Lekas dan Diam

 

Dalam gerak memburu

Aku limbung

Kupikir lekas selalu baik

Hingga kehilangan kendali

 

Dalam mode membisu

Aku linglung

Kupikir diam selalu baik

Hingga mereka sesuka hati

 

Lekas dan diam

Tak satupun kuandalkan

Pandai Bicara

 

Kulakukan yang mereka abaikan

Kuusahakan semua sedemikian

Tetapi sampai ke telinga

Aku hanya pandai bicara

 

Tidak terhitung berapa banyak usaha

Dari berguna hingga sia-sia

Tetapi yang mereka percaya

Ah, itu karena beruntung saja

 

 

Kepada Tikus

 

Anehnya pion-pion itu terus merasa tinggi

Padahal harganya kami yang beri

Angka yang masuk ke perutmu itu hasil kami

Mengapa sulit sekali tahu diri?

 

Bagaimana jika kita biarkan gelap terjebak sunyi

Kita bungkam, riuh hanya menetap di kepala

Yang terdengar hanya iya-iya saja

Apa tidak menjadi semakin suram negeri ini?

 

Satu, dua, sepuluh dekade mendatang

Akan ditentukan dari usaha kita hari ini

Terus teriakkan dengan lantang

Sejahtera itu hak anak cucu kami

Mantra

 

Bertaruh pada hidup

Bunga-bunga di kepala dibiarkan redup

Perasaan baik datang dan pergi

Lalu kembali lama sekali

 

Berkawan dengan gagal

Hingar-bingar kejayaan tak dikenal

Mencoba lagi dan lagi

Lalu bangkit ribuan kali

 

Semoga peruntunganku hari ini

Mantraku setiap pagi

Ah

 

Menerjemahkan diri

Ingin itu ingin ini

Desember resolusi

Diulang Januari

 

Aku ini apa? Entah

Kedinginan di bawah terik

Merasa haus di tengah hujan

Semua ada, namun tidak dengan jiwa

 

Selalu ada yang belum

Rasanya tak pernah ada momentum

Sekadar lewat, tak berarti

Hidup sekarat, lalu abadi

 

Semua membeku

Tidak punya banyak waktu

Pikiran dan kaki tangan

Tak pernah bisa beriringan

 

Harapan koyak

Angan menjadi artefak

Asa kian nihil

Usaha demi usaha mustahil

 

Ah

 

 

Terjaga


Tak ada pulas, aku terjaga

Kepalaku berat, nafasku terbata

Kuhilangkan isi kepala satu dua

Terus kembali tiga empat lainnya

 

Seringkali aku bertingkah demikian

Menghadapi tidur yang tak teratur

Memikirkan apakah ini begadang atau kepagian

Lalu menyesal kemudian

 

Banyak yang terlintas

Masalah lalu lalang seperti rutinitas

Otakku sibuk membiarkan mereka saling serang

Apakah memikirkan ini siang tidak memungkinkan?


Dua Belas

Seperti datang sebagai penumpang

Aku tak punya kendali

Kupikir hidup ini mudah menjadi pemenang

Naif sekali

 

Untukku yang ambisius

Masaku sudah terputus

Apa itu juara?

Dua belas mengajarkan aku rela

 

Aku mengutuk diri

Apa karena aku lalai?

Lalu kuhardik lagi

Kemana larinya nilai-nilai?

 

Dalam sedih yang teramat

Dan kecewa yang sungguh berat

Aku kali pertama tahu

Aku tak sehebat itu


Delapan Belas

 

Melihat diri di delapan belas

Saat kecewa, mimpi-mimpi tergilas

Nyaman? Tak jua tiba walau aku memelas

Ini realitas?

 

Keadaan begitu kejam

Aku dipaksa memendam

Ingin berilmu saja perlu uang

Sedikitpun tak tampak peluang

 

Menyesuaikan diri

Menurunkan ekspektasi

Enyahlah rasa iri

Apalah itu edukasi

 

 

Satu

 

Dalam cerita yang kudengar & ingat

Aku seperti teman kecil penghilang penat

Ayahku buruh, ibuku di rumah berpeluh-peluh

Aku merengek dan mengaduh, gaduh

 

Tak ada rumah, apalagi megah

Tak ada tanah, apalagi sawah

Tak ada

 

Cerita demi cerita tak luput dari sengsara

Aku adalah harapan besar mereka

Kalau besar mungkin menjadi pegawai negeri

Bukan seperti bapak yang buruh tani

 

 

 

Suatu Hari di 2017

 

Suatu hari di 2017

Aku menepi dari rutinitas

Datang kepada ikan-ikan

Tanpa pelindung arus pun diterjang

 

Jika hari itu aku tenggelam

Disantap ikan, dihantam karang

Diombang-ambing  sampai tak seorangpun menemukan

Kiranya aku tak keberatan

 

Sebelum hari itu aku kewalahan

Jadi tak hidup pun tetap lumayan

Suatu hari di 2017

Aku berlari dari hidup yang naas

 

Sebelum Dua Angka

 

Sebelum dua angka

Tak ada satu, dua, tiga di angka pertama

Aku masih mengira

Dewasa akan bisa apa saja

 

Belasan menjadi penantang

Dua puluhan menjadi unggulan

Tiga puluhan menjadi teladan

Empat puluhan? Sulit kubayangkan

 

Kupikir hidupku akan hebat

Yang indah-indah kuangankan sekelebat

Karena apalagi yang kupunya?

Mengelukan harapan dan asa

Hanya itu satu-satunya cara

 

Mawas Diri

 

Ketakutan dan mawas diri

Mengapa ini teramat dekat sekali

Dinding, tak ada yang bisa membatasi

Dilema, seperti niscaya, aku terbebani

 

Gangguan bukan dari penantang

Aku tampak tenang, namun isi kepalaku berkeliaran

Bajingan, kuhunus pedang ke pikiran

Kuteriakkan lantang

“Bubar kau setan!”

 

Di dimensi lain, aku takut jika tidak takut

Apa jadinya aku jika tak punya kalut

Tertinggal, percuma, sia-sia

Jangan sampai itu jadi akhirnya

 

Mawas diri, aku ingin terus merawat ini

 

Mati

 

Setengah mati

Mati-matian

Mati

Lalu tak berarti

 

Yang kupikir benar akan pudar

Masalah terkadang membesar

Padam keesokan, menyala kemudian

Aku kewalahan terus terang

 

Tujuan yang kuimpi

Titik yang kutiti

Aku berapi-api

Rasanya setengah mati

 

Usahaku tak berkesudahan

Pikiranku tersita begitu dalam

Kuajak maju segelintintir

Akhirnya kami mati-matian

 

Tampak suaraku didengar sekian kali

Beberapa kali lainnya aku tak diamini

Mereka lihat aku mudah untuk dibenci

Yang kuperjuangkan terasa mati

 

Sudah kuambil duri-duri

Pada akhirnya tak berarti

Kurang Sekarang

 

Memulai dari kurang, lalu menjadi sekarang

Harusnya aku bisa berjalan melenggang

Tak melihat kemarin, hanya melihat ke depan

Bekas jejak kaki hanyalah rintisan

 

Ribuan rintang menyiksa bergantian

Bisa saja putus asa, jika tak ingat dendam

Aku harus bisa membalasnya

Sampai terngiang namaku di telinga

 

Dunia ini jahat seperti mulut para penjilat

Mereka elu-elukan yang dianggap hebat

Lalu menyisihkan yang tak berpangkat

Bangsat

Dua Satu

 

Kepadaku si dua satu

Habis semua muda berlalu

Menangis untuk yang tak sebegitu

Bodohnya aku

 

Andai bisa terulang

Ingin kukejar masa gemilang

Belajar dasar menjadi pemenang

Bukan pecundang pengemis si belang

 

Kukabarkan kepada dua satu

Jangan bodoh seperti aku

Terlena pada yang tak sebegitu

Asu

Tawan

 

Belasan tahun menjadi tawan

Mengakhiri ini rasanya sungkan

Apa ini benar atau keliru Tuhan?

Aku terlena tak keruan

 

Atasku tampak cemerlang

Bawahku tak punya masa depan

Aku keliru jangan-jangan

Bukan itu mimpiku kawan

 

Menata kalimat indah dan sedikit kesah

Perasaan dibiarkan liar lepas tercurah

Bukan hidup yang harus sempurna

Panutan ah aku muak menahannya

Di Antara

 

Belum usai penatku terlepas

Aku harus berlarian terengah-engah

Udara dingin, halimun utuh

Ini bentuk usaha atau sekadar patuh?

 

Menyiapkan jawaban berisi

Omong kosong sesekali

Berharap pengakuan

Di tengah banyak gempuran

 

Atas meremehkan, bawah tak percaya

Duka orang yang berada di antara

Jika ini terlewati

Bukankah aku mejadi sakti

 

 

Pejuang

 

Di balik meja aku duduk manis menunggu kesempatan

Biarlah mereka para pemuka dibiarkan bertandang

Dari wajah, asal-muasal, hingga tinggi badan

Aku tak masuk kriteria ke medan perang

 

Saat semua andalan terlewatkan

Giliranku menunjukkan keahlian

Kupatahkan label dan anggapan

Kupastikan aku bisa bertahan

 

Jika aku mati tertembak

Aku akan hidup kembali dengan hebat

Tak lagi kubiarkan kesempatan terlewat

Berjuang hingga nafas tercekat

Menjegal Prasangka

 

Kulangkahkan kakiku menuju mimbar

Kudapati tak seorangpun bisa kujegal

Mereka bak pemenang yang sudah ditentukan

Aku hanya mampu perlahan

 

Dalam doa yang khidmat

Kuberanikan diri penuh tekad

Aku pernah berhasil, hari ini pun bisa

Kuulang-ulang seperti mantra

 

Beberapa detik sebelum kuucap kata pertama

Aku merasa akan terbata-bata

Namun, yang menjegalku ternyata hanya prasangka

Pemenang yang ditentukan adalah aku orangnya

Tinggi atau Berarti

 

Pelan-pelan aku meniti jalan

Saat belum tiba aku bisa menggila

Penat, tetapi usahaku harus berkali lipat

Ingat, asal-usulku tak punya peringkat

 

Kiri-kanan beradu, aku linglung mencari tahu

Manakah tuju? Lagi-lagi meragu

Antara menjadi tinggi atau menjadi berarti

Sulit kupilih berkali-kali

 

 

 

Ragu

 

Saat pagi aku menjadi penuh dedikasi

Di malam hari aku ingin menyendiri

Di waktu tertentu aku ingin menjadi pejuang

Di waktu yang lain aku mengikuti perasaan

 

Terkadang aku ingin tampak tangguh

Tak sedikitpun mengaduh, tak pula gaduh

Tetapi tak jarang aku juga ingin mengeluh

Tampak muram, menceritakan rapuh

 

Aku yang berbeda malam dan pagi

Membuatku sulit menentukan ambisi

Waktu

 

Seperti mencintaimu

Selamanya memang tak akan cukup

Begitupun aku menjalani hari-hari

Waktu enggan berpihak, aku kalah telak

 

Bertemu dari petang hingga petang

Terik tak kunjung berbalik

Siang sibuk, malam mengantuk

Rencana akhirnya bertumpuk

 

Wahai pembunuh waktu

Enyahlah dari hadapanku

 

My Liberation Notes, K-Drama Dengan Naskah Terbaik

Judul : My Liberation Notes
Tayang Perdana : 9 April 2022
Stasiun TV : JTBC
Pemain : Son Suk Ku, Kim Ji Won, Lee El, Lee Min Ki, Lee Ki Woo, etc.
Genre : Drama



        Seringkali, penokohan dalam sebuah film atau series cenderung menyorot mereka yang menonjol. Peran utama jelas adalah mereka yang punya banyak porsi mencuri perhatian, yang paling hebat, yang paling baik, yang paling cerdas, yang paling kaya, yang paling cantik atau tampan, yang paling kompeten, atau jika film inspirasi maka akan diambil siapa yang paling banyak berjuang lalu berhasil. Tapi, tidak dengan drama ini.
        Peran utama digambarkan sebagai tokoh yang introvert dan tidak banyak bicara, tidak tampak sering terlibat, ia hanya gemar mengamati orang lain. Dan dari sana lah sisi menari drama ini. Kim Ji Won sebagai pemeran utama ditulis dengan sedemikian introvert tetapi memiliki pemikiran yang dalam. Hampir sepanjang drama, dialog-dialog yang relate.

"Jika aku bisa duduk dan bekerja di sini bersamamu, pekerjaan memuakkan ini pasti akan menjadi pekerjaan yang indah. Aku pasti bisa melalui semua ini. Sebenarnya, aku hanya bersandiwara menjadi wanita yang disukai banyak orang, dan menjadi wanita sempurna. Aku ingin berimajinasi bahwa diriku yang sekarang adalah orang yang disukai, dan selalu didukung orang lain sehingga hidupku nyaman. Aku ingin berpikir menjalani hariku dengan bahagia bersamamu. Begitulah pikirku. Alih-alih merasa sengsara dan menderita saat tidak bersamamu, aku berusaha semangat dengan memikirkanmu, bukankah aku hebat?" - Mi Jeong

" Ibuku bilang aku memang ditakdirkan bersifat buruk. Namun aku tak selalu begitu. Terkadang aku juga baik, yaitu saat gajian. Sehari itu saja. Aku jadi orang yang baik di hari itu. Orang akan menjadi baik saat punya uang dan saat mencintai. Memang begitu kenyataannya. Seseorang akan jadi lebih baik secara otomatis jika punya uang atau pria. Namun, aku tak punya keduanya. Bagaimana aku bisa punya semangat? Bagaimana bisa sifatku jadi baik? Kupikir perasaanku akan lebih baik jika mengeriting rambut, tetapi malah makin runyam." - Gi Jeong

"Katanya jika ada suara jangkrik, artinya suhu 24 derajat. Katanya mereka juga tahu bahwa sebentar lagi musim dingin. Maka itu, mereka sedang berusaha keras mencari pasangan agar tak sendirian di musim dingin. Bahkan hewan kecil seperti mereka saja bercinta. Sebagai manusia, bukankah seharusnya mencari pasangan juga? Binatang saja tahu pedihnya menjalani musim dingin sendirian. Mereka berteriak-teriak selantang itu, memberi tahu bahwa musim dingin datang, jadi jangan biarkan mereka sendiri. Kita harus juga begitu." - Gi Jeong

"Aku sudah muak. Entah apa yang salah dengan ini semua, hanya saja aku merasa muak. Berhubungan dengan orang lain bagaikan pekerjaan bagiku. Menjalani hari demi hari adalah pekerjaan berat." - Mi Jeong

"Aku selalu merasa kosong. Hanya ada pria-pria brengsek. Semua pria yang kutemui itu bajingan. Karena itu, pujalah aku agar aku merasa penuh." - Mi Jeong

"Setelah aku pikir lagi, para pria brengsek di hidupku selalu melihatku dengan tatapan begitu. Tatapannya bagai berkata kau orang yang payah. Itu membuatku merasa menjadi orang yang menyedihkan yang tidak berguna sama sekali. Hal yang membuat kita muak dan marah adalah tatapan seperti itu. Sebuah hubungan yang terus terulang saat kita malah menemukan kekurangan kita, saat kita ingin mencari tahu sisi kita yang pantas dicintai." Mi Jeong 

"Aku mau membotaki rambutku sampai habis. Maksudku, aku tidak pernah diuntungkan oleh rambut ini, tetapi mengapa aku harus terus menjaganya seakan-akan ini simbol kewanitaan? Aku harus susah payah keramas tiap pagi, dan mengeringkannya hingga pegal. Rasanya bak menderita seumur hidup karena rambut yang tak berarti ini. Jika dibotaki, aku pasti tak akan berharap apapun lagi. Dan hidupku akan menjadi ringan. Apa aku akan dipecat jika botak?" Gi Jeong

"Mereka yang bekerja di gedung setinggi itu pasti bermental baja. Mereka bisa saja terjun dari sana, tetapi menahan diri. Bukan terjun karena sengsara, tetapi karena emosi sesaat. Mudah untuk terjun saat emosi." Mi Jeong

"Orang-orang merasa takut saat mendengar guntur dan kilat, tetapi anehnya aku malah merasa tenang. Aku berpikir, akhirnya dunia ini berakhir. Itu yang selalu kuharapkan. Aku seperti merasa terkurung, tetapi tidak tahu cara keluarnya. Jadi aku berharap semua bisa berakhir bersama. Hidupku memang tidak amat sengsara, tetapi tidak juga bahagia." Mi Jeong

"Semua orang sedang dalam perjalanan menuju kematian mereka, kenapa mereka begitu excited dan bahagia?" -Mi Jeong

"Apakah aku memiliki tujuan? Apakah tidak boleh aku menjalani hidup meski tidak memiliki tujuan apapun? Aku tidak bisa memaksakan diri untuk hidup dan melakukan sesuatu yang tidak aku sukai." -Chang Hee

"Di pengalamanku, kamu akan berubah saat kamu melakukan sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan sebelumnya." -Mi Jeong

Dan masih banyak lagi kutipan-kutipan lainnya. Drama ini benar-benar layak untuk dinikmati dan memiliki cerita unik dengan karakter kuat dan dialog-dialog yang tidak umum. Bagi orang yang senang dengan drama yang penuh dengan perasaan, maka My Liberation Notes bisa jadi opsi tontonan menarik.


- LM

Besok Saat Kita Sampai Sudah

 Besok saat kita sampai sudah

Tak lagi mandi dan tidur sebagai pemisah

Tak lagi perlu panggilan telpon bersusah-susah

Hilang resah gelisah, sah!

 

Besok saat kita sampai sudah

Akan kuabdikan diriku dalam rumah

Tak apa aku menjadi pesuruh

Untukmu yang selalu membuatku luluh

 

Besok saat kita sampai sudah

Boleh aku tinggal di sana hingga berkalang tanah?

 

Juni 2014

Tanpa Upaya - JKTB

Pernah berjuang sedemikian
Hingga menyerah perlahan
Waktu yang mereka bilang penyembuh
Kutunggu hingga aku merasa tak lagi butuh

Aku tidak peduli
Bahwa aku pernah teramat patah
Berkali-kali?
Bukan lagi masalah

Hari itu tanpa upaya
Aku berhasil menghadapinya


LM #1dekade

My Echo - Mirabeth Lyrics

Your words are bullets

Piercing through my chest

At times I can bare the pain

Now I can't take it no more


My words are missils

Ready to deploy and blow you up

But as the angels came to me

They whisper in my ear

You're all alone in this cave 

They're just your echo

What you fear and what you hear

In your mind ways back to you

oooo ooo ooo ooo

My Echo



LM



Please Don't Say You Can't Live Without Me - Mirabeth Lyrics

 I see you in all my waking days

And when I'm down

Your smile will light my heart like sunrays

I feel you even when you far away

Before I go to bed

I say your name when I pray


Dear Lord,

Hear my prayer

You know I love him 

So please keep him out of harm's way


Dear Love,

I'd give my heart away

But life is temporary and our time will come someday


So, please don't say

You can't live without me... (Hmmm)

So, please don't say

You can't live without me... (Hmmm)


Your happiness

It isn't mine to keep

And in my serenity

I'll stand on my own feet


You and me 

We're like a dream team

Together everything

Is not as hard as it seems


Dear Lord,

Hear my prayer

You know I love him 

So please keep him out of harm's way


Dear Love,

I'd give my heart away

But life is temporary and our time will come someday


So, please don't say

You can't live without me... (Hmmm)

So, please don't say

You can't live without me... (Hmmm)


Don't get me wrong

I always want you by my side

More than you can think of

But please don't say, please don't say


Dear Lord,

Hear my prayer

Oh let the winds of heaven

Dance between our way


Dear Love,

I'd give my heart away

But I know that in the hand of life

Our heart can only stay


So, please don't say

You can't live without me... (Hmmm)

So, please don't say

You can't live without me... (Hmmm)

Don't get me wrong

I always want you by my side

More than you can think of

But please don't say, please don't say

That you can't live without me



LM

Gabut

Dibanding lembur, aku lebih senang membaca ulang pesan-pesan kita beserta rencana-rencananya.


LM

Rindu

Setiap kali hati ini terasa sesak, sakit, sedih, ingin berontak entah pada apa. 
Yang bisa kulakukan hanya berdoa.


"Semoga kita dimudahkan."


- LM


10.08.2022

Cinta? Perasaan yang paling sulit dipahami manusia dengan akal.

Seberapa banyak, seberapa keras, seberapa niat pun, usaha akan terus menjadi sia-sia. 

Melupakan mungkin perkara kecil, tetapi ada hal-hal lain yang dengan mudah menguasai memori di waktu dan tempat yang bisa jadi tidak tepat, tidak siap.

Aku menjadi gagap dan bodoh.

Jangan menyapa.

Privasi

Bukankah sudah ada kata privasi untuk membatasi sebuah hal yang dirasa tidak perlu diketahui ataupun dicampuri orang lain. Sayangnya banyak orang yang tidak paham. Ada orang yang kurang nyaman saat sesuatu yang dianggap personal diutak-atik, dibahas, apalagi diperolok. Lagi-lagi, sayangnya banyak yang tidak paham.

L.M.

Merasakan Abu-abu

 Ada saat dimana udara terasa biasa-biasa saja

Tidak pun dingin, tak jua panas

Menjemukan

Aku tak suka biasa-biasa saja


Ada hitam ataupun putih

Mengapa kita merasakan abu-abu?



LM

Mencintaimu dengan totalitas

Sekalipun, tak pernah terbersit dalam pikiran akan mencintai seseorang dengan serius, totalitas, tanpa cela, tanpa tapi. Seringkali keinginan itu justru muncul setelah sudah berpisah, setelah sudah menjadi penyesalan, setelah sudah tidak mungkin dilakukan. Karena hingga saat ini, aku selalu melibatkan logika dan ego di atas segalanya. Harus punya ruang "tidak apa-apa" jika berpisah, harus tak ada rugi jika berpisah, harus tetap berdiri dengan kepala tegak jika berpisah, semua hubungan dijalani dengan pertimbangan jika berpisah, padahal hubungan itu pun mungkin baru dimulai. Naasnya, aku selalu punya pemikiran, suatu saat pasti putus. Aku selalu ragu.

Sekarang, semua terasa berbeda. Aku merasakan ada esok cerah di ujung hari. Anehnya, ya tetap bersamamu. Kutinggalkan akal, kuabaikan nalar, logika apalagi ego terkubur hilang entah kemana. Kutunjukkan bagaimana aku teramat sangat sungguh-sungguh, kucatat apa yang kau suka dan tidak, kutoleransi segala kekurangan yang akhirnya terlihat malah lucu itu, ingin kupastikan bahwa perasaan ini bertengger lama dan tiada batas. 

Seperti jatuh cinta pertama kali, aku ingin merayakan ini.


Lembar Baru

Sudah mulai terlihat bagaimana esok. Terang-benderang yang selama ini kuyakini, terasa gulita, ada yang lebih benderang dari gambaran esok yang aku tahu. Kamu ada di dalamnya.

Sekiranya nanti Tuhan maha baik mempermudah apa yang kita bincangkan malam itu, maka aku berjanji akan menjadi lebih baik dengan hidupku, bersamamu tentunya.

Lalu, apa yang membuatku yakin? Padahal kamu bukan si pertama yang hadir? 

Seminyak Beach, 16 July 2022

Khawatir Jika Tidak Khawatir

Ketika menemukan hidup sedang baik-baik saja, datar-datar saja, tak ada kesulitan, tak ada hambatan, semua terasa mudah, dari situ justru muncul di benak "Akan ada apa?".
AKu membenci diriku yang merasa demikian, aku selalu nyaman menjadi seorang pemikir lalu berusaha semaksimal mungkin, setidaknya jika esok akan ada apa, aku punya banyak persiapan. 
Lagi-lagi, aku khawatir jika tidak khawatir. - LM

Frekuensi Radio

Setiap malam tiba, sebelum mereka sama-sama tertidur, keduanya berbagi bincang via telepon. Entah apa saja topik yang muncul, anehnya tak pernah habis, setidaknya tak pernah membosankan pula. Mereka berdua seperti dua angka frekuensi radio yang dipertemukan tanda koma. Teramat cocok, seirama, mudah disatukan tanpa perlu banyak usaha.

Mempersilakan

Malam itu tamu hadir mengetuk pintu rumahku yang gaduh.
Suara musik kencang beradu dengan suara teve yang tidak kalah seru.
Aku membukanya, membiarkan si tamu masuk dan menyuguhinya kudapan.
Satu jam kemudian, rumahku hening.
Kumatikan musik, kukecilkan volume teve, kubiarkan hanya suaranya yang mengudara.
Dinding, lantai, langit-langit, dikuasai suaranya. Yang lebih parah, aku dipengaruhi suara itu. Kupercaya, kuyakini, kuimani.
Sampai pada titik aku lupa, dia harus pulang.

Apalagi yang kubisa selain mempersilakan?


LM

Tahun Ke-6

Jika ini adalah Sekolah Dasar, seharusnya aku sudah lulus kali ini. Waktu 6 tahun terakhir terasa berat, namun juga singkat. Hari-hari seolah ditipu oleh waktu yang membuat pikiranku terjebak di antah-berantah kemudian tersesat, terombang-ambing pada keputusan-keputusan mendadak yang orang lain pun belum siap menerimanya.
Bukan tidak berusaha, hanya saja aku belum berhasil. Waktu menipuku, tetapi ia kemudian mengikhlaskan dicuri oleh pikiran yang tak pernah luput merawat namamu. Namamu yang muncul lalu diekori oleh kalimat andai-berandai "Jika Kita Tidak Berpisah". Lalu apa? Menurutmu itu lebih baik? Belum tentu, bodoh.

Bab 12 Mengecilkan Mimpi

Latar, kembali jadi alasan kenapa bersama Riza terasa lebih cocok bagi Lania, pun sebaliknya. Dari obrolan singkat sore itu antara Riza, Lania, dan Kailani muncul sebuah ide yang seperti gayung bersambut. Keinginan ketiga orang itu untuk lanjut S1.

“Tapi apa bisa seminggu sekali?”

“Dua minggu sekali malah.”

“Ada emang ilmunya?”

“Anggap aja ada ya kan.” Kailani makhluk paling santai yang tidak banyak berpikir. Sementarakedua lawan bicaranya cukup penuh pertimbangan.

“Masalahnya 4 tahun itu lama cuy.”

“Lebih lama kalau lu nggak ngelakuin apa-apa.” Celetukan Kailani yang langsung membuat Riza dan Lania saling pandang, kedua sorot itu bertemu seolah mengiyakan ucapan Kailani barusan.

“Mumpung kita masih muda.”

“Kamu maksudnya?”

“Iya lah, kalau lu jelas nggak muda lagi.”

Ternyata topik itu bukan hanya isapan jempol, cukup waktu sehari, mereka bertiga sudah melangkah ke step selanjutnya, mencari tahu informasi di laman website kampus, mencari-cari ragam info yang terkait dengan kampus, mulai dari fakultas, jurusan, kemungkinan menyerap ilmu dengan jam perkuliahan yang minim, dan sebagainya.

Pada saat pendaftaran, Kailani dengan yakin memilih Management. Sedang Riza dan Lania dibingungkan oleh jurusan yang ingin dipilih. Riza yang hendak memilih Ilmu Hukum, sedang Lania Sastra Inggris. Lalu keduanya kembali dibingungkan oleh pilihan Teknk Mesin.

“Kamu yakin?” Lania mencoba memastikan.

“Kita sudah kerja bertahun-tahun di bagian itu. Yakin mau ambil teknik lagi? Sanggup?” Lania kembali memastikan. Riza terdiam, ia belum tahu akan mengambil apa. Belum lagi suara Kailani yang seperti hantu menghujani Riza dan Lania dengan logika-logika berpikirnya tentang jurusan yang ia pilih.

“Ok, aku ambil hukum” Riza dengan lantang.

“Ok. Aku Sastra Inggris.”

“Itu FKIP sayang. Kamu mau jadi guru?”

“Ya nggak sih. Tapi kayaknya itu paling cocok.”

“Kita sama aja, biar jam perkuliahannya sama.”

“Kenapa harus sama?”

“Biar kita sekelas, biar bareng.” Riza mencoba meyakinkan.

Dengan mempertimbangkan cita-cita masa kecilnya sebagai pengacara, Lania akhirnya memilih jawaban iya.

“Okay. Ilmu Hukum. Not bad.”

Lebih kurang 2 minggu setelah segala macam usaha itu dilakukan, mereka bertiga sudah harus menjalani test masuk, dari tertulis, wawancara, hingga kesehatan. Bolak-balik menempuh jarak ratusan kilometer itu dilakukan dengan waktu yang cukup padat, sampai pada masa dimana semua sudah sedikit lebih melegakan. Hanya tinggal menunggu masa ospek yang sepertinya sulit mereka hadiri.

Hari itu keduanya pergi ke sebuah warung makan, berbincang banyak tentang esok, masa depan, segala hal baik yang terencana indah, karir, hidup, kesuksesan, segala macam kenaifan hidup dengan berjaya hari itu. Bersemi di pikiran keduanya yang bertemu di udara. Saat-saat dimana kita adalah kata yang seringkali muncul di sela-sela kalimat mengandung esok. Kita yang sepertinya akan mudah.

“4 tahun lagi kita lulus, mungkin aku akan mudah berkarir. Lebih percaya diri menghadapi lingkungan yang isinya manusia-manusia yang terlampau bangga dengan almamaternya.”

“4 tahun lagi mungkin kita sudah menikah.” Lania membuat perut Riza melilit.

“Ya mungkin. Tapi aku masih umur berapa 4 tahun lagi.”

“28, aku 24.”

“Terlalu muda kan?”

“Atau boleh 2 tahun setelah itu.”

“Jadi mau tinggal disini? Lama?” Lania menggeleng.

“Aku tetap pengen keluar dari sini. Segera.”

“Tapi kuliah menahan kita selama 4 tahun.”

“Risiko.”

“Kamu mau pergi kemana?”

“Yang jauh, berkarir di hal yang aku suka. Passionku.”

“Ninggalin aku dong.”

“Makanya ayok kita sama-sama.”

“Aku udah merelakan apa yang aku pengen saat aku masuk kerja disini. Inj terasa lebih realistis dan menghasilkan. Dan kita nggak punya privilege untuk mengejar apa itu passion. Idealisme dalam keadaan ini bukan pilihan yang tepat sayang.”

Lania terdiam, ia merasa kurang setuju dengan jalan pikir Riza. Walaupun bisa jadi itu benar. Sejenak ia merasa lelaki itu mengecilkan mimpi-mimpinya walaupun tanpa sengaja.



To be cont...

Bab 11 El Real

Mana yang lebih hebat? Barca atau Madrid? Messi atau CR7? Pertanyaan yang akan dijawab berbeda antara Lania dan Riza. Lania yang gemar Barca karena diperkenalkan mantan kekasihnya, dan Riza yang menggemari Real Madrid sejak bocah. Riza adalah CR7 wanna be, ya terlalu kentara dari potongan rambut hingga jersey yang seringkali ia kenakan. Saat bermain futsal maupun sepak bola pun, Riza tampak meniru beberapa gaya idolanya itu, termasuk merk dan motif sepatu yang ia kenakan di lapangan. Hari itu Riza dan Lania janji temu pagi-pagi sekali. Entah kemana, Riza hanya mengatakan sesuatu yang tidak spesifik tetapi sulit Lania tolak. Mata Lania yang terbiasa bangun siang saat hari libur kali ini harus dengan terpaksa ia buka seterang mungkin. Menghampiri Riza di depan gerbang yang tampak rapi, rambutnya disisir dengan gel, kaosnya disetrika licin, belum lagi saat didekati Riza seperti seseorang yang mampu membuat Lania lebih semangat membuka mata. Aroma cokelat dari tubuhnya berbenturan dengan aroma floral pada pakaian, belum lagi aroma kopi pada lotion yang bisa ia pakai.

Menyusuri jalanan kota dari kawasan kost hingga tugu obor, memutar ke Tanjung Tengah hingga kembali bertemu kawasan kost, lalu kembali lagi ke arah selatan mencari sebuah tempat yang ternyata toko olahraga.

“Ini apa sayang?”

“Tangan.”

“Salah.”

“Jari?”

“Salah.”

“Apa?” Lania mulai tidak tertarik menjawab.

“Ini sepuluh, sepuluh kali Real Madrid juara liga champion. La Decima.”

“Sinting ya?”

Memasuki toko itu, Riza langsung memisahkan diri. Ia menyatroni bapak-bapak bertubuh tinggi berambut putih yang jika ditaksir usianya memasuki lima puluhan.

“Yang sepuluh sudah ada belum sih?”

“Belum ada mas, paling seminggu lagi.”

“Ya udah seminggu lagi saya kesini ya.”

Lania berjalan keluar toko berpikir transaksi itu selesai, namun cukup lama ia menunggu di luar, Riza tak kunjung datang. Lania kembali masuk, dan menyisur area etalase dan rak sebelah kiri toko. Kekasihnya itu duduk disana. Memegang sebuah sepatu berwarna hijau stabilo yang Lania tau persis itu yang dikenakan Neymar di pertandingan terakhir. Lalu di sebelahnya pula, bercokol sebuah sepatu berwarna putih bercorak oranye yang Lania juga tau adalah sepatu hang dikenakan CR7 dua nusim sebelumnya.

“Sayang yang ini nggak ada ukurannya.” Riza berbicara sendiri sembari mengangkat sepatu berwarna putih. Lania tidak berkomentar.

“Karena adanya ini ya sudahlah.” Riza berdiri, memamerkan kakinya yang mengenakan sepatu jijau stabilo itu di depan cermin. Berpose ke kanan dan ke kiri. Lalu setelah selesai, ia dengan yakin membawa sepatu itu ke bapak penjaga.Sebelum akhirnya menggamit sebuah bola yang ia pantulkan beberapa kali ke lantai.

“Ini juga deh.” Riza mengeluarkan kartu debit, lalu menenteng plastik berisikan sepatu dan bola.

“Yakin nggak salah beli?”

“Apa?”

Lania mengetuk-ngetuk plastik yang mmbungkus box sepatu.

“Apa? Neymar?”

Lania tertawa keras.

“Bancilona katamu.”

“Cuma sepatu latihan nggak apa-apa lah.”

“Iya nggak papa sih.” Lania dengan nada mengejek dan tersenyum menggoda.

“Apa?” Riza melirik. Lania makin kencang tertawa dibuatnya.

“Nggak apa-apa sayang, yang penting ini.” Riza lagi-lagi menunjukkan kedua tangan terbuka lebar ke depan wajah gadis itu.

“Sialan.” Lania membuang muka.

“La Decima.” Kali ini Riza berucap lantang dan penuh dengan tenaga. Diikuti suara cekikikkan yang mengganggu telinga Lania.



To be cont...

Bab 10 - Berdua

Baru sebulan terakhir Riza merasakan ia dan Lania penuh kecocokkan. Banyak bertemu, banyak mengobrol, pergi kemanapun berdua, di kantor pun masih sering mencuri-curi waktu membahas entah apa atau makan siang bersama. Riza dan Lania menjadi topik tak mengenakkan namun nekat makin pamer kemesraan yang tidak sedikit dari orang-orang sekitar mulai muak.

Pagi itu dua orang ini datang terlambat. Entah sengaja entah tidak, keduanya sudah merencanakan keterlambatan ini di malam hari, lalu esoknya berboncengan mengendarai motor beat karbu berwarna biru milik Lania hingga ke lingkungan trans, tepat berseberangan dengan kantor mereka yang dibatasi oleh jalan hauling. Keduanya berhasil menyeberang setelah menunggu hingga truk-truk besar bermuatan batu bara lewat. Hingga sarana-sarana kecil memperlambat gerakannya di titik tempat mereka berdiri lama. Keduanya berlarian seperti bocah, tentu saja sambil berpegangan, tertawa seolah debu-debu itu bukan lagi masalah. Tiba di pos security, keduanya diizinkan masuk setelah memasang wajah memelas. Berlarian kembali dari pos hingga ke office tanpa bersalah. Sambil terus bercengkerama namun genggaman mereka lepas, cukup tahu diri untuk tidak kentara. Dari kejauhan lebih kurang 10 meter dari tempat mereka berlari, bercokol segerombol orang yang meneriaki mereka di samping unit parkir. Teriakan yang bergema di udara, menembus lapangan kosong yang sampai ke telinga keduanya dengan amat jelas di beberapa kata. Dan Lania merekam itu di kepalanya, lalu tersenyum simpul kegirangan. Sesuatu yang cukup memalukan jika ditulis disini. Intinya, apapun yang terjadi selama itu berdua, dunia seakan tetap baik-baik saja.


**


 Jam makan siang keduanya bertemu kembali di depan office, berjalan beriringan menuju seberang jalan dekat tempat mereka memarkir motor. Ada warung kopi yang menyajikan indomie enak di sana. Melihat menu nasi kotak yang ah sudahlah, keduany sepakat memilih sedikit effort untuk makan di luar, walaupun saat siang bolong matahari amat terik dan debu makin tebal, mereka hirau. Lagi-lagi, selama berdua, semua jadi seperti tak apa.

“Pakai sayur.”

“Aku nggak.”

“Pakai.”

“Nggak mau.”

“Kamu lo kalau dikasi tau susah.” Riza mengoceh sembari melihat dengan tatapan penuh perhatian yang lagi-lagi Lania suka. Orang pertama yang peduli dengan apa yang ia makan, secara konsisten mengingatkan. Risih? Tentu tidak. Karena orang itu adalah Riza, orang yang bahkan kuku dan jemarinya Lania suka, sespesifik itu.


**


Waktu bertemu yang sepadat itu seolah belum cukup bagi keduanya, di usia hubungan yang belum lama, di masa-masa orang lain sedang sibuk mencemooh mereka, Riza justru membuat pergerakan lain, lebih kentara, lebih agresif. Ia memutuskan pindah kost yang tak jauh dari kost tempat Lania. Berjarak hanya beberapa rumah, dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Selain bertemu di kantor, bertemu saat di rumah pun mereka lakukan, setiap hari, tanpa kecuali. Bertemu setiap hari, dan jatuh cinta setiap hari adalah hal yang gak pernah bisa Lania bendung. Riza terlalu luar biasa baginya, sikap hingga polah tingkahnya, suara hingga barisan giginya, Lania selalu berandai, boleh ia terpenjara disana?

Malam sehabis bertemu di warung pecel lele di depan komplek, mereka masih berbincang via telpon. Masih tak cukup rasanya. Selalu ingin bertemu. Selalu ingin bersama. Riza yang selalu senang mengobrol, Lania yang tak pernah mengeluh mendengarkan. Pun sebalikny, Lania seringkali membuat Riza mendengarkan cukup lama. Setelah merasa cukup mengantuk, dan perdebatan tentang siapa yang terlebih dahulu menutup telpon, Riza akhirnya mengalah dengan menutup telpon terlebih dahulu.

“Iya deh, aku tutup ya.

“Ok, good night.”

“Eh bentar.”

“Apalagi?”

“Jangan lupa isi botolmu.”

“Mager yang, lampu sudah mati juga.”

Telpon terputus.

Beberapa menit kemudian Riza tiba di depan pagar, lalu kembali menelpon Lania. Dengan terburu-buru Lania berlari keluar sembari menggamit jaket beludru yang tergantung di belakang pintu. Menghampiri Riza yang sudah siap menyodorkan sebotol air mineral yang setelah ia serahkan langsung ia tinggal pergi. Beberapa langkah setelahnya Riza berbalik dan berteriak.

“Habisin!”

Lania berdebar kencang, hatinya tak keruan. Riza sulit ia kendalikan terus tumbuh dalam dirinya. 



to be cont...


Bab 9 Gayung

 Untuk pertama kali semenjak pindah, Lania sedikit lebih kenal dengan Dinda. Malam itu setibanya di kost, Lania dan Dinda berbincang di depan TV di ruang tengah. Lania berganti pakaian dengan dress pendek berwarna hijau andalannya, sedang Dinda dengan piyama floral yang masih baru. Lania membuat segelas kopi hitam, dan Dinda dengan serealnya. Kedua perempuan dengan tampilan dan selera yang berbeda.

“Kamu tau nggak Riza itu pernah naksir aku?” Sebuah obrolan pembuka yang nyaris membuat Lania menumpahkan kopinya.

“Oh ya? Serius?” Lania berpura-pura penasaran.

“Iya, dulu. Padahal dia tau aku pacar bosnya.” 

“Mas Pane?” 

“Iya, tau kan?”

“Kok dia berani?”

“Ya begitu deh, kayak sering ngechat, terus nanti ngerayu, gombal. Ah pokoknya gitu.”

“Kamunya gimana? Nggak suka?”

“Ya nggak lah, gila apa? Kan sudah ada cowokku.”

Lania mengangguk-angguk karena bingung merespon apa.

“Lagian Riza itu gayung tau.” Tambah Dinda. Lania mengerutkan kening pertanda tak paham dengan istilah itu.

“Semacam player gitu lah. Siapa aja diembat.” Kalimat yang menbuat Lania menelan ludah. 

“Oh gitu? Semua cewek single di kantor?”

“Hampir.”

Lania memundurkan kepalanya, memposisikan badanny sedikit bersandar pada sofa. Mendengarkan cerita Dinda yang dalam setengah jam sudah banyak mengeluarkan hal-hal yang bisa membuat Lania membayangkan bagaimana kota ini sedetail mungkin, berikut penghuninya.


**


Sepulang kerja, Lania langsung menuju dapur dan melirik makanan yang tersaji di meja. Mbak koki di kost memang juara, masakan yang dibuat tak pernah mengecewakan, setidaknya sebulan terakhir. Lania fokus melihat oseng tahu dan sawi putih yang dicampur dengan telur orek dan cabai. Mata Lania berkilat-kilat. Menu favoritnya. Ia berlari ke kamar, dan kembali dalam sekejap.

“Mbak Lan nggak mandi dulu?”

“Nanti saja mbak. Laper.” Langsung saja ia menyantap makanan itu tanpa peduli sekitar sedikitpun. Sampai akhirnya ponselnya berdering.

“Ya mas?”

“Dimana Lan?”

“Di kost.”

“Sibuk nggak?”

“Lagi makan. Ngomong aja.” Di balik telpon, Dharma bingung ingin memulai darimana. Lidahnya kelu, kalimat-kalimat yang ia rangkai sebelum menelpon tercekat. 

“Bener gosip itu Lan?” Lania yang tengah mengunyah sawi mendadak terhenti dan berpikir apa yang Dharma maksud. Namun itu tidaklah sulit. Hanya saja Lania tidak pernah berpikir bahwa Dharma akan tahu hal itu.

“Riza maksudmu?”

“Ya.” Sebagai teman lama Lania merasa tak perlu menyimpan rahasia dengan Riza.

“Iya mas.” Lania berbicara dengan nada setengah malu-malu.

“Kok bisa? Kamu kan baru pindah lan? Dan kamu nggak tau gimana dia.” Dharma berapi-api.

“Udah, sekarang kamu tinggalin dia. Dia nggak baik buat kamu.” Dharma semakin emosional saat ia ingat lelaki itu pernah mendekati Nona, bahkan belum lama ini.

“Tenang aja ma, aman kok.”

“Aman-aman gimana? Kamu sudah kena omongannya dia kayaknya.”

“Emang omongan gimana sih yang kamu bayangin?”

“Banyak. Yang pasti hal-hal taik yang bikin cewek bisa aja GR.”

“Kamu pikir aku orang yang semudah itu?”

“Ya siapa tau kali ini kamu lagi gila. Apalagi kudengar kamu udah berani pergi ke luar kota berdua.”

“Aku bisa jaga diri kok.”

“Lan, bahkan ke Nona aja dia berani. Nona lan. Pacarku. Kamu pikir deh.”

“Becanda kali ma.”

“Terserah kamu lah. Yang pasti aku sudah ngasih tau.” Telpon terputus.

Belum lama hubungan itu terjalin, sudah banyak kabar buruk perihal Riza. Dan dipikirkan bagaimanapun semua apa yang Lania dengar itu masuk akal. Ya, mungkin saat ini ia memang memilih orang yang salah, tetapi kesalahan itulah yang ia cari.



To be cont…


Bab 8 - Karaoke

Bisnis sedang tidak mudah, harga batu bara sedang tidak sabil. Imbasnya? Jam kerja dipangkas dan 75% karyawan dipulangkan lebih awal. Lania duduk di barisan tengah bus, sedang Riza di depannya. Sepanjang jalan dari hauling hingga jalan negara berkali-kali Riza mencuri-curi melihat ke belakang melalui sela-sela kursi. Namun, entah dipercobaan ke berapa keduanya berhasil mempertemukan sorot tepat jatuh di pupil satu sama lain. Hingga sulit keduanya menghindar dari salah tingkah yang untungnya mereka pikir tidak disadari sekitar. Pergerakan demi pergerakan dari Riza yang Lania cukup suka.

“Apa sih ja ngelirik-ngelirik kesini mulu.” Dinda yang duduk satu baris di belakang nyeletuk yang akhirnya membuat nyaris seisi bus menoleh.

Dengan rona malu Riza memutar kepalanya dan menghadap ke depan. Lania sulit menahan tawa, ia merasa itu cukup lucu namun ia jadi mengevaluasi, apakah memang bukan dia yang Riza lihat?

Bus berhenti tepat di depan jalan menuju kost Riza, namun ia memilih tidak langsung turun. Terus saja melaju hingga titik pemberhentian terakhir di tempat Lania biasa memarkir motor.

“Malam ini sibuk nggak?” Lania kaget karena tak sadar Riza mengekorinya hingga tempat parkir.

“Nggak sih.”

“Jam 8 ya, karaoke, ajakin temanmu yang lain.”

“Oh ok.” Lania tanpa pikir panjang mengiyakan. Bahkan ia tak tahu siapa saja yang akan ikut, atau apa saja yang mendasari Riza mengajaknya.


**


Riza mengirim pesan setengah jam sebelum berangkat.. Lania meluncur dari kost dan langsung menuju lokasi. Debarnya tak karuan menunggu saat-saat bertemu Riza, bukan kali pertama, tetapi rasanya masih sama.

“Mbak Lan, sini!” Dari depan pintu masuk seorang lelaki memanggil. Samar-samar baru Lania kenali ia adalah Kailani yang beberapa kali ia jumpai di kantor.

“Sendiri aja mbak?”

“Iya, Jeni kuajak nggak mau.”

Kailani merespons dengan anggukan dan senyum simpul.

Di salah satu sofa, Lania melihat sosok yang kurus, tinggi, berambut klimis dengan gel yang disisir rapi, fokus berbincang dengan perempuan di depannya, Dinda.

Lania dan Dinda saling menatap, keduanya terjebak dalam frekuensi canggung yang sulit dijelaskan.

“Kalian satu kost kan?”

“Iya.” Lania menjawab lirih.

“Kok nggak bareng aja?”

“Karena ga tahu dia ikut.” Suara Dinda datar namun tatapan matanya mengisyaratkan ketidaksukaan.

“Lebih tepatnya karena nggak akrab kali ya.” Lania melengkapi kalimat itu dengan tertawa seolah-olah itu lucu. Namun suasana jauh lebih canggung dibuatnya. 

Mereka berempat memesan sebuah ruangan small dan siap beradu lagu selama 120 menit. Lania duduk paling kiri, Dinda di tengah, lalu Kailani, dan paling kanan Riza. Tidak banyak pergerakan yang bisa dilakukan empat orang itu. Ruangan benar-benar pas. Sedari awal mulai, Riza dan Dinda beradu dengan lagu-lagu hits dari penyanyi luar. Sedang Kailani mahir dengan lagu-lagu band 2000-an. Kini giliran Lania, ragu-ragu ia memilih lagu favoritenya saat karaoke. Karena ia terbiasa dengan geng para penyamun yang karaoke benar-benar untuk hiburan dan jauh dari jaim. Kini ia kesulitan menentukan lagu apa yang pas dibawakan di depan orang-orang baru yang sudah memamerkan kebolehan menyanyi hingga selera musik yang menurut Lania, sorry, mainstream. Mainstream bagi anak-anak muda yang takut terlihat tidak keren. Melihat situasi itu, Lania mulai mencoba-coba memilih satu lagu.

Zaaaenaaal… Maafkanlah…

Lania memilih tidak melihat ke sekitar. Ia fokus menatap layar. Khidmat menyanyikan lirik demi lirik. Walaupun sulit ia merasa keren di situasi itu.

“Ah sial, nggak ada satupun yang excited dengan lagu dangdut yang seharusnya penuh keceriaan. Lania merasa minoritas.”

Bahkan di tengah-tengah lagu Dinda keluar, disusul Riza, beruntung Kailani tidak mengekori mereka pula. Zaenal usai, giliran lagu milik Dinda yang diputar namun perempuan itu belum jua kembali. Sekitar 2 menit lagu dimulai, Riza kembali lebih dulu, dan langsung membuat pergerakkan tak terduga, duduk tepat di samping Lania. Tepat setelah ia duduk, Dinda masuk dan merasa ganjil melihat itu. Walaupun Kailani sudah tidaklah kaget lagi.

Dari menit ke 34 hingga 120 menit habis, Riza dan Lania tak lepas memegang tangan satu sama lain. Tak peduli sekitar, tak peduli komentar. Ruangan kecil itu seakan hanya milik mereka berdua.


To be cont…




Bab 7 Pasangan

 Suara printer, hentakan stempel, dering telepon, bisingnya ruang pemotong besiklakson alat angkat yang lalu lalang, suara-suara karyawan yang saling beradu di udara membuat Lania yang kurang tidur semakin pusing dibuatnya. Pesan masuk di BBMnya.

“Aman saja kan?” 

“Sejauh ini aman.”

“Ga ada yang curiga?”

“Ga ada.”

“Baguslah.”

Hingga pukul 10 pagi, Lania merasa suasana di kantor masih kondusif terkait bolosnya ia dan Riza. Belum ada aliran protes atau bully yang mengganggu, padahal itu sudah ia prediksi.

Lania membawa tumpukkan dokumen ke gedung utama untuk difotocopy. Dan di belakang mesin fotocopy tepat tempat duduk Riza. Ia ingin mundur melihat kekasih barunya itu bercokol disana, tetapi dua orang CS yang duduk di lobby pasti akan merasa itu pergerakan yang aneh. Lania memberanikan langkahnya.

Memasukkan user dan password, meletakkan kertas, menekan tombol copy, semua dilakukan Lania dalam keadaan setengah berdebar. Apalagi tak lama suara khas Riza tiba-tiba memanggilnya. Lania merasa ada dalam halusinasi, namun itu nyata.

“Lan.”

“Lan.”

“Lan.” Pada panggilan ketiga barulah Lania menengok. Riza memperlihatkan tulisan besar dalam excel di monitornya.

“I LOVE YOU”

Lania membuang pandangannya dari sana ke arah Riza yang terlihat tersenyum kecil dan ekspresi menggoda, Riza lalu cepat-cepat mengganti layar ke tampilan lain agar tidak ada yang melihat. Lania geleng-geleng kepala. Ia senang sekaligus malu. Namun di sisi lain, ia tak terbiasa dengan polah tingkah sedikit menjijikkan itu. Tak terbiasa sekaligus tersentuh. Kerumitan dalam kepala Lania menyerang dalam sekali nafas.

“Cieee. Jadi udah resmi? Cie cie cie.” Dari ruangan Bu Hamidah, Jeni berteriak memecah konsentrasi para karyawan yang tengah fokus di kubikal. Semua akhirnya mengarahkan fokus pada kedua orang yang diduga menjadi pasangan baru itu. Bu Hamidah hingga berlari ke luar ruangan mengekori Jeni. Wanita hampir pensiun itu menghampiri Lania lalu mendorong-dorong gadis itu dengan penuh tenaga diikuti suara cie cie cie yang teramat mengganggu. Sedang Kailani yang baru tiba dari pantry berlari mendorong-dorong Riza. Suasana yang lebih mirip pembullyan terhadap anak SMP itu terjadi sekitar 10 menit, suasana mengganggu dan membuat keduanya resah. Apa yang tersiar saat mereka berdua menghilang?

 

**

 

Di kokunitas kecil makan siang para ibu-ibu, akhirnya Lania bergabung disana. Menyusun formasi di lantai beralaskan kardus, menyantap nasi kotak dengan berbagai keluhan, belum lagi tambahan topik ghibah lain yang membuat mata mereka berkilat-kilat. Lania merasa minoritas yang tersingkir disana. Menggunakan bahasa banjar dengan dialek Tanjung yang kental mereka melempar cerita-cerita yang tak dipahami Lania.

“Diva ngalih ai sudah. Harga pupurnya haja berapa?”

“Maka kijil banar mun bepandiran lawan kosong satu.”

“Sorang kada kawa telawani am mun kaitu.”

“Gaji sorang gasan maisi bensin hunda-nya haja kada mayu.”

“Han kalu bida level.”

Lalu semuanya tertawa bersamaan. Lania semakin bingung, namun tak berniat untuk mencari tahu sampai saat topik yang ia pahami dimulai.

“Lain lagi mun nang hanyar ni, langsung gas tedapat baung.” Tiwi memulai.

“Paling ha mancuba-cuba lakiannya, satumat ai bajauh pulang.” Isna menanggapi.

“Maka kulihat status biniannya ngintu baisi pacar disana.”

“Iyaleh? Bisa ai tuh gasan beramian jua. Jurang sama tih bededua.”

“Panyakit nang diulah ngintu.”

Kembali mereka tertawa keras dengan sesuatu yang bagi Lania tidaklah lucu.

“Apaan sih, taik.” Batinnya.



to be cont...

Bab 6 - Latar

Menemukan kehidupan lain dalam mata seseorang adalah kalimat bias yang gombal tetapi nyata dirasakan Lania sekarang. Riza yang penuh perhatian, penuh tanggung jawab, penuh cinta, seketika membuat Lania merasakan hal baru. Seperti jatuh cinta lagi dan lagi, setiap saat. Walaupun ia sulit merasakan sebahagia saat bersama Badawi, namun setidaknya secara logis sikap dan polah tingkah Riza jauh lebih baik. Sangat jauh.

Aku memang pernah lebih bahagia, tetapi tak pernah merasa sesempurna ini. Terima kasih.

Di perjalanan pulang, Riza dan Lania berbincang lebih banyak lagi. Perkenalan Lania dengan beberapa keluarga dekat Riza memang membuatnya sedikit mengerti gambaran kecil keluarga Riza. Dan itu nilai tambah bagi kekasihnya itu. Lelaki sederhana yang penuh tanggung jawab kepada keluarga yang punya beban menjadi anak pertama untuk adik-adiknya dan ibu yang harus menjadi buruh petik kopi di kampung. Riza adalah cara lain bagaimana Tuhan mengajari Lania tentang bentuk tanggung jawab, itulah yang Lania pikirkan di sela-sela obrolan mereka seputar keluarga.

Lalu, Lania pun tak enggan berbagi cerita seputar dirinya. Kehidupan menyebalkan yang ia lewati, masa kecil membagongkan, masa remaja penuh kegagalan, perjuangan hingga di titik sekarang. Namun, beberapa cerita ia biarkan tetap ada di kepalanya, hanya beberapa persen yang berani ia ceritakan. Termasuk perihal keluarga secara utuh.

“Ya, nanti kalau aku menikah dan misal suamiku harus pergi duluan dan aku punya anak, sebisa mungkin aku nggak akan menikah lagi.”

“Kenapa?”

“Ya aku nggak mau apa yang kejadian di aku, kejadian lagi di anakku.”

Riza menahan diri untuk bertanya lagi. Ia justru menghubungkan perkataan Lania dengan kejadian beberapa tahun silam. Ketika ibunya menikah lagi, rasanya seisi langit runtuh. Merasa dikhianati, merasa bersalah pada mendiang sang ayah, merasa sulit percaya pada siapapun, marah, kecewa, benci, pun sedih tak terbendung. Tak ada yang lebih menyakitkan dari itu. Dan sayangnya, tak ada yang bisa ia lakukan sedikitpun. Alasan sang ibu cukup masuk akal, semua adalah faktor ekonomi yang juga masih sulit ia penuhi sebagai sulung.

Gambaran masa depan dari Lania disertai sedikit cerita masa kecilnya membuat Riza merasakan perasaan menghangat. Latar yang mirip, kisah yang hampir serupa, membuat mereka berdua ada frekuensi yang sama. Membayangkan esok yang sama. Berdua. Dan, ia suka dengan jalan pikir Lania.

 

*

 

Bersama dengan sanak keluarga, Dave datang mengunjungi Bertha malam itu. Membawakan sebuah tiket dan bukti pemesanan travel agent, ia dengan sumringah menyampaikan tempat bulan madu mereka. Menceritakan rinci tempat tujuan hingga hal-hal seru yang bisa mereka habiskan. Bertha yang tengah menunggu telpon dari Riza menanggapi Dave dengan seadanya. Ia tak begitu antusias. Pikirannya terbagi di tempat lain.

“Kamu sehat kan?”

“Sehat, cuma agak ngantuk.”

“Mau istirahat sekarang?”

“Boleh?”

“Istirahat saja.” Dave beranjak dari teras dan membaur dengan keluarga lainnya di ruang tengah. Bertha bergegas ke kamar sebelum keluarga lain mencegatnya dengan banyak pertanyaan. Sayangny, Fitri ada disana. Perempuan itu mengekori Bertha ke kamarnya dan berusaha membaca situasi.

“Sampai kapan de?”

“Kamu sudah mau menikah.”

“Masih mau ingat-ingat si kampret itu?”

Bertha menggeleng, tatapannya kosong, ia merebahkan diri sebelum matanya memanas dan menangis. Ia menangisi entah apa. Hatinya sedih, terlebih melihat Dave yang berlaku teramat baik. Sedang dalam kepalanya masihlah menyimpan Riza, Riza, Riza yang tak pernah melakukan apapun saat ia akan dijodohkan.

"Kenapa dia nggak mau sedikit berusaha kak?”



to be cont...

Bab 5 - Dusta

 Udara panas Samarinda dilawan oleh semangkuk pisang  ijo dan seporsi coto plus iga bakar di sebuah warung makan. Sepanjang turun dari angkot, Riza enggan melepaskan genggamannya dari tangan Lania. Satu hal yang paling disukai Lania adalah ini, sentuhan. Lania merasa ketika kekasihnya melakukan itu di tempat umum menandakan ada sebuah deklarasi bahwa perempuan ini adalah milikku dan bagi Lania itu penting.

“Suka?” Riza mendapati Lania senyum-senyum sendiri saat Riza semakin kuat memegang tangannya. Lania mengangguk merespons itu.

“Sesuka itu sama aku?” Lania kembali mengangguk. Satu hal yang Riza sukai dari Lania, kejujurannya. Sedari awal mengenal gadis itu, Riza sudah disuguhi hal-hal tak terduga termasuk sikap Lania yang tak segan menunjukkan rasa suka dan bahagianya ketika bersama Riza.

“Aku nggak pernah kenal perempuan seceria kamu.” Itu yang meluncur dari mulut Riza kala itu.

 

*

 

Tiba di sebuah hotel, Lania dan Riza memutuskan memesan satu kamar sebelum Riza beranjak ke rumah omnya di kawasan Pasar Impres Baqa.

“Nanti kamu ikut ya.” Lania patuh.

Keduanya kembali menyusuri jalanan Samatinda menggunakan angkot hingga tiba di kediaman Om Ubed.

“Kapan sampai?”

“Barusan om.”

“Ini siapa?”

“Teman.”

“Disini tinggal dimana?”

“Di rumah keluarganya om.” Lania dan Riza saling pandang setelah Riza menjawab itu. Dalam pandangan itu ditemukan sandi-sandi kode yang menyiratkan mereka harus konpak dalam menjawab dan beberapa jawaban diantaranya adalah bohong.

“Keluarganya daerah mana?” Om Ubed menatap tajam pada Lania seolah menunggu jawaban itu langsung dari gadis itu.

“Loa janan om.” Cuma itu daerah yang Lania tahu tentang Samarinda, dan dengan spontan meluncur begitu saja dari mulutnya walaupun tetap dengan terbata-bata.

Tante Levi, istri dari Om Ubed mempersilakan mereka minum teh hangat dan menikmati kudapan berupa kacang atom buatannya sendiri. Dari tempat itulah awal mula muncul kebiasaan, Lania memakan bagian luar kacang atom, sedang Riza bagian kacangnya. Sebuah kolaborasi yang saling menguntungkan.

 

**

 

“Saudara di Loa Janan itu siapamu?” Om Ubed ternyata belum usai dengan pertanyaan-pertanyaannyya.

“Sepupu om.”

“Kerja dimana?”

“Di tambang om.”

“Suda lama disini?” Dan masih banyak lagi pertanyaan demi pertanyaan yang memaksa Lania berbohong lagi, berbohong lagi.

 

**

 

“Dia HRD loh di kantornya.”

“Serius?”

“Ya, paling nggak kebohongan tadi kentara.”

“Sinting ya kamu. Kenapa harus bohong sih.”

Riza mengangkat pundak, wajahnya tak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun.

 

*

 

Kabar kedatangan Riza dan Lania di Samarinda tersiar cepat hingga sampai ke telinga Bertha, entah darimana asalnya. Yang jelas kedatangan Riza dengan perempuan lain sebelum mereka benar-benar berpisah membawa awan hitam bahkah petir bagi Bertha.

“Nggak bisa banget ya kamu tunggu sebentar lagi?”

“Kenapa harus kamu pamer-pamerin di depan keluargamu?”

“Agustus itu nggak lama.”

Berkali-kali Bertha mencba menghubungi Riza, namun tak jua ia mendapat jawaban. Ketika kekesalah membuncah, keluarlah kalimat-kalimat tidak perlu yang bertujuan menyakiti hati Riza.

“Aku nyesel transferin kamu uang, aku pikir niatmu pergi untuk keluargamu, tapi malah sama cewek lain. Kamu seniat itu ya mau langsung move on?”

Tak jua pesan itu mendapat tanggapan, sementara Bertha menangis sejadi-jadinya. Ada ego yang terlukai, ego harusnya ia yang move on terlebih dahulu, karena ia yang lebih siap dengan perpisahan inj.

 

*

 

Saat sudah kelelahan menangis, Bertha tertidur dengan mata sembab. Ia tiba-tiba terbangun dengan nada pesan yang memang sengaja ia setting cukup nyaring. Pesan dari Riza.

“Nggak kok, dia cuma mau bareng aja kesini. Bukan siapa-siapa.

Dusta yang sedikit menenangkan Bertha.



To be cont...