. Lamunan usang tentang orang yang membuang-buang uang dengan memakai mobil mahal di pelosok, sangat tidak efektif, batinnya. Setelah lampu hijau menyala, Vimana lanjut mengelilingi kota melewati jalan-jalan tikus dan disaat itulah waktu bagi Vimana untuk berpikir.

Daripada kuliah S2, Vimana lebih ingin menikah. Sepulang bekerja disambut perempuan cantik berhijab yang menggendong anaknya, hidangan makan malam yang sudah tersedia, kopi hitam dan kudapan yang menemaninya merenungkan malam, hari minggu menyenangkan yang diisi jalan-jalan kecil di pendopo sambil melihat-lihat orang-orang mengantre makanan dan olahraga. Tidak lupa, ia tengah bermain dengan anak lelaki kecil nan lucu di atas rumput hijau di bawah pohon ketapang. Itu masa esok yang lebih ia inginkan, menjadi biasa-biasa saja. Tetapi, lamunan sederhana itu kembali rusak dengan suara Warsi yang terngiang-ngiang di kepalanya. Suara-suara bermode template yang kata perkata ia hapal setengah mati. Anehnya, sekalipun terganggu Vimana tetap rindu. Ia kangen Jogja.

Sebelum melanjutkan pikirannya, Vimana yang kini tengah berhenti tepat di bawah pohon beringin di depan masjid besar merogoh sakunya yang bergetar. Jendra.

"Opo jend?"

"Dimana kau lay?"

"Semedi."

"Jadi tidak?"

"Apanya?"

"Sudah pikun kau? Marrygold."

"Beneran jadi?"

"Cepat sudah."

"15 menit."

Vimana tanpa pikir panjang melajukan motornya. Pikirannya sudah tidak normal, hatinya berbunga-bunga, perutnya mulas berdebar, sesekali ia merinding membayangkan momen yang beberapa menit lagi akan terjadi. Bertemu dr Marrygold, idolanya.

Kurang dari 15 menit, motor tua itu berhasil menempuh 13 KM. Di parkiran, Jendra sudah rapi menunggu Vimana. 

"Ayok."

"Ganti baju dulu lah." Jendra melirik celana pendek butut berbahan jeans berwarna hitam yang dikenakan Vimana. Memang ia masih terlihat tampan, tapi bertemu idola setelah sekian lama buat Jendra penampilan itu tidak cukup. Setidaknya harus lebih rapi.

"Ga harus pakai kemeja kan?"

"Tuk se do." Jendra ketus. 

Vimana berlari ke kamar dan kembali tak lama setelah itu dengan setelan yang jauh lebih lumayan walaupun alas kakinya masih berupa sandal jepit. Jendra pasrah.

Suara dr Marrygold sudah mengudara di acara kesayangan mereka. Khusus hari minggu, jam siarnya memang berubah menjadi siang hari. Khidmat Vimana mendengarkan kata demi kata sembari membayang wajah seperti apa yang sebentar lagi ia lihat. Ia kesulitan mengatur nafas, jantungnya berdetak kencang sampai ia merasa Jendra bisa mendengarnya. Vimana gelisah, tapi senang, tapi ragu, tapi ah langsung ia singkirkan jauh-jauh kecemasan tidak berdasar yang timbul tenggelam di kepalanya.

"Vim, kalau bu dokter jomblo gimana? Takis nggak?"

"Sinting."

"Kan andai-andai, kau dengar suaranya saja sudah macam cacing lapar."

"Bayangin sebelum tidur didongengin."

"Dasar halu."

"Kamu yang mulai."

"Tak bisa kali kau kupancing ya."

Vimana malah senyum-senyum menghayalkan entah apa. Iseng Jendra mengganti saluran radio ke usb. Terdengar mengalun suara intro dari lagu Killing is my bussiness... and bussiness is good. Jendra dan Vimana bergerak serentak dalam lagu jedag-jedug yang liriknya mereka tak dengar jelas namun mereka sepakat lagu itu punya magis tersendiri. Megadeth, satu-satunya kesamaan kedua pemuda itu.


***


"Wajib mampir lo ya."

"Siap bu."

Belum sempat Taji meluruskan pinggang setelah lelah menempuh perjalanan dan baru selesai membersihkan diri, ia menerima panggilan video dari Warsi. Fasilitator yang akan mengisi workshopnya selama di Jogja. Beberapa kali bertemu dalam workshop menulis di Bali dan Bandung sekaligus menjadi penggemar ulung karya-karya Warsi, Taji beruntung bisa menjadi dekat. Warsi memperlakukannya seperti kawan, bukan penggemar. Dan sudah tentu, saat melihat nama Taji ada di daftar peserta, Warsi bersemangat menyambut gadis itu sebagai tuan rumah. Menghabiskan malam membahas cerita Taji yang tak ada habisnya, kisah cinta ala remaja yang selalu digambarkan Taji super menyakitkan, namun bagi Warsi yang hidup lebih dari setengah abad semua itu hanyalah secuil dari problematika yang tak ada apa-apanya dibanding apa yang akan dihadapi di kehidupan selanjutnya. Keinginan Taji yang tak pernah berujung, ia bangun terus setiap keinginan demi keinginan, ia belajar terus-menerus, Taji yang penuh dengan energi, dan Warsi merasa ada dirinya dalam diri Taji, perempuan muda yang terus belajar sesuatu seolah ia akan hidup selamanya.

"Andai dia adalah putriku."


To be continue..

Selasa, 07 September 2021

Fairytale - Kevin Hugo Lyrics

 The rain is falling, and I keep on thinking 'bout you

Everytime I fall a sleep, I'm still dreamin over you

The words you said that day makes me feel so small

It haunts me everyday and I just couldn't stay


I want to run away from this fairytale

Loving you is magic, loving you is tragic


Why'd you never learn?

If you said that you hurt me

You said that you're sorry

You want to love someone I can't be


I want to run away from this fairytale

Loving you is magic, loving you is tragic


I want to run away from this fairytale

Loving you is magic, loving you is tragic


I want to run away from this fairytale

Loving you is reality, but loving me is your fiction



L.M.


Punggung - LM

Lelaki diibaratkan sebagai tulang punggung, sedang perempuan menjadi tulang rusuknya. Ketika keduanya bertemu, saat itulah disebut jodoh. Lalu bagaimana ceritanya ketika lelaki dan perempuan ini bertemu sebagai sesama tulang punggung? Bahkan kutub yang sama saja saling tolak-menolak, apalagi manusia?

-2016



Hanya Mencintai Sekali - Catatan

"Pada beberapa sahabat aku memang pernah berkata, bahwa dalam hidup kita hanya pernah mencintai sekali, kepada hanya satu orang, dan itulah yang paling jujur. Jika lebih dari itu, maka itu hanyalah sebuah kompromi."

Beberapa hari terakhir, kalimat di atas langsung punya sanggahan. Keyakinan selama bertahun-tahun itu bergeser, pandangan baru muncul.

"Benar dalam hidup kita hanya mencintai sekali, tetapi bukankah kita bisa hidup berkali-kali?"

Mematikan diri kita yang lama beserta kenangannya, dan menghidupkan diri kita yang baru beserta (belum ditemukan kata yang tepat untuk melengkapi kalimat ini).


07.09.2021

Deserve You

For the first time we met
I only obsessive little me
Thinking that you're georgeus
But, Im the one who make you serious

We have long range
Even carrier and age
But, I know Im too great
To make you realized
I deserve U

What the hell about age
What the fuck how far you are
I can be shinning to you
I can be brighter from now
Until you realized someday
I deserve U 

Hi oldman,
You're so handsome and hell
I love your sexy mind
And how you angry every single day
Sorry, I should say that I love you
Even Im still twenty & edgy too

Your position on top
And Im only mat
But I still confident
One day you seen that
I deserve U

Tuhan Tidak Bernego - Catatan


Bukankah Tuhan tidak bernego saat kita akan dilahirkan?

Lukaku adalah milikku, mengapa mereka merasa memilikinya juga?

Bukankah aku berhak merawat apapun yang memang milikku? Sedih misalnya.

"Jangan terluka, jangan bersedih, lupakan, lekaslah sembuh." Kalian siapa?

Mengapa orang lain punya waktu mengatur hidupku sementara 24/7 tidak pernah cukup bagiku memikirkan diri sendiri?

07.09.2021

Popular Posts